89 JUSTEK | Jurnal Sains dan Teknologi ISSN 2620-5475 Vol. 1, No. 1, Mei 2018, Hal. 89-94 EFEKTIVITAS MODEL CIRC DAN GGE TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SD Nindya Intan Marviana 1 , Wahyudi 2 , Endang Indarini 3 1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Kristen Satya Wacana, nindyaintanm13@gmail.com 2 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Kristen Satya Wacana, bimb.yudhi@gmail.com 3 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Kristen Satya Wacana, eindarini@gmail.com INFO ARTIKEL ABSTRAK Riwayat Artikel: Diterima: 14-04-2018 Disetujui: 21-04-2018 Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas model CIRC dan GGE terhadap kemampuan pemecahana masalah matematika pada siswa kelas IV SD. Penelitian ini termasuk penelitian eksperimen semu. Uji prasyarat menunjukan kedua kelompok homogen dan berdistribusi normal. Uji T menggunakan uji t Independent Sample Test menunjukan t hitung > t tabel yaitu 4,137 > 2,0322 dan signifikan 0,000 < 0,05 yang berarti H 0 ditolak dan H a diterima. Hal ini menunjukan adanya perbedaan efektivitas yang signifikan. Selanjutnya dilakukan uji normalitas gain yang menunjukan bahwa model CIRC lebih efektif disbanding model GGE terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika. Abstract: This study aims to determine the effectiveness of CIRC and GGE models on the ability of math problem solvers in grade 4 elementary school students. This study included quasi-experimental research. The prerequisite test shows both homogeneous groups and normally distributed. T test using t test Independent Sample Test shows t count> t table that is 4.137> 2.0322 and significant 0,000 <0.05 which means H0 rejected and Ha accepted. This shows a significant difference in effectiveness. Furthermore, the gain normality test shows that the CIRC model is more effective than GGE model of mathematical problem solving ability. Kata Kunci: CIRC GGE Kemampuan Pemecahan Masalah —————————— —————————— A. LATAR BELAKANG Permendikbud No 24 Tahun 2016 menyatakan pelaksanaan pembelajaran untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI) pada Kurikulum 2013 dilakukan dengan pendekatan tematik terpadu, terkecuali untuk pelajaran matematika dan PJOK sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri untuk kelas IV,V,VI. Pemisahan mata pelajaran matematika salah satunya disebabkan karena matematika memiliki karakteristik objek kajian yang berbeda dibanding mata pelajaran yang lain. Selain itu, pembahasan materi matematika yang terdapat dalam buku tematik K13 dirasa kurang mendalam. Karakteristik pembelajaran pada matematika erat kaitanya dengan kemampuan pemecahan masalah matematis. Siswa diharap mampu menguasai konsep-konsep dasar untuk dapat memecahkan permasalahan yang terdapat dalam soal matematika. Langkah pertama dalam memecahkan masalah matematis adalah dapat memahami masalah matematika itu sendiri (Fauziah: 2010). Kemampuan pemecahan masalah pada tahap perkembangan siswa masuk dalam tahap menganalisis dimana siswa dituntut untuk mampu menganalisis sebuah permasalahan serta mencari solusi dalam memecahkan masalah tersebut. Kemampuan menganalisis siswa masuk dalam kemampuan berpikir tingkat tinggi atau yang sering sidebut dengan Higher Order Thinking Skill (HOTS). Higher Order thinking conceived of as the top end of the Bloom’s cognitive taxonomy: analyze, Evaluate, and Create, or un the older language, analysis, Synthesis, and Evaluation (Brookhart, 2010: 5). Kemampuan siswa menyelesaikan suatu masalah dapat menjadi tolok ukur siswa dalam kemampuan memecahkan masalah sekaligus sebagai indikator keberhasilan siswa dalam belajar. Polya (dalam Suherman, 2003: 91) merumuskan adanya empat langkah dalam memecahkan masalah, yaitu understanding the problem (tahap siswa dalam memahami kondisi soal atau masalah dalam soal), devising a plan (tahap pemikiran sebuah rencana atau konsep), carrying out the plan (tahap pelaksanaan rencana) dan looking back (tahap siswa melakukan pengecekan ulang). Siswa yang sudah terbiasa mengerjakan soal dengan rumus praktis dalam menemukan hasil, mereka akan mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal cerita yang membutuhkan langkah-langkah dalam pengerjaannya. Adanya rumus- rumus praktis dapat melemahkan cara berpikir siswa yang sistematis. Hal ini dapat menyebabkan kemampuan siswa menjadi rendah sehingga mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal dalam bentuk cerita, terlebih jika langkah dalam mengerjakan tidak sesuai dengan urutannya (Hanafi Maarif & Wahyudi: 2015).