1 Sejarah dan Konstruksi Identitas Nasional Politik Identitas dalam Pelajaran Sejarah Kurikulum 2013 Tingkat SMA Yohanes de Britto Wirajati Pascasarjana Ilmu Religi & Budaya Univ. Sanata Dharma Yogyakarta ydbwirajati.mirb@gmail.com ABSTRAK Analisis dalam atikel ilmiah ini bertujuan untuk memeriksa kembali proses konstruksi identitas nasional melalui pelajaran sejarah tingkat SMA yang berdasarkan Kurikulum 2013 (Kurtilas). Analisis akan dilakukan pada berbagai narasi yang termuat dalam buku pelajaran sejarah yang dipelajari oleh siswa SMA. Narasi sejarah yang akan disoroti terkait dengan tema-tema asal-usul dan identitas berbagai elemen sebuah negara, misal masyarakat, pemerintahan, wilayah, sampai dengan integrasi sosialnya. Pertanyaan yang akan dijawab adalah: (1) Masyarakat dengan identitas seperti apa yang ingin dibentuk? dan (2) Narasi sejarah macam apa yang digunakan? Dalam rangka menjawab pertanyaan penelitian tersebut, metode penelitian yang digunakan adalah Analisis Wacana Kritis (Critical Discourse Analysis) khususunya pada metode yang dikembangkan oleh Ruth Wodak, yaitu Discourse Historical Analysis. Teks Kurtilas dan buku pelajaraan yang berkaitan dengan pelajaran sejarah akan dianalisa secara mendalam agar dapat dipahami subtansinya. Hasil analisis menunjukkan bahwa; Pertama, Kurikulum tidak pernah netral. Oleh sebab itu dalam konteks Kurtilas, ada tiga kebutuhan yang ingin diakomodasi, yaitu pembelajaran atas budaya lokal, nasional dan juga perkembangan global. Kedua, Narasi tentang kesadaran nasional di Indonesia masih didominasi oleh pengaruh perkembangan pemikiran Barat (Eropa). Kesadaran nasional di Indonesia didudukan sebagai objek yang terdampak perkembangan pemikiran di Eropa. Ketiga, pembelajaran sejarah terkait identitas nasional berbasis Kurtilas masih belum komprehensif dan kontekstual. Hal ini dikarenakan narasi-narasi yang dipilih belum menyentuh isu sensitif (konflik SARA) yang merebak sekarang ini. Kata kunci: Pelajaran sejarah, Kurikulum 2013, Identitas nasional. PENGANTAR Mempelajari sejarah sama juga dengan mempelajari silsilah atau asal-usul. Sehingga, dalam konteks ini, mengajarkan sejarah dapat diartikan sebagai aktifitas mempelajari sebuah identitas tertentu. Mempelajari identitas sebagai definisi pembelajaran sejarah sesuai dengan arti etimologis dari kata sejarah itu sendiri. Secara etimologis, sejarah berasal dari bahasa Arab, syajarah, yang artinya silsilah (identitas). 1 Dalam kerangka berpikir yang seperti ini, maka mempelajari sejarah sebuah peristiwa, negara atau seorang individu adalah upaya untuk mengetahui asal-usul, identitas atau silsilah dari objek-objek pembelajaran tersebut. Namun muncul permasalahan ketika pembelajaran coba didekati dari sudut pandang yang lebih kompleks, yaitu politik kurikulum. Kurikulum adalah seperangkat pedoman 1 Abd. Rahman Hamid et al. (2011). Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta : Ombak.