59 POLA SPASIAL TERITORI PADA LANSKAP-HUNIAN MASYARAKAT PELADANG DESA JURUAN LAOK MADURA TIMUR Redi Sigit Febrianto, Lisa Dwi Wulandari, Herry Santosa Magister Arsitektur Lingkungan Binaan (ALB), Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya Email: advento6666@gmail.com Abstrak Masyarakat etnis Madura dikenal sebagai masyarakat peladang jagung yang individual, mandiri dan berpola subsistensi, diidentifikasi memiliki tiga teritori utama yaitu: teritori hunian, teritori ruang terbuka dan teritori lanskap pertanian. Jarak antar cluster hunian berjauhan menyebabkan disebut sebagai masyarakat individual sekaligus mandiri. Ketergantungan hidup terhadap hasil panen menyebabkan jarak hunian dengan lanskap pertaniannya sangat dekat sehingga disebut masyarakat subsistensi. Moral ekonomi berorientasi pada tanah (land ethics),karena kegigihan mempertahankan spasial teritorinya. Sehingga pertanyaan mendasar penelitian adalah bagaimana pola spasial ketiga teritori pada desa Juruan Laok Madura? Strategi yang digunakan adalah etnografi, dengan rancangan penelitian kualitatif. Metode pengumpulan data utama berupa wawancara mendalam, tak-tik pertanyaan terbuka, dengan teknik sampling kasus tipikal pada empat hunian berdasarkan lima kriteria yaitu: civitas, aktivitas, pola hunian, pola lanskap pertanian dan eksistensi artefak berupa obyek penyimpanan panen. Validasi internal berupa observasi, pengukuran dan dokumentasi arsitektural, disebabkan sifat subsistensi etnis madura, sehingga kepala desa bukan nara sumber validasi internal, melainkan partisipan selaku pemilik hunian. Analisis dilakukan dengan mengkomparasi dengan konsep arsitektural-antropologis, konsep human space, juga dengan studi tema terkait. Hasil yang diperoleh adalah perwujudan konsep pola spasial yang disebut habitat. Konsep pola spasial yang disebut habitat ini terdiri dari : place, environment dan landscape. Susunan ketiganya membentuk satu gelembung hirarki yaitu place berada di dalam environment, sedangkan place dan environment berada di dalam landscape. Merujuk konsep dari arsitektural-antropologis, hirarki ketiga unsur ini disebut sebagai: habitat. Kata kunci: teritori utama, eksistensi artefak arsitektural-antropologis dan habitat Abstract Title: The Spatial Pattern of Teritory on The Landscape-Dwelling Community Juruan Laok Village East Madura The Madurese community is known as an individual, independent and subsistent corn farming community, identified as having three main territories: residential territory, open space territory and agricultural landscape territory. The distance between clusters of distant residential causes is referred to as individual society as well as independent. The dependence of life on crops causes the distance of dwelling with the agricultural landscape so close that it is called subsistence society. Land-based economic morality, due to the persistence of maintaining spatial territory. So the fundamental question of research is how the third spatial pattern of territory in the village of Laok Madura Madura? The strategy used is ethnography, with qualitative research design. The main data collection methods were in-depth interviews, no open questions, with typical case sampling techniques in four occupancy based on five criteria: civitas, activity, shelter pattern, agricultural landscape pattern and artifacts existence