JLT – Jurnal Linguistik Terapan Volume 1, Nomor 1, Mei 2011 Politeknik Negeri Malang ISSN: 2088-2025 ANALISIS MAKNA METAFORA BAHASA JEPANG: KAJIAN TERHADAP STRUKTUR MAKNA DAN NILAI‐NILAI FILOSOFI Esther Hesline Palandi Politeknik Negeri Malang ABSTRAK Penelitian ini dilatar‐belakangi fenomena perspektif stilistika dan estetika pada metafora. Ana‐ lisis menunjukkan interpretasi makna Metafora bisa juga dilakukan berdasarkan inter‐ tekstualitas antar teks maupun konteks dalam cerita. Temuan yang diperoleh adalah struktur makna Metafora, yaitu: versi Ricoeur (Nominal, Predikatif, dan Kalimatif), versi Wahab (Kom‐ parasional, Substitusional, dan Interaksional), dan versi Riffaterre (Displacing, Distorting, dan Creating of Meaning); serta nilai‐nilai filosofi Metafora, yaitu: Etos (etika (ethics) moral, sosial, dan kultural), Logos (logika (logic) kematian / kehidupan), dan Patos (emosional (pathy: simpa‐ ti dan empati) yang positif, negatif, dan relatif). Dapat disimpulkan Metafora memiliki struktur makna tertentu; dan merupakan citraan nilai‐nilai Moral, Sosial, Kultural, dan Emosional. Kata‐kunci: metafora, studi literatur, interpretasi, intertekstualitas, citraan, discourse (wacana), pragmatik, semantik, hermeneutik, semiotik. Dalam hal berkomunikasi lisan maupun tulis, bangsa Jepang sangat menyukai estetika atau keindahan dan daya‐tarik. Estetika atau keindahan dan daya‐tarik dapat ditemukan dalam warna, bentuk maupun bunyi. Hal tersebut dikarenakan sifat dan manifestasi kehidupan jiwa (batiniah) dapat dituangkan dalam wujud lahiriah. Artinya, kehidupan dapat diekspresikan dalam berbagai eksistensi warna, bentuk, dan bunyi; sehingga wujud lahiriah mencitrakan sifat / watak kehidupan. Hal ini dapat dibuktikan pada karya‐karya seni dan sastra yang memiliki style khusus, antara lain gaya metafora yang banyak digemari dan digunakan oleh para seniman dan sastrawan. Para sastrawan me‐ nyampaikan ide atau gagasan cerita dalam karyanya yang berisi teks & konteks, baik berupa narasi pe‐ ngarang maupun dialog para tokoh dalam cerita. Mereka menyampaikan ungkapan‐ungkapannya se‐ demikian rupa untuk menuangkan sifat dan mani‐ festasi kehidupan jiwa atau batiniah dalam bentuk lahiriah melalui karya‐karyanya. Fenomena inilah yang mendasari peneliti untuk mentransliterasikan ungkapan‐ungkapan dalam bentuk metafora, terutama dalam novel Norwei no Mori karya Haruki Murakami. Di samping itu pula, pemikiran bangsa Jepang dipengaruhi oleh filsafat Cina, yaitu konsep “Tao & Konfucianisme ”. Ajaran Tao yaitu kehidupan manusia yang ‘lemah‐lembut’ dalam bersikap dan berperilaku. Konfucianisme juga menekankan ajarannya agar manusia sebagai mahluk alam, lebih mementingkan hubungan dengan sesamanya. METAFORA DAN PENAFSIRANNYA Metafora secara umum didefinisikan oleh Elena Semino (1997:196), sebagai suatu fenomena simbolisme dari yang dipikirkan dan dikatakan me‐ ngenai sesuatu dan lainnya dalam keadaan bangun / sadar. Definisi atau penjelasan secara khusus di‐ sampaikan oleh Lakoff (1987:388), bahwa metafora adalah suatu ekspresi dari pemahaman satu konsep terhadap konsep lainnya, di mana terdapat ke‐ samaan atau korelasi antara keduanya. Petutur (pendengar/pembaca), dapat me‐ maknai Metafora melalui proses perjalanan dari pikiran (thought) menuju konfigurasi makna / propo‐ sisi 1 (proposition). Proses perjalanan ini menurut Goatly (1997:18) adalah: (1) sebagai perkiraan / penaksiran (approximative) ketika jarak antara thought dan proposition dekat , dan (2) sebagai penggantian / pemindahan (transfer) ketika jarak ter‐ sebut jauh . Contoh: 1 cabang ilmu bahasa yang menelaah konteks sosial dan budaya atau ancangan makna dari mental para penuturnya dan memiliki informasi makna yang kompleks 1