Volume 23 Nomor 3, Juli – September 2017 p-ISSN: 0852-2715 | e-ISSN: 2502-7220 Diterima pada: 24 Juni 2017; Di-review pada: 11 Juli 2017; Disetujui pada: 27 Juli 2017 320 PETERNAKAN BABI BERBASIS ZERO WASTE Redempta Wea 1* , Andy Yumima Ninu 1 , Bernadete Barek Koten 1 1 Jurusan Peternakan, Politeknik Pertanian Negeri Kupang, Kupang *Penulis Korespondensi: wearedempta@yahoo.co.id Abstrak Pemeliharaan ternak babi pada kelompok Watu Kusa dan Het Fen tidak memperhatikan limbah sehingga menyebabkan polusi. Oleh karena itu dimanfaatkan dengan teknologi biogas. Tujuan kegiatan adalah menangani limbah ternak babi guna mengatasi pencemaran lingkungan sekaligus meningkatan kesadaran dan ketrampilan masyarakat dan penyelesaian masalah ekonomi dari segi pemanfaatan limbah sebagai biogas. Metode kegiatan yakni penyuluhan, demplot, dan pendampingan. Hasil kegiatan adalah melakukan instalasi biogas, penyuluhan manajemen pemelihaaan ternak dan pemanfaatn feces sebagai pupuk, demplot pengisian digester dan pembukaan lahan untuk penanaman sayuran dan rumput, dan pendampingan pemanfaatan sludge. Kesimpulannya kegiatan menghasilkan keuntungan berupa pemanfaatan feces menjadi biogas, mengurangi dampak polusi, meningkatkan pemanfaatan lahan, dan menghasilkan keuntungan serta diharapkan akan mendorong peran pemerintah dalam optimalisasi teknologi zero waste pada peternak babi dan hewani lainnya di NTT. Kata kunci: Babi, Biogas, Demplot, Feces Abstract The maintenance of pigs in the Watu Kusa and Het Fen groups does not pay attention to the waste causing pollution. Therefore it is utilized with biogas technology. The objective of the activity is to handle pig livestock waste in order to overcome environmental pollution as well as to increase community awareness and skills and solve economic problems in terms of waste utilization as biogas. Method of activity that is counseling, demplot, and mentoring. The result of the activity is to install biogas, counseling the management of livestock maintenance and stool utilization as fertilizer, demplot filling digester and clearing land for vegetable and grass planting, and sludge utilization assistance. In conclusion, the activities resulted in the advantages of using feces into biogas, reducing the impact of pollution, increasing land use, and generating profits and expected to encourage the government's role in optimizing zero waste technology in other pig and animal breeders in NTT. Keywords: Pig, Biogas, demonstration Plots, Waste 1. PENDAHULUAN Peningkatan populasi masyarakat mempengaruhi peningkatan kebutuhan akan protein hewani. Peningkatan kebutuhan ini akan mempengaruhi jumlah populasi ternak yang semakin meningkat pula yang akan berdampak pada peningkatan jumlah limbah ternak berupa feces. Hal ini juga terjadi di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dikenal sebagai daerah atau provinsi gudang ternak. Salah satu komoditi ternak yang banyak dipelihara oleh masyarakat NTT selain ternak sapi adalah ternak babi. Komoditi ternak babi banyak dipelihara dikarenakan secara sosial budaya masyarakat NTT sudah memelihara dan memanfaatakan ternak babi dalam berbagai kehidupannya terutama dalam upacara adat serta sebagai status social masyarakat. Selain itu peningkatan pemelhraan yang memepengaruhi peningkatan populasi ternak babi juga dikarenakan semakin banyaknya wisata kuliner di NTT yang menyajikan olahan daging babi. Dikatakan demikian karena hingga kini terdapat 18 rumah makan dan restoran yang menyajikan kuliner khas NTT berupa Se'I Babi (http://kupang.tribunnews.com/2015/06/22/sei-babi- ikon-kuliner-di-kupang). Pertumbuhan populasi ternak babi di Indonesia sejak tahun 2014 (7.694.130 ekor) hingga tahun 2015 (8.043.790 ekor) sebesar 4,54% menempati urutan kedua setelah ternak sapi (Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2015). Demikian halnya populasi ternak babi di NTT meningkat dari 1.500.000 ternak babi di tahun 2013 meningkat menjadi 1.739.000 ekor ternak babi di tahun 2014 (http://kupang.tribunnews.com/2014/02/25/babi- dominasi-peternakan-di-ntt). Berdasarkan jumlah populasi ternak babi tersebut maka sesuai pernyataan Kruger et al., (1995) dalam Imbeah (1998) bahwa kotoran segar (feces)