1 Aspek Agama dalam Tradisi Seren Taun Studi Kasus di Cigugur 1 Oleh: Acep Aripudin & Reza Perwira Manusia merupakan human medium atau human relation yang memerlukan media untuk mengekspresikan dan mengaktualisasikan isi batinnya. Media dimaksud bisa lisan (lisan al-Qoul) maupun perilaku (lisan al-Hal) yang dipelajari dan dilestarikan hingga akhir hayatnya. Hanya orang kerdil saja yang mengandalkan sarana mengungkapkan isi pikir dan batinnya melalui lisan saja. Manusia tersebut jelas hanya menggunakan sarana otak kirinya saja yang sepi dan miskin perasaannya dalam mengaktualisasikan dirinya. Media paling ekspresif dan estetik yang biasa digunakan manusia dalam mengungkapkan dirinya ialah seni dan budaya, yang tidak lain merupakan produk dari perkembangan kehidupannya. Sangat mustahil di dunia ini ada manusia yang imun terhadap seni, meski sangat terbatas sekali. Pada masing-masing kelompok budaya masyarakat dapat ditemukan seni dan budaya yang beragam dan berbeda-beda. Seni budaya tersebut sangat erat hubungannya dengan agama. Bahkan, pada beberapa kasus seni menjadi bagian penting dalam urusan agama, seperti seni dijadikan sebagai media informasi agama dan media penyampaian pesan moral. Seni dan budaya substansinya memang hampir universal. Artinya, pada setiap kelompok umat manusia pasti memiliki aspek estetis itu dalam kehidupannya. Antropolog Clidy Cluchkhon dalam The Cultural Universal-nya bahkan memasukan seni sebagai elemen universal manusia, sehingga bisa dibilang tidak ada manusia di dunia ini yang hidup tanpa seni. 2 Seni biasanya dalam praksisnya menempel, bahkan including dari sebuah ritual keagamaan maupun ritual budaya pada masyarakat dunia sesuai dengan latarbelakang etnis dan sukubangsa masing-masing. Indonesia yang memiliki ragam budaya dan etnik sukubangsa itu menyimpan segudang khazanah seni budaya lokal yang mengiringi perkembangan etnis sukubangsa itu, antara lain upacara Seren Taun dan Mapag Taun masyarakat Sunda buhun maupun kini. Penelitian tentang upacara ritual ini, berusaha menjawab tentang pertanyaan- pertanyaan seperti, apakah ada perbedaan upacara Seren Taun di suatu lokasi dengan lokasi berbeda? Apakah upacara Sren Taun dan Mapag Taun ini termasuk kategori kasus, sehingga layak distudi kasus hubungannya dengan studi seni-budaya keagamaan? Bagaimana proses upacara dilakukan? dan bagaimana fungsinya dalam kehidupan masyarakat? Semua pertanyaan-pertanyaan tersebut akan dapat dijawab dalam makalah singkat ini !! Ritual Seren Taun Menurut pengamatan D.S Ahimsa pada masyarakat Kampung Cikondang Bandung Selatan, Tradisi upacara Seren Taun (penyerahan tahun) dan Mapag Taun (menjemput taun) merupakan bentuk ungkapan rasa syukur sebagian masyarakat Sunda kepada leluhur atas karunia, kesejahteraan dan ketentraman yang dilimpahkan Allah Swt, sehingga dapat melewati tahun lalu dan tidak kurang sesuatu apapun. 3 Bentuk ungkapan perasaan tersebut melahirkan konsep Seren Taun. Mereka juga mengharap situasi dan kondisi serupa pada tahun mendatang, kemudian melahirkan 1 Makalah ini dipresentasikan pada Seminar Penelitian Case Study 26 Nop 2015 2 A. Aripudin, Dakwah Antarbudaya, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya, 2013. 3 D.S Ahimsa, Seren Taun dan Mapag Taun dalam Tradisi Masyarakat Cikondang, Kuningan, tt.