1 DHARMA WARNANA PURA DALEM CELUK. IDA BAGUS BAJRA.YDK-Bali.05.2019 BAB I PENDAHULUAN Om awighnam astu namā śidyam. Sembah pengaksama kami kehadapan Bhatara Hyang Mami yang bergelar Ongkara Hradaya Namah Swaha, Sunia Loka, Sida Loka Suara. Anugerahkanlah hamba atau ijinkan hamba menceritakan segala masa lalu yang telah tertulis dalam lepihan tembaga dan lontar yang sudah suci menyatu dengan Hyang Widhi, Om Bhur, Bhuwah, Swah semoga tidak berdosa, terikat usana, semoga tidak alpaka dari penciptaan Sang Hyang Purwa Tattwa, begitu juga dengan seketurunan hamba, bebaskanlah hamba dari alpaka kehadapan Ida Hyang Widhi, lara wigraha mala papa pataka, bisa terbebas dari kutukan Sang Hyang Widhi, membicarakan masa lalu, sekarang dan yang akan datang, juga menemukan kebahagiaan sekala niskala atau lahir bathin, anugerahkanlah hamba agar sempurna menemui panjang umur, kebahagiaan untuk keluarga dan alam semesta. Buku Dharma Warnana Pura Dalem Desa Adat Celuk disusun karena dorongan yang sangat kuat guna melakukan pencatatan tentang keberadaan Desa Adat Celuk dan Pura Dalem Desa Adat Celuk dari jaman ke jaman serta berbagai usaha masyarakat Adat Celuk menjaga kekuatan spiritual Desa Adat Celuk. Dharma Warnana, berasal dari kata Dharma yang berarti Kebenaran, Warna yang berarti fungsi utama dan Hana yang artinya Keberadaan atau Sejarah. Bila digabungkan menjadi "Sejarah beserta fungsi utama Pura Dalem Desa Adat Celuk yang mengandung kebenaran". Keberadaan Pura Dalem Celuk dan Desa Adat Celuk akan coba dipaparkan sesuai dengan jamannya, agar pembaca tidak tersesat dalam memahami sejarah keberadaan Pura Dalem dan Desa Adat Celuk, budaya, agama dan tata kehidupan dari waktu ke waktu hingga sekarang. Tantra Samuccaya memaparkan dengan sangat jelas bahwa semua pura yang dibangun di Bali, besar maupun kecil selalu dibangun di daerah yang dianggap mengandung kesucian. Sastra kuno ini kemungkinan yang mendasari konsep pembangunan pura-pura di Bali selalu dibangun di daerah-daerah mata air, di tepi sungai, tepi danau, tepi pantai, campuhan, di muara sungai, di puncak bukit atau gunung, lereng pegunungan, dekat pertapaan, di desa-desa dan di kota- kota, atau tempat lain yang bisa menciptakan suasana bahagia bagi umat. Departemen Agama Provinsi Bali pernah mendata pada tahun 2012, jumlah keseluruhan pura di Bali berjumlah 6.002 pelebahan, terdiri dari 4.356 Pura Kahyangan Tiga dan 723 pelebahan Pura Kahyangan Jagat dan tidak terhitung jumlahnya pura-pura Pemaksan, Swagina dan Paibon. Seorang ahli Purbakala yang bernama Bernet Kempers pernah melakukan penelitian terhadap pura- pura di Bali kemudian memberikan julukan fantastis Bali sebagai Land of One Thousand Temples, sehingga Bali menjadi satu-satunya tujuan wisata yang menggabungkan unsur alam, budaya, seni, ekonomi, sejarah menjadi satu