283
© 2020 Program Studi Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana UNDIP
JURNAL ILMU LINGKUNGAN
Volume 18 Issue 2 (2020) : 283-289 ISSN 1829-8907
Pemetaan Daya Dukung Lingkungan Berbasis Jasa Ekosistem
Penyedia Pangan dan Air Bersih di Kota Pekalongan
Erik Febriarta
1, 3
, dan Roza Oktama
2
1
Magister Pengelolaan Pesisir dan Daerah Aliran Sungai, Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta;
e-mail: e.febriarta@gmail.com
2
Program Studi Ilmu Lingkungan, Pasca Sarjana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
3
Palawa Karya, Yogyakarta
ABSTRAK
Identifikasi spaisal sumber daya alam merupakan salah satu pendekatan untuk mengetahui kapasitas sumber daya terhadap
perubahan lahan laju pertumbuhan di suatu wilayah. Kota Pekalongan merupakan kota yang berada di pesisir utara Pulau
Jawa yang mempunyai isu lingkungan berkurangnya ruang sumber daya lahan dikarenakan aktivitas pertumbuhan
permukiman dan lahan terbangun. Selain itu mempunyai isu lingkungan menurunnya ketersediaan air. Tujuan dari penelitian
ini adalah mengetahui daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup di Kota pekalongan dari sektor penyedia yaitu
ketahanan pangan dan air bersih. Daya dukung dan daya tampung dengan berbasis jasa ekosistem mempunyai karakteristik
yang lebih mencerminkan kondisi lingkungan dengan pendekatan ekoregion, yaitu pendekatan geomorfologi lingkungan dan
kondisi eksisting dari penggunaan lahan. Hasil penelitian menunjukkan kelas daya dukung hidup penyedia pangan di Kota
Pekalongan secara umum rendah 47,11%, sedangkan kelas daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup untuk air bersih
secara umum adalah sedang 74,22%.
Kata kunci: Daya dukung, jasa ekosistem, sistem informasi geografis (SIG)
ABSTRACT
Spatial identification of natural resources is one approach to determine their capacity to deal with land-use conversion and
regional growth rates. Pekalongan, a city on the north coast of Java Island, Indonesia, has been faced with environmental issues
as the growth of settlements and built-up land continues to reduce land resources and water availability. This study was
conducted to assess the carrying and environmental capacities of the city’s supply sector, i.e., food security and clean water.
Ecosystem services have characteristics that better reflect both capacities through the ecoregional perspective, which
incorporates an environmental geomorphological approach and existing land-use condition. The results showed that the
carrying capacity of food providers in Pekalongan were generally low (47.11%), while those of clean water were moderate
(74.22%).
Keywords: carrying capacity, ecosystem service, geographic information system (GIS)
Citation: Febriarta, E., dan Oktama, R. (2020). Pemetaan Daya Dukung Lingkungan Berbasis Jasa Ekosistem Penyedia Pangan dan Air Bersih
di Kota Pekalongan. Jurnal Ilmu Lingkungan, 18(2), 283-289, doi:10.14710/jil.18.2.283-289
1. Pendahuluan
Definisi sumber daya alam mengacu undang-
undang nomor 32 tahun 2009 tentang perlindungan
dan pengelolaan lingkungan hidup adalah unsur
lingkungan hidup yang terdiri atas sumber daya
hayati dan non hayati yang secara keseluruhan
membentuk kesatuan ekosistem (UU No.32 Tahun
2009, bab I, pasal 1, ayat 9). Sumber daya merupakan
komponen penting dalam keberlangsungan manusia
dan kehidupan makhluk hidup disekitarnya. Semakin
tinggi populasi makhluk hidup maka semakin banyak
sumber daya yang dimanfaatkan untuk
keberlangsungan, sehingga menimbulkan
peningkatan pemanfaatan ruang aktivtas (Muta'ali,
2015). Peningkatan aktivitas manusia dan makhluk
hidup lainnya mepmpunyai dampak dari sisi
ketersediaan sumber daya antara lain, berkurangnya
sumber daya atau menurunya kuantitas lingkungan
dan menurunnya kualitas lingkungan (Santosa, 2010;
KLH, 2014). Penurunan tersebut sangat dipengaruhi
oleh perubahan fungsi lahan dari kondisi alami atau
dampak dari alih guna lahan (Santosa, 2010; Muta'ali,
2015).
Perubahan ruang dan pertumbuhan ekonomi
sejalan dengan perkembangan pembangunan daerah
maupun rencana jangka panjang dari pemerintah,
yang mempunyai tujuan untuk mendukung aktivitas
manusia dan makhluk hidup disekitarnya dengan
mempertimbangkan aspek keberlangsungan
lingkungan dimasa yang akan datang (Sumadyanti