66 Jurnal Gama Societa, Vol. 2 No. 1, Mei 2018, 66-72 PENGUJIAN DAMPAK SISTEM INSENTIF DAN ORIENTASI KOGNITIF TERHADAP KINERJA KELOMPOK: STUDI DI INDONESIA Siti Muslihah 1 , Sakina Nusarifa Tantri 2 1,2 Program Studi Akuntansi/Departemen Ekonomika dan Bisnis/Sekolah Vokasi/Universitas Gadjah Mada, Indonesia Email: 1 siti.muslihah@ugm.ac.id Email: 2 sakina.tantri@ugm.ac.id ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kinerja individu berdasarkan orientasi kognitifnya terhadap sistem insentif. Penelitian ini mengacu pada penelitian terdahulu (Naranjo-Gil et al., 2012) yang menguji hal serupa dengan kebaruan bahwa penelitian ini dilakukan di Indonesia yang memiliki kultur berbeda dengan negara asal penelitian terdahulu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni studi kasus dengan responden mahasiswa berlatar belakang bidang ekonomi. Penelitian ini menghasilkan beberapa kesimpulan. Pertama, perilaku individu dalam menyelesaikan tugas cenderung sesuai dengan orientasi kognitif yang mereka miliki. Kedua, kelompok dengan orientasi kognitif individualis memberikan kinerja yang berbeda dengan kelompok yang memiliki orientasi kognitif kolektivis ketika diberikan insentif dengan sistem team-based structure. Ketiga, kelompok dengan orientasi kognitif individualisme memberikan kinerja yang berbeda dengan kelompok yang memiliki orientasi kognitif collectivism ketika diberikan insentif dengan sistem individual-based structure. Sistem pemberian insentif yang paling tepat digunakan untuk meningkatkan kinerja kelompok dengan memperhatikan orientasi kognitif anggota kelompok adalah sistem insentif kelompok. Kata kunci: akuntansi, individualisme, insentif, kolektivisme, studi kasus. PENDAHULUAN Latar Belakang Organisasi memiliki tujuan untuk selalu meningkatkan kinerja dan mempertahankan kelangsungan kegiatan usahanya. Mempertahankan dan mengembangkan keunggulan kompetetif selalu dilakukan agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai. Salah satu strategi yang dilakukan organisasi untuk mempertahankan dan mengembangkan keunggulan kompetetitifnya adalah dengan menerapkan struktur kinerja berbasis kelompok (Chenhall, 2008). Individu memiliki keterbatasan dalam pengembangan dan pemecahan masalah yang kompleks. Struktur berbasis kelompok diharapkan memberikan kontribusi yang lebih baik jika dibandingkan dengan struktur individu. Hal tersebut dikarenakan di dalam struktur kelompok memungkinkan terjadinya koordinasi dan kooperasi dalam setiap proses dan tindakan agar organisasi lebih feksibel sehingga dapat mencapai tujuannya dengan lebih baik (Towry, 2003). Pemecahan masalah dan pencapaian target kinerja dalam kelompok dapat dilakukan lebih optimal karena terjadi pertukaran dan kontribusi ide serta diskusi antaranggota kelompok. Akan tetapi pada praktiknya, struktur berbasis kelompok tidak selalu memberikan jaminan dapat meningkatkan kinerja organisasi. Kelompok yang terdiri atas beberapa individu juga rentan terhadap konfik antaranggota kelompok. Perbedaan latar belakang, orientasi, tujuan individu, dan kepentingan, membuka peluang terjadinya konfik sehingga mengakibatkan kinerja kelompok menjadi tidak optimal. Peluang konfik dalam pengambilan keputusan dapat mengakibatkan kinerja menjadi kurang optimal dan buruk (Denison, et al, 1996). Namun demikian, kinerja kelompok harus dapat berlanjut dan meningkat. Salah satu yang dapat memotivasi kinerja kelompok adalah adanya sistem insentif kolektif (kelompok). Sistem insentif kolektif diyakini dapat memotivasi kinerja dan mengurangi potensi pelalaian terhadap kinerja kelompok dari masing-masing individu di dalam kelompok tersebut (Kelly, 2010). Hanya saja, di samping sistem insentif kolektif yang diterapkan, dalam organisasi juga menerapkan sistem insentif individu. Oleh karena itu, terkadang memunculkan persaingan dan konfik antarkaryawan, alih-alih meningkatkan semangat kebersamaan, kooperasi, dan menciptakan lingkungan yang kondusif dalam kelompok (Parker, et al, 2009). Hofstede (1980) menyatakan bahwa orientasi kognitif manusia dapat dikategorikan menjadi