Identifikasi molekuler begomavirus 41 Jurnal Natur Indonesia 13(1), Oktober 2010: 41-46 ISSN 1410-9379, Keputusan Akreditasi No 65a/DIKTI/Kep./2008 *Telp: +6285274050113 Email: ano_trisno@yahoo.co.id Identifikasi Molekuler Begomovirus Penyebab Penyakit Kuning Keriting pada Tanaman Cabai (Capsicum annum L.) di Sumatera Barat Jumsu Trisno 1*) , Sri Hendrastuti Hidayat 2) , Jamsari 3) , Trimuri Habazar 1) , dan Ishak Manti 4) 1) Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas, Padang 25126 2) Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor 16680 3) Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas, Padang 25126 4) Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat, Sukarami Solok 25001 Diterima 18-08-2009 Disetujui 06-03-2010 ABSTRACT Pepper plants showing Begomovirus-like symtoms, consisting of yellowing, leaf curling, and distortion, were collected from fields located in the Padang, West Sumatra. The aim of this research is to identification of begomovirus associated with yellow leaf curl diseases on pepper. Total DNA was extracted from infected leaf tissue according to Doyle and Doyle (1999) with slight modification. Polymerase chain reaction (PCR) was used to amplify the coat protein region of the virus using universal degenerate primers pAV494 and pAC1048. The PCR amplified DNA product (approx. 560 bp) was sequenced. The nucleotide and amino acid sequences and BLAST search revealed highest homology with pepper yellow leaf curl Indonesia virus isolated pepper, tomato and Ageratum conyzoides from Java, but differences from those of tomato yellow leaf curl virus. The isolate was then tentatively called pepper yellow leaf curl Indonesia virus-Padang (PYLCIV-Pdg). Keywords: begomovirus, molecular identification, yellow leaf curl diseases PENDAHULUAN Cabai merupakan produk hortikultura unggulan yang sangat penting di Indonesia. Namun dalam budidayanya banyak mengalami kendala yang menghambat produksi, salah satunya disebabkan oleh penyakit tumbuhan. Penyakit yang akhir-akhir ini dirasa sangat merugikan di sentra pertanaman cabai di Sumatera Barat adalah penyakit virus kuning keriting, yang oleh petani disebut juga dengan penyakit “bule” dan atau “bonsai”. Tanaman yang terinfeksi penyakit ini menunjukkan gejala berupa klorosis pada daun, tepi daun menggulung ke atas seperti mangkuk (cupping), daun keriting dan menguning, tanaman menjadi kerdil dan bunga rontok (Gambar 1). Gejala penyakit ini mirip dengan pepper yellow leaf curl diseases yang sudah banyak dilaporkan diberbagai Negara seperti Thailand (Chiemsombat dan Kittipakorn, 1997; Samretwanich et al., 2000), Banglades (Maruthi et al., 2005), Spanyol (Morilla et al., 2005) dan Indonesia, di pulau Jawa (Hidayat et al., 1999; Sulandari, 2004 ), yang kemudian diketahui disebabkan oleh Begomovirus. Begomovirus termasuk kedalam famili geminiviridae, yang merupakan kelompok terbesar penyebab penyakit pada tanaman. Kelompok geminivirus mempunyai karakter morfologi yang menarik dengan dua partikel isometric mempunyai genom ss DNA (Gutierrez, 2002). Geminivirus dikelompokkan dalam empat genus berdasarkan kisaran inang, serangga vektor dan organisasi genom. Genus Begomovirus (sub group III) ditularkan oleh serangga vektor kutu kebul menginfeksi tanaman dikotil dan mempunyai organisasi genom monopartit dan bipartit (Fauquet & Stanley, 2003). Survei penyakit di lapangan menunjukkan adanya kecendrungan peningkatan luas serangan dan intensitas serangan penyakit kuning keriting cabai. Di Sumatera Barat pada tahun 2004 intensitas serangan penyakit ini adalah 67,19% (luas tanam cabai : 3.968,65 Ha dengan luas cabai terserang : 2.666,77 Ha), dengan kehilangan hasil pada suatu areal dapat mencapai 100%. Tahun 2005, data sampai bulan Februari 2005 luas serangan penyakit ini 39,4 Ha dengan luas tanam 49,29 Ha. Kerusakan tertinggi dilaporkan di Kabupaten Agam dan Tanah Datar (Syaiful, 2005). Trisno et al.,