166 | JURNAL ILMU BUDAYA Volume 6, Nomor 1, Juni 2018 E-ISSN: 2621-5101 P-ISSN:2354-7294 PENGUNAAN BAHASA TERNATE DALAM SASTRA LISAN DAN ACARA RITUAL KEAGAMAAN Kodrat Hi Karim 1 dan Rustam Hasim 2 1,2 Pengajar Program Studi PGSD Universitas Khairun Ternate kodrahkarim@gmail.com rustamhasyim@gmail.com Abstract This paper describes types of phrases expressed in Ternate oral literature. As various types of Indonesian literature, it is also found that oral literature of Ternate consists of many different forms and type, this variety can be classified into different classification such as based on the period of before and after the establishment of Islamic teaching in this area. Ternate oral literature has a close relationship with the tradition of its society such as its ethics, social and economic life both internally and externally. Oral tradition in the sultanate of Ternate is a set of habits and behaviors of daily life inherited from generation to generation. Before the introduction of Islam which is known as the period ofmomoleperiod, this country already has a number of oral traditions that includes cultural values, customs, community systems and belief systems.In line with the development of Ternate language into lingua-france in North Maluku, Ternate literature then became the property of the community as North Maluku. Even it expands spreading alongside the development of the power of the Sultanate of Ternate from XV to XVII century. It is no wonder that if the oral literature is influenced by local languages as well as Malay, Arabic and Javanese languages. Keywords: Ternate Language, Oral Literature, Religious Rituals and Ternate Island. 1. Pengantar Bahasa Ternate merupakan bahasa induk dari berbagai bahasa daerah di Maluku Utara.Bahasa Ternate termasuk dalam kelompok bahasa Ternate- Halmahera.Artinya serumpun dengan berbagai bahasa daerah yang meliputi pulau Ternate dengan pulau Halmahera. Wilayah Maluku Utara merupakan suatu wilayah kebahasaan yang memeliki ciri- ciri yang khas yang tidak terdapat di wilayah lain di Nusantara. Bahakan penyebarannya berpengaruh sampai di pulau Mindano, kepulauan Sulu, Sabah di Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, sepanjang pantai Sulawesi Tengah-Selatan, pulau Banggai, kepulauan Sula, pulau Waigo, pulau Morotai. Dengan demikian tidak mengherangkan kalau sejumlah ahli lingustik pernah mengadakan pendalam atas struktur kebahasaan di wilayah ini. Sastra lisan Ternate mempunyai kaitan erat dengan tradisi masyarakat yang sangat harmonis dalam tata cara pergaulan, kehidupan sosial ekonomi baik secara intern maupun ekstern. Tradisi lisan di kesultanan Ternate adalah seperangkat kebiasaan dan perilaku kehidupan keseharian yang di wariskan dari generasi ke generasi secara turun temurun di daerah ini. Sejak periode sebelum masuknya agama Islam yang dikenal sebagai periode momole, negeri ini sudah memeliki sejumlah tradisi lisan yang meliputi nilai budaya, adat istiadat, sistem kemasyarakatan dan sistem kepercayaan. Menurut B. Soelarto, bahwa berbagai bahasa daerah di Maluku Utara masih tetap digunakan sebagai bahasa lokal. Ada yang berpendapat bahwa bahasa Ternate termasuk rumpun bahasa Polinesia.Tapi ada juga yang berpendapat bahwa bahasa Ternate termasuk rumpun bahasa Austronesia, berdasarkan kesamaan dalam segi tata bahasa (pronounciation dan vocabulary). Masyarakat Ternate sejak masa pra Islam telah mempengaruhi olah vokal yang