Jurnal Pewarta Indonesia Vol 2, No 2 (2020) Persatuan Wartawan Indonesia 121 Jurnal Pewarta Indonesia Volume 2 No 2 – 2020, page 121-136 Available online at http://pewarta.org Jurnalisme Damai dalam Pembingkaian Berita Rasisme Mahasiswa Papua di Tribunnews.com dan Detik.com Sukma Alam 1 1 Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Budi Luhur Jl. Ciledug Raya, Petukangan Utara, Kec. Pesanggrahan, Jakarta 12260 - Indonesia e-mail Korespondensi: sukma.alam@budiluhur.ac.id DOI: https://doi.org/10.25008/jpi.v2i2.33 Submitted: 20 September 2020, Revised: 15 Oktober 2020, Published: 28 Oktober 2020 Abstract - This research examines racism cases against Papuan students in Surabaya. Papuan students were executed by mass organizations and local residents for allegedly damaging the red and white flag. The security forces took part in guarding the situation and were actually suspected of racist remarks about Papuan students until the national situation was hot, especially in Papua and West Papua. Of course, the media did not escape the incident to determine the attitude in a news. If the news does not consider conflict resolution or make the situation worse, this is where peace journalism emerges as a forum for peace and the end of conflict. This study aims, firstly, to find out the framing of tribunnews.com and detik.com in news of racism cases against Papuan students and secondly to find out about peaceful journalism in tribunnews.com and detik.com news related to racism cases against Papuan students. As a result, frames tribunnews.com and detik.com are both putting Papuan students as victims of racism and innocence. While the practice of peaceful journalism for tribunnews.com always tries to convey justice for Papuan students to solve these problems. While detik.com tries to convey reconciliation that the expression of racism concerns the Indonesian nation. Keywords: Peaceful Journalism, Framing, Papua Abstrak - Penelitian ini meneliti kasus rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya. Mahasiswa Papua dipersekusi oleh ormas dan warga sekitar karena diduga merusak bendera merah putih. Aparat keamanan ikut menjaga situasi justru diduga berujar rasis terhadap mahasiswa Papua hingga situasi nasional panas khususnya di daerah Papua dan Papua Barat. Tentu media tidak luput dari peristiwa tersebut untuk menentukan sikap dalam sebuah berita. Jika berita tidak mempertimbangkan penyelesaian konflik atau memperkeruh situasi menjadi panas maka di sinilah muncul jurnalisme damai ( peace journalisme) sebagai wadah perdamaian dan berakhirnya konflik. Penelitian ini bertujuan, pertaa, untuk mengetahui framing tribunnews.com dan detik.com dalam berita kasus rasisme terhadap mahasiswa Papua, dan kedua mengetahui jurnalisme damai dalam berita tribunnews.com dan detik.com terkait kasus rasisme terhadap mahasiswa Papua. Hasilnya, frame tribunnews.com dan detik.com sama-sama meletakan mahasiswa Papua sebagai korban rasisme dan tidak bersalah. Sementara praktik jurnalisme damai bagi tribunnews.com selalu berusaha menyampaikan keadilan bagi mahasiswa Papua untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Sedangkan detik.com berusaha menyampaikan rekonsiliasi bahwa ujaran rasisme menyangkut bangsa Indonesia. Kata Kunci: Jurnalisme Damai, Framing, Papua Pendahuluan Konflik antarsuku, agama, ras dan antargolongan (SARA) merupakan isu sensitif di Indonesia. Salah satu pemicu dan penyebab terjadinya konflik adalah rasisme. Rasisme merupakan bentuk kebencian (hatred) yang didasari oleh tidak saja warna kulit, melainkan suku, etnis dan agama (Jusuf dan Sriyanto, 2001:18). Hal tersebut sangat kontras melihat adanya perbedaan yang dianggap tidak sama. Apalagi rasisme berdampak pada kerususuhan massal. Survei yang diterbitkan koran the Washington Post itu menyebutkan sebanyak 30-39,9 persen penduduk Indonesia termasuk kategori rasis