65 | Page REFLEKSI PENELITIAN: DARI MASYARAKAT EKSOTIS KE KOMUNITAS KAMPUS DAN CAFE Yevita Nurti 1 Abstract This paper is a reflection of the research in order to exercise anthropological research on the subject Theory, Methods and Practice research at the University of Indonesia. Research with the general theme of campus life and field settings the University of Indonesia, became an interesting experience, especially regarding the crucial issues in contemporary anthropological research, ranging from determining the themes and research plan, to the data collection. How anthropology as a discipline capable of responding to the shifts that occur and require changes to the workings of anthropology, not only change research techniques but also requires the redefinition of the various concepts. Key words: Research, Anthropological, Campus, Cafe, University of Indonesia A. Pendahuluan asih segar diingatan ketika Tim Dosen pengampu mata kuliah Penelitian Antropologi: Teori, Metode dan Praktek, mengatakan bahwa masing-masing peserta akan melakukan tugas praktik penelitian secara individual atau tidak berkelompok. Praktik penelitian ini dilakukan selama satu semester, yang praktis hanya berlangsung selama 4 bulan, dipotong masa untuk menyiapkan proposal, masa untuk memikirkan dan membuat koding serta memoing, masa untuk membuat laporan, menelusuri bahan pustaka yang relevan, dipotong masa liburan Idul Fitri, dan ampuun... semua merupakan tugas individu. Kita kan juga harus berkutat dengan tugas-tugas mata kuliah lainnya, celetuk salah seorang teman... semiloka teori, semiloka metodologi, mata kuliah teori.... Saya mulai bingung dan khawatir, bisakah penelitian ini dilakukan? Mampukah kami masing-masing peserta melakukan penelitian secara mandiri dalam waktu singkat? Seperti apa hasilnya nanti? Tercapai apa tidak ya? Tentu saja saya bingung bukan kepalang karena setahu saya, penelitian antropologi dengan metode kualitatif sangat menekankan kedalaman dalam memahami realitas, di mana seorang peneliti ‘menceburkan’ dirinya dalam realitas, memahami dengan baik setiap ‘tetes’ realitas, kemudian ‘meramu dan menjalin’ realitas itu ke dalam berbagai bentuk penulisan etnografi. Ibarat menjelaskan hutan rimba, maka peneliti kualitatif akan hidup di tengah hutan rimba tersebut, menyibak sisi terdalam dari rahasia dan jejak realitas hutan rimba di alam semesta serta memahaminya dengan baik. Setidaknya, inilah yang menjadi ciri khas dari seorang antropolog yaitu memasuki satu setting lapangan, mengikuti jejak-jejak sebuah realitas, kemudian menautkannya secara utuh dalam sebuah bingkai etnografi. Namun saya teringat kembali apa yang dikatakan salah seorang dari Tim Dosen, bahwa dalam mata kuliah ini masing-masing peserta akan melakukan ‘latihan’ penelitian antropologi. Artinya, saya sadar betul bahwa tujuan mata kuliah ini adalah agar kami (para peserta mata kuliah) mengerti dan menjalani bagaimana seharusnya penelitian antropologi itu dilakukan, step by step nya, membuat koding dan memoing, sehingga ke depan kami tidak membuat sebuah etnografi hanya berdasarkan apa yang kami pikirkan saja. Jadi bukan hasil akhir yang paling penting di sini, tetapi bagaimana proses untuk M 1 Penulis adalah dosen tetap jurusan Antropologi FISIP Universitas Andalas, Padang