Jurnal Review Politik Volume 07, Nomor 01, Juni 2017 . ISSN: 2088-6241 [Halaman 99 – 125] . DARI RITUAL “YASIN 41” KE MARKETING POLITIK PADA PEMILUKADA: STUDI KASUS MAJELIS ZIKIR TATHMA‟INNUL QULUB Ziaulhaq Hidayat ziaulhaq.phd@gmail.com Abstract This article describes the involvement of Majelis Zikir Tathma‟innul- qulub (MZT) in the local leaders election in Medan, it’s also explain in general the majlis dhikr phenomenon in Indonesia’s political practice. This phenomenon is interesting since the involvement of majlis dhikr is uncommon in the political world—as commonly known, sufism possess different (spiritual) orientation. Thus, it describes the ritual of “yasinan and dhikr” from the beginning of election until the end as a “political ritual”. In addition, MZT also serves as a political market- ing—spiritual adviser as well as political consultant; while in the practical aspect, MZT involved in hidden and public campaign. However, the candidate supported by MZT was lost. This fact explains that political brand of sufism has no significant influence in politics practice. Keyword : “Political Marketing, Local election Abstrak Tulisan ini menggambarkan keterlibatan Majelis Zikir Tathma‟innul- qulub (MZT) dalam pemilihan pemimpin lokal dalam Pilwali kota Medan, namun fenomena ini juga menjelaskan secara umum fenomena majelis dzikir dalam praktik politik Indonesia. Realitas ini menarik karena keterlibatan majelis zikir tidak umum di dunia politik. Sebagaimana diketahui, sufisme memiliki orientasi (spiritual) yang berbeda. Tulisan ini menggambarkan ritual "yasinan dan Zikir" yang menjelma menjadi bagian penting proses kompetisi politik, dari awal pemilihan sampai akhir sebagai sebuah ritual politik. Dalm konteks ini, MZT menunjukkan peran dalam proses pemasaran politik, penasihat spiritual dan juga konsultan politik. Sementara dalam aspek praktis, MZT terlibat dalam kampanye tersembunyi dan kam- panye berskala publik. Namun, kandidat yang didukung oleh MZT mengalami kekalahan dalam kompetisi tersebut. Fakta ini menjelas- kan bahwa label politik sufisme tidak memiliki pengaruh signifikan dalam praktik politik. Kata kunci: “Yasin 41” Ritual, Marketing Politik, dan Pemilukada