Ulin – J Hut Trop 4 (2) : 92-106 pISSN 2599 1205, eISSN 2599 1183 September 2020 92 Ulin – J Hut Trop 4 (2) : 92-106 UJI KETAHANAN API KAYU SENGON (Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen) YANG DIAWETKAN DENGAN NATRIUM SILIKAT (Na2SiO3) Oleh Zainul Arifin*, Irvin Dayadi dan Cristianus Renaldy Laboratorium Biologi dan Pengawetan Kayu Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, Kampus Gn. Kelua, Jl. Penajam Samarinda Kalimantan Timur *E-mail: zarifin@fahutan.unmul.ac.id Artikel diterima : 8 Agustus 2020. Revisi diterima : 7 Oktober 2020 ABSTRACT The results of this study indicate that the average value of air dry moisture content of sengon wood is 14.081%, the air dry density is 0.326 g/m3 and oven dry density is 0.295 g/m3. The highest average retention value was at 3 days immersion with a concentration of 7% i.e. 16.161 kg/m3 and the lowest was at 1 day immersion with a concentration of 3% i.e. 5.161 kg/m3. The highest value of burn intensity at 2 days immersion with a 3% concentration i.e. 16.249% and the lowest at 1 day immersion with a concentration of 7% i.e. 6.025%. Preservation of sengon wood using natrium silicate at a concentration of 3%, 5% and 7% and immersion for 1 day, 2 days and 3 days is less effective in holding the fire rate, because the value is still below the ASTM E69 standard (2002) i.e. 7.5. The effective test of preservative (W) obtained the highest value of burn intensity at 1 day immersion with a concentration of 7% i.e. 7,490 and the lowest value at 2 days of immersion with a concentration of 3%, i.e. 3,231. The maximum temperature ranges from 206.0- 291.2°C and the cooking time ranges from 206.1-607.8 seconds. Keywords : Sengon wood, Natrium Silicate, soaking, fire tube ABSTRAK Salah satu permasalahan utama dalam pemakaian kayu sebagai bahan bangunan adalah bahwa kayu merupakan bahan yang bersifat combustible (dapat terbakar), yang akan terjadi jika kayu dikenai suhu yang tinggi misalnya oleh api. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui efektivitas bahan pengawet Natrium silikat (Na2SiO3) terhadap pengujian tahan api dengan menggunakan kayu Sengon berdasarkan lama perendaman dan konsentrasi yang berbeda. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Biologi dan Pengawetan Kayu, Fakultas Kehutanan, Universitas Mulawarman, Samarinda. Data diolah menggunakan pola faktorial 3 x 3 dengan 10 kali ulangan. Parameter yang diukur adalah retensi, intensitas bakar, suhu maksimum dan lama pembaraan. Dengan menggunakan lama perendaman 1 hari, 2 hari dan 3 hari dan konsentrasi 3%, 5% dan 7%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai rataan kadar air kering udara pada kayu sengon diperoleh nilai 14,081%, kerapatan kering udara 0,326 g/m 3 dan kerapatan kering tanur 0,295 g/m 3 . Nilai rataan retensi tertinggi pada perendaman 3 hari dengan konsentrasi 7% sebesar 16,161 kg/m 3 dan terendah pada perendaman 1 hari dengan konsentrasi 3% yaitu 5,161 kg/m 3 . Nilai intensitas bakar tertinggi pada perendaman 2 hari dengan konsentrasi 3% sebesar 16,249% dan terendah pada perendaman 1 hari dengan konsentrasi 7% sebesar 6,025%. Pengawetan kayu sengon menggunakan Natrium silikat pada konsentrasi 3%, 5% dan 7% serta perendaman 1 hari, 2 hari dan 3 hari kurang efektif menahan laju api, karena nilainya masih dibawah standar ASTM E69 (2002) yaitu ≥7,5. Uji efektif bahan pengawet (W) memperoleh nilai tertinggi intensitas bakar pada perendaman 1 hari dengan konsentrasi 7% yaitu 7,490 dan nilai terendah pada perendaman 2 hari dengan konsentrasi 3% yaitu 3,231. Suhu maksimum berkisar 206,0-291,2°C dan lama pembaraan berkisar 206,1-607,8 detik. Kata kunci : Kayu Sengon, Natrium Silikat, perendaman dingin, sungkup pembakaran PENDAHULUAN Salah satu permasalahan utama dalam pemakaian kayu sebagai bahan bangunan adalah bahwa kayu merupakan bahan yang bersifat combustible (dapat terbakar), yang akan terjadi jika kayu dikenai suhu yang tinggi misalnya oleh api (Santoso dan Hamidah, 2012). Mudah terbakarnya kayu adalah salah satu alasan utama bahwa terlalu banyak peraturan dan standar bangunan sangat membatasi penggunaan kayu sebagai bangunan bahan. Syarat utama untuk peningkatan penggunaan kayu untuk bangunan yaitu membuat kayu yang tahan api/menghambat api yang memadai untuk memberikan rasa aman (Östman et al, 2001). Data kebakaran pemukiman yang telah diperoleh dari BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) dalam kurun waktu 2010-2019 total ada 1.206 kasus kebakaran pemukiman di seluruh Indonesia. Sedangkan untuk Kalimantan Timur jumlah kebakaran pemukiman yaitu 153 kasus. Dampaknya yaitu 117 orang meninggal, 529 orang luka-luka dan 30.042 orang kehilangan tempat tinggal. Kerugiannya yaitu 8.401 rumah mengalami