18 HUBUNGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF TERHADAP PERKEMBANGAN BAYI USIA 6-9 BULAN DI DESA PODOSOKO KECAMATAN SAWANGAN KABUPATEN MAGELANG TAHUN 2013 Siti Fadhilah, Yustina Ananti, Puji Rahayu STIKes Guna Bangsa Yogyakarta ABSTRACT Background : Breastfeeding is a natural process and is very beneficial for the baby. Babies who are breastfed are generally grown rapidly in the first 2-3 months of life, but more slowly than infants who are not exclusively breastfed . Mother's Milk can satisfy all the basic needs of the child to grow and develop, both physical-biomedical needs (Foster) ,the need for affection/emotion (compassion), and the need for stimulation(teaser). Objective: To determine the relationship of exclusive breastfeeding on the development of infants aged 6-9 months. Methods: The research method used is analytic correlation with cross-sectional approach. The sampling method in this study is purposive sampling with a sample size of 80 respondents. Results : There is a corelation between exclusive breastfeeding on the development of infants aged 6-9 months at the Podokoso Village Sawangan District of Magelang 2013 with a p value of 0.000 ( 0.000 < 0.05 ). Conclusion : There is a corelation between exclusive breastfeeding on the development of infants aged 6-9 months. Keywords : Exclusive breastfeeding, Infant Development Age 6-9 Months PENDAHULUAN ASI merupakan salah satu sumber makanan terbaik bagi bayi yang baru lahir karena memiliki begitu banyak zat penting yang bagus guna meningkatkan kekebalan tubuh terhadap penyakit (Kodrat, 2010). ASI Eksklusif adalah pemberian ASI saja sejak bayi dilahirkan sampai sekitar usia 6 bulan. Selama itu bayi tidak diharapkan mendapatkan tambahan cairan lain seperti susu formula, air jeruk, air teh, madu, air putih. Pada pemberian ASI eksklusif bayi juga tidak diberikan makanan tambahan seperti pisang, biskuit, bubur bayi, bubur nasi, tim, dan sebagainya. ASI eksklusif diharapkan dapat diberikan sampai 6 bulan. (Sidi, dkk, 2004). Pemberian ASI merupakan suatu proses yang alamiah dan sangat menguntungkan bagi bayi. Menciptakan pemberian ASI sejak hari pertama tidak selalu mudah karena banyak wanita menghadapi masalah dalam melakukannya. Keadaan yang sering terjadi adalah wanita tidak mau memberikan ASI pada bayinya. (Roesli, 2002; Verney, dkk, 2007) Hal ini membuat ibu berpikir mereka tidak mau memberikan ASI sehingga ibu sering mengambil langkah berhenti menyusui dan menggantikannya dengan susu formula. Ibu yang merasa takut dan menghindari menyusui, akibatnya akan terjadi pembendungan dan statis ASI karena akan mengurangi isapan bayi pada payudara maka jumlah ASI yang dikeluarkan sedikit (Ayudiah, 2004). Data SDKI tahun 2010 terhadap pemberian ASI menunjukkan bahwa 32% bayi di bawah umur 6 bulan mendapat ASI ekslusif, selebihnya ASI diberikan bersama susu lainnya atau bersama makanan padat. Pada umur 6-9 bulan, sebesar 14% bayi tidak lagi diberi ASI dan 75% mendapat makanan tambahan. Hal ini menunjukkan bahwa minuman selain ASI dan makanan pengganti ASI sudah mulai diberikan pada usia dini. Rendahnya pemberian ASI dapat menjadi ancaman bagi Tumbuh Kembang Anak (TKA), sedangkan kandungan ASI kaya akan karetonoid dan selenium, sehingga ASI berperan dalam sistem pertahanan tubuh bayi untuk mencegah berbagai penyakit. Setiap tetes ASI juga mengandung mineral dan enzim untuk pencegahan penyakit dan antibodi yang lebih efektif dibandingkan dengan kandungan yang terdapat dalam susu formula, sehingga jika anak mendapatkan ASI bisa dihindarkan dari kematian yang seharusnya tidak perlu. Susu formula dapat meningkatkan resiko terjadinya asma dan