JURNAL TEKNIK ITS Vol. 5, No. 2, (2016) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) A416 AbstrakSemakin berkembangnya tingkat kepadatan penduduk, maka kebutuhan akan lahan semakin meningkat dan menyebabkan berkurangnya lahan yang tersedia. Untuk memaksimalkan lahan yang ada, maka dilakukan pembangunan secara vertikal, mulai dari bangunan perkantoran, fasilitas belanja, hingga tempat hunian. Pembangunan secara vertikal ini merupakan sebuah hal yang kompleks di mana memerlukan penanganan yang khusus untuk menyajikan informasi mengenai kepemilikan atas suatu obyek. Kadaster 3 dimensi merupakan solusi yang tepat untuk mengatasi kompleksitas dari obyek yang kompleks tersebut. Kadaster 3 dimensi merupakan sistem kadaster yang melakukan pendaftaran (register) dan memberikan gambaran pada hak atau kewenangan (right) serta batasan- batasan (restriction), tidak hanya pada persil tanah, tetapi juga pada unit properti 3D. Kadaster 3 dimensi dapat digunakan untuk mengatasi keterbatasan yang dimiliki oleh kadaster 2 dimensi, di mana pendekatan dengan kadaster 2 dimensi yang terfokus pada obyek berupa persil tanah. Dalam pembuatan obyek 3 dimensi, dapat dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak SketchUp Make dan ArcScene, sementara untuk proses pengolahan basis data digunakan perangkat lunak khusus pengolah basis data. Dalam pembuatan informasi kadaster 3 dimensi diperlukan informasi spasial dari obyek dan informasi atribut berupa pemegang hak dari obyek yang dikenai hak. Untuk melakukan penggabungan antar informasi spasial dengan informasi atribut dapat dilakukan dengan menggunakan perintah relate database. Berdasarkan pembuatan informasi spasial 3 dimensi yang telah dilakukan, maka diperoleh sebuah informasi kadaster 3 dimensi yang disajikan dengan menggunakan perangkat lunak ArcScene. Selain itu diperoleh informasi berupa pemanfaatan ruang di Rumah Susun Grudo sendiri, untuk setiap satuan rumah susun memiliki luas sekitar 25,305 m 2 , bagian bersama memiliki luas 1582,030 m 2 dan benda bersama luas sekitar 620,124 m 2 . Kata KunciBasis data, Spasial 3D, Kadaster 3D I. PENDAHULUAN EMAKIN berkembangnya tingkat kepadatan penduduk, maka kebutuhan manusia akan lahan pun semakin meningkat. Dengan semakin meningkatnya kebutuhan akan lahan ini, maka jumlah lahan yang tersedia pun dari tahun ke tahun semakin berkurang. Adapun penggunaan lahan tersebut bisa berupa bangunan perkantoran, fasilitas belanja, fasilitas umum hingga tempat hunian. Untuk mengatasi permasalahan semakin sempitnya lahan untuk dilakukan pembangunan, maka salah satu solusi yang diterapkan adalah dengan melakukan pembangunan secara vertikal. Dengan melakukan pembangunan secara vertikal, maka penggunaan lahan dapat dioptimalkan, dimana pembangunan tidak hanya dapat dilakukan di atas permukaan tanah, melainkan juga dibawah permukaan tanah. Pembangunan secara vertikal ini tentunya merupakan sebuah hal yang kompleks dimana di dalamnya juga memerlukan sebuah sistem informasi mengenai kepemilikan atas suatu ruang di bangunan tersebut. Kompleksitas dari pembangunan secara vertikal tersebut tentunya akan sulit untuk dilakukan dengan pendekatan dua dimensi, atau terfokus pada persil tanah. Pendekatan dua dimensi sendiri memiliki keterbatasan, diantaranya pada tidak adanya informasi spasial dalam bentuk ruang dari hak-hak yang terdaftar, sehingga tidak diketahui apakah properti tersebut merupakan konstruksi yang berada di atas ataupun dibawah permukaan tanah. Untuk mengatasi keterbatasan dari pendekatan dengan dua dimensi (2D) tersebut, maka dilakukan pendekatan dengan tiga dimensi atau kadaster tiga dimensi (3D) untuk mengakomodasi aspek ruang dari properti-properti yang kompleks tadi. Kadaster 3 dimensi merupakan sistem kadaster yang melakukan pendaftaran (register) dan memberikan gambaran pada hak atau kewenangan (right) serta batasan- batasan (restriction), tidak hanya pada persil tanah, tetapi juga pada unit properti 3D. [1] Dalam pembuatan kadaster 3 dimensi, diperlukan pembuatan obyek 3 dimensi. Dalam pembuatan obyek 3 dimensi, dapat dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak untuk pemodelan seperti SketchUp Make maupun perangkat lunak untuk pemodelan 3 dimensi lainnya. Selain menggunakan perangkat lunak untuk pemodelan 3 dimensi, diperlukan juga perangkat lunak pengolah basis data yang akan digunakan untuk penyimpanan data atribut atau data tekstual. Setelah kedua komponen tersebut terbentuk maka diperlukan sebuah metode atau cara untuk menghubungkan antara obyek 3 dimensi tersebut dengan basis data yang dimiliki, sehingga terbentuklah informasi kadaster 3 dimensi yang mampu menjelaskan hak-hak maupun status terhadap suatu ruang yang terdapat pada suatu bidang tanah. Oleh karena hal tersebut, maka penelitian ini dilakukan untuk membuat suatu informasi spasial dalam bentuk 3 dimensi, di mana nantinya informasi spasial 3 dimensi ini mampu memberikan informasi mengenai kepemilikan suatu ruang serta Dian Pratama Eka Putra, Yanto Budisusanto Jurusan Teknik Geomatika, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia e-mail: yanto_b@geodesy.its.ac.id Pembangunan Informasi Spasial 3 Dimensi untuk Pemanfaatan Kadaster 3 Dimensi (Studi Kasus: Rumah Susun Grudo Surabaya) S