Prosiding Seminar Nasional PENGUATAN PENGAJARAN DAN PENELITIAN PERUBAHAN IKLIM : BRIDGING GAP IMPLEMENTASI KEBIJAKAN MITIGASI DAN ADAPTASI DI TINGKAT NASIONAL DAN SUBNASIONAL Jakarta, 31 Agustus-1 September 201 69 Rita Diana *) , Deddy Hadriyanto *) , Dinillah Tartila *) *) Peneliti Pusat Pengkajian Perubahan Iklim Universitas Mulawarman Email: ritdhy@gmail.com ABSTRACT One of the important aspect in climate change issue is how to develop quantitatively and predictably the atmospheric carbon dioxide sequestration by soil and vegetation. This particularly important in mangrove and shoreline area covered by water and thin forest layer. This research aimed to understand the carbon dioxide flux in nypa (mangrove palm) and soil layer of Mahakam Delta. Transect method of 125 m distance was applied in nypa vegetation in Saliki, Muara Payang and Sei Balok of Mahakam Delta. There were 24 plots in each of these three locations where trenched and untrenched points were applied to differentiate between autotrophic and heterotrophic environment. Plots were measured every month within 9 months period. Result indicated by average that highest heterotrophic level was in Sei Balok of 0.21 ppm compared to 0.15 as the lowest in Saliki. Meanwhile, the average autotrophic carbon dioxide flux was in Sei Balok of 0.21 ppm and the lowest was in Saliki of 0.19 ppm. Overall, however, the level of heterotrophic was found higher than that of autotrophic. This is therefore heterotrophic activities proved as higher in carbon dioxide flux due to biotic activities so that preventing deforestation and creation of fish ponds need to be minimalized or reduced coupled with rehabilitation in Mahakam Delta. Keywords: CO 2 flux, nypa vegetation, mahakam delta ABSTRAK Salah satu aspek penting dalam kajian perubahan iklim salah satunya adalah bagaimana mengembangkan secara kuantitatif dan prediktif penyerapan karbondioksida (CO 2 ) dari atmosfer oleh tanah dan tegakan hutan. Hal ini akan lebih penting lagi pada kawasan mangrove dan pantai yang relatif tertutup oleh genangan air dan tegakan hutan yang relatif sedikit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fluks karbondioksida pada kawasan daratan Delta Mahakam khususnya pada tegakan nipah. Penelitian ini menggunakan metode transek dengan panjang 125 m pada areal tegakan nipah hutan mangrove di Delta Mahakam pada tiga lokasi yang berbeda yaitu Saliki, Muara Payang dan Sei Balok. Pada masing-masing lokasi dibuat 24 plot dari setiap plot ditentukan kembali plot mana yang dipasangkan tranch dan tanpa tranch ini untuk membedakan plot autotrofik dan heterotrofik. Pengukuran dilakukan setiap bulan selama 9 bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fluks karbondioksida rataan heterotrofik tertinggi adalah pada lokasi Sei Balok 0,21 ppm dan terendah pada Saliki 0,15 ppm. Sedangkan rataan fluk karbondioksida autotrofik tertinggi adalah pada lokasi Sei Balok 0,21 ppm dan terendah Saliki 0,19 ppm dan disimpulkan bahwa fluk karbondioksida pada heterotrofik lebih tinggi dibanding autotrofik. Hal ini membuktikan bahwa aktifitas biota menyebabkan fluks karbondioksida menjadi lebih tinggi. Dengan demikian deforestrasi untuk pembuatan tambak perlu diminimalisir dan harus ada usaha meningkatkan rehabilitasi di kawasan Delta Mahakam. Kata Kunci: Fluks CO2, Tegakan Nipah, Delta Mahakam I. PENDAHULUAN Sekitar 3 juta ha hutan mangrove tumbuh di sepanjang 95.000 km garis pantai Indonesia. Jumlah ini merupakan 23% dari seluruh ekosistem mangrove di seluruh dunia, FLUKS CO 2 PADA TEGAKAN NIPAH DI DELTA MAHAKAM KALIMANTAN TIMUR (CO 2 Flux in Mangrove Palm Vegetation in Mahakam Delta East Kalimantan)