Peran Kapital Sosial dalam Meningkatkan Kesejahteraan Anggota Paguyuban: Studi Kasus pada Ikatan Silaturahmi Keluarga Putra Bengawan (IKPB) 8 E M P A T I: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 2 No. 1 Juni 2014 Peran Kapital Sosial dalam Meningkatkan Kesejahteraan Anggota Paguyuban: Studi Kasus pada Ikatan Silaturahmi Keluarga Putra Bengawan (IKPB) Ahmad Zaky Abstrak Perpindahan penduduk dari desa ke kota disebabkan oleh pembangunan yang tidak merata di Indonesia, di mana seluruh faktor pembangunan terpusat dan tumbuh hanya di daerah perkotaan, mulai dari pusat pemerintahan, perekonomian, pendidikan, serta pariwisata. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor penarik bagi sebagian masyarakat desa untuk berbondong-bondong pergi ke kota. Dengan minimnya pengetahuan, keahlian dan aset (modal), mereka rentan mengalami permasalahan sosial di kota tujuan mereka. Dalam kondisi inilah Ikatan Silaturahmi Keluarga Putra Bengawan (IKPB), sebagai perkumpulan masyarakat Jawa yang ada di Kelurahan Cempaka Putih Ciputat, menjadi wadah saling tolong menolong sesama anggota yang memiliki permasalahan sosial. Dengan membangun kepercayaan (trust), jaringan wirausaha (networking), serta saling memberikan pertolongan (resiprositas), paguyuban ini mampu menjadi jaring pengaman sosial yang mewadahi seluruh anggota untuk mengatasi beragam permasalahan sosial. Key words: kapital social, trust, networking, resiprositas, budaya Jawa, permasalahan sosial. Pendahuluan Pembangunan nasional selama ini berorientasi pada pertumbuhan ekonomi (economic growth), yaitu pola pembangunan yang mengejar pertumbuhan di sektor ekonomi, dengan berasumsi bahwa semakin tinggi pertumbuhan ekonomi, maka akan semakin memberikan tetesan kesejahteraan ke bawah bagi masyarakat miskin (trickle down effect). Namun, harapan tersebut tidak dapat terealisasikan, dan justru terjadi sebaliknya dengan semakin lebarnya ketimpangan sosial antara masyarakat perkotaan dan pedesaaan. Yang mendapatkan kue pembangunan hanyalah segelintir orang yang dekat dengan sumber-sumber kekuasaan (politik) dan kelompok konglomerat (ekonomi). Sehingga pembangunan hanya terjadi di kota-kota besar pada seluruh sektor usaha dan jasa, sedangkan pembangunan di desa masih sangat lambat dan bahkan mengakibatkan kemiskinan, pengangguran, ketimpangan sosial, serta berbagai permasalahan sosial yang begitu kompleks. Dengan pola pembangunan yang tidak berkembang di pedesaan, masyarakat pedesaaan terdorong untuk mengadu nasib ke kota-kota besar. Mereka pergi meninggalkan tempat kelahiran seraya berharap memperoleh kehidupan yang lebih baik dan sejahtera, walaupun hanya berbekal tekad dan persiapan seadanya, seperti pendidikan yang rendah, keahlian yang tidak memadai, serta pengetahuan yang terbatas. Kota Jakarta menjadi salah satu tujuan migrasi masyarakat pedesaan. Tak heran kalau Kota Jakarta menjadi tujuan utama migrasi; selain sebagai ibu kota negara, Jakarta merupakan kota yang paling maju