Vol. 1, No. 2, Oktober 2019. hlm: 1037-1048 ISSN 2685-5631 (Versi Cetak) ISSN 2685-6263 (Versi Elektronik) | 1037 KAJIAN PUSAT SPIRITUAL DALAM KONTEKS JAWA Karen Claudia 1) , Rudy Trisno 2) 1) Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Univeritas Tarumanagara, christykarenruth@gmail.com 2) Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara, rudyt@ft.untar.ac.id Abstrak Penganut spiritualitas memerlukan sebuah komunitas, oleh sebab itu, diajukan perancangan pusat spiritual untuk mewadahi kebutuhan spiritual bagi komunitas spiritual di Jakarta. Dalam perancangan pusat spiritualitas diperlukan elemen transenden dalam bangunan, maka digali tipologi sesuai konteks yang diterjemahkan ke dalam bangunan melalui komposisi dan teknik modern. Metode penilitian yang diperlukan untuk menimbulkan suasana spiritual adalah keseimbangan antara mass dan void, alam dan manusia, cahaya dan bayangan, serta ruang dan waktu. Sehingga dapat disimpulkan dan ditemukan bahwa kesatuan dalam dualitas adalah prinsip penting dalam proses perancangan arsitektur spiritual. Kata kunci: arsitektur lokal; genius loci; kontekstual; lokalitas; rumah adat Jawa; spiritualitas Abstract Spiritual adherents now long for a community. In response to that, a design for a spiritual center is proposed to accommodate the spiritual needs of a spiritual community in Jakarta. Designing a spiritual center requires an element of the transcendent to be infused into the building. Modern composition and technology is used as a language to translate the typology appropriate to the context into an actual building. An insight on traditional Javanese architecture shows that harmony between mass and void, nature and man, light and shadow, and space and time is needed to synthesize spirituality in architecture. Therefore, the conclusion and finding is that unity between dualities is important in designing spiritual architecture. Keywords: contextual; genius loci; local architecture; locality; traditional Javanese house 1. PENDAHULUAN Lima hierarki kebutuhan yang dikemukakan Maslow terdiri dari kebutuhan fisiologis, keamanan, kasih sayang, harga diri, dan aktualisasi diri. Tingkat keenam di atas aktualitasi diri yang dapat dicapai ketika kelima kebutuhan sudah tercapai adalah transendensi (Maslow, 1970), yang dapat dicapai melalui spiritualitas. Seiring dengan perkembangan kebudayaan dan teknologi, kebutuhan dasar lebih mudah dicapai, hingga sekarang terdapat pergeseran tingkat kebutuhan dasar menjadi kebutuhan sosial, yang juga mudah dicapai melalui keberadaan internet dan media sosial. Sehingga kebutuhan spiritualitas semakin dekat menjadi kebutuhan penting. Pada saat ini, keperluan utama bagi penganut spiritualitas adalah untuk bertemu dengan sesamanya dan membentuk komunitas (Van Niekerk, 2018). Oleh sebab itu, diajukan perancangan pusat spiritual untuk mewadahi pertumbuhan spiritual bagi komunitas spiritual di Jakarta. Dalam perancangan pusat spiritualitas diperlukan sebuah jiwa tempat atau genius loci yang digalih dari nilai kebudayaan setempat. Jakarta, sebagai ibukota Indonesia, telah kehilangan jejak kebudayaan dalam arsitekturnya. Skyline terlihat serupa dengan kota-kota lain, yaitu terdiri dari bangunan tinggi bergaya internasional. Maka dari itu, perlu diselidiki elemen- elemen yang dapat menciptakan kesakralan dalam arsitektur dalam konteks Jawa.