Jurnal Inovasi Ramah Lingkungan (JIRL) Vol. 1, No. 1, Hlm. 23-27, 2018 23 Adsorpsi Ion Logam Cu(II) Menggunakan Karbon Aktif Nanopartikel Dari Cangkang Sawit Hasil Pirolisis Muhammad Faisal*, Abubakar, Sandi Putra Kelana, Dodi Eko Nanda Jurusan Teknik Kimia, Universitas Syiah Kuala *Email: mfaisal@unsyiah.ac.id Abstract Heavy metal contamination in the water has reached alarming levels. One source of contaminants in water is Cu (II). Cu (II) is one class of heavy metals that are harmful to human health. To eliminate Cu (II) in water, many methods has been implemented, one of the best and economical method is adsorption. The adsorbent used in the adsorption process made from oil palm shell waste products of pyrolysis modified to nanometer size with liquid smoke activation from palm shells pyrolysis. Some of variables such as the concentration of CuSO4 solution, contact time and agitation carried on the adsorption process. Activated carbon tested to determine the efficiency and adsorption capacity using Cu as sample. Concentration of Cu before and after adsorption was determined using AAS. The result of adsorption process shown that contact time, initial concentration, agitation and activation agent are conduct the efficiency and adsorption capacity. Nanoparticle activated carbon using liquid smoke as activation agent with contact time 60 minutes, initial concentration 30 ppm and agitation 200 rpm shown the best result with efficiency 97,5%. . Keywords: Activated carbon, nanoparticles, activator, Cu. Abstrak Kontaminasi logam berat pada air telah mencapai tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Salah satu sumber zat pencemar dalam air adalah ion Cu(II) yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Untuk menghilangkan ion Cu(II) dalam air, banyak metode yang telah dilaksanakan, salah satu metode terbaik dan ekonomis adalah adsorpsi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kemampuan adsorben dalam menyerap logam Cu(II), dan mempelajari kinetika serta isotherm adsorpsi. Parameter yang diuji untuk melihat kemampuan adsorpsi adalah waktu kontak, konsentrasi awal dan kecepatan pengadukan. Adsorben yang digunakan dalam proses adsorpsi adalah cangkang kelapa sawit sisa hasil pirolisis pada suhu 380 0 C yang dimodifikasi sampai berukuran nanometer dengan aktivator asap cair. Adsorben yang diperoleh diuji efisiensi dan kapasitas adsorpsinya pada penyerapan logam Cu pada proses batch dengan waktu kontak 30,60, 90, 120 dan 150 menit; konsentrasi awal 30, 60, 90, 120 dan 150 ppm; kecepatan pengadukan 100 dan 200 rpm. Konsentrasi awal logam Cu sebelum dan sesudah adsorpsi diuji menggunakan AAS. Hasil penelitian menunjukan bahwa waktu kontak, konsentrasi awal, pengadukan dan aktivator mempengaruhi efisiensi dan kapasitas adsorpsi. Karbon aktif nanopartikel hasil aktivasi asap cair pada waktu kontak 60 menit, konsentrasi awal 30 ppm dan pengadukan 200 rpm menunjukkan hasil terbaik dengan efisiensi penyerapan 97,5 %. Semakin besar konsentrasi awal maka efisiensi penyerapan logam Cu semakin berkurang. Kata kunci: Karbon aktif, nanopartikel, aktivator, Cu. 1. Pendahuluan Indonesia merupakan Negara berkembang dengan tingkat pencemaran lingkungan yang tinggi, terutama dalam menghasilkan logam berat sebagai limbah. Logam merupakan salah satu bentuk materi anorganik yang sering menimbulkan berbagai permasalahan yang cukup serius, bagaimanapun juga diantara berbagai macam pencemaran lingkungan, pencemaran air adalah permasalahan yang selalu menyita perhatian peneliti. Sumber utama pencemaran air berasal dari sektor industri (tekstil, karet, kulit, kertas, plastik, batu bara, makanan, petrokimia, farmasi dan industri pewarna) dan sektor perkebunan (penggunaan pestisida pada perkebunan dan pertanian). Di dalam tubuh manusia, logam berat juga dapat terakumulasi dan menimbulkan berbagai bahaya terhadap, kesehatan seperti penyakit kanker dan kerusakan pada ginjal [1]. Logam tembaga (Cu) banyak dihasilkan pada air buangan industri elektroplating, tekstil, galvanisasi dan pengekploitasian bijih-bijih alam. Logam tembaga telah ditetapkan oleh U.S. Environmental Protection Agency (EPA) sebagai salah satu logam yang berbahaya. Namun logam tembaga (Cu) juga merupakan mikronutrisi untuk semua makhluk hidup, tetapi dapat memberikan efek racun ketika kadar logam Cu melebihi batas yang telah ditentukan. Berdasarkan informasi yang dikeluarkan oleh U.S. Environmental Protection Agency (EPA), level kontaminasi maksimal (MCL) untuk Cu(II) adalah 1.3 mgL -1 pada air buangan industri [2, 3]. Banyak metode konvensional yang digunakan untuk menghilangkan logam berat dari larutan diantaranya adalah chemical precipitation, ion exchange, teknologi elektrokimia, membrane filtration, proses reverse osmosis dan adsorpsi [4]. Adsorpsi merupakan metode yang paling efektif dan paling ekonomis untuk menghilangkan logam berat dari limbah buangan air. Proses adsorpsi mampu menghasilkan pengolahan limbah cair berkualitas tinggi