29 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CREATIVE PROBLEM SOLVING DENGAN MEDIA VISUAL DALAM MEMAHAMI KONSEP MATEMATIKA Syahmudi Louk 1 , Yuan Andinny 2 , Ihwan Zulkarnain 3 1,2,3, Program Studi Pendidikan Matematika, Universitas Indraprasta PGRI Jakarta Email: syahmudilouk@gmail.com Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk perbedaan model pembelajaran Creative Problem Solving dan model pembelajaran Konstruktivisme dalam memahami konsep matematika. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Islam PB. Soedirman Cijantung Jakarta Timur tepatnya pada kelas X. Metode penelitian yang digunakan untuk menguji perbedaan tersebut adalah metode quasi eksperimen. Populasi siswa kelas X SMA Islam PB. Soedirman Cijantung yang dijadikan sampel sebanyak 54 siswa, dengan teknik sampling yang digunakan yaitu cluster random sampling. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu tes kemampuan pemahaman konsep matematika dalam bentuk uraian sebanyak 10 soal yang telah diujikan sebelumnya. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, maka dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa berdasarkan analisis dengan uji-t, maka diperoleh    . Dari hasil pengujian tersebut diperoleh kemampuan pemahaman konsep matematika dengan menggunakan model pembelajaran Creative Problem Solving lebih tinggi dari pada model pembelajaran Konstruktivisme. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang berbeda antara penerapan model pembelajaran Creative Problem Solving dan model pembelajaran Konstruktivisme terhadap kemampuan pemahaman konsep matematika. Kata Kunci: Creative Problem Solving, Media Visual, Konsep Pendahuluan Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang lebih maju, berbagai upaya dilakukan dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas, salah satunya melalui pendidikan. Pendidikan memegang peranan penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu berkompetensi dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga pendidikan harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya untuk memperolah hasil yang maksimal (Fariah & Leonard, 2017). Perkembangan tersebut memberikan wahana yang memungkinkan matematika berkembang dengan pesat pula. Pembelajaran matematika bertujuan agar siswa memiliki kecakapan atau kemahiran matematika. Mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua siswa untuk membekali mereka dengan kemampuan berpikir logis, analisis, sistematis, kritis dan kreatif serta kemampuan bekerjasama (Depdiknas, 2006). Selain itu, pembelajaran matematika digunakan untuk pengembangan kemampuan pemecahan masalah dan mengkomunikasikan ide atau gagasan dengan menggunakan simbol, tabel, diagram dan media lain. Berdasarkan hasil TIMSS (Trends Mathematics and Science Study) tahun 2011 yang diikuti oleh siswa kelas VIII, Indonesia masuk dalam ranking 5 besar dari bawah dari 42 negara yang ikut dengan skor 386 (kompas.com, 2012). Hasil PISA (Programme for International Student Assessment) pun tidak begitu berbeda, skor matematika siswa pada PISA tahun 2015 adalah 386, dan rata-rata skor dari seluruh negara adalah 490 (OECD, 2016). Hal tersebut menandakan bahwa kemampuan matematis siswa Indonesia masih sangat rendah jika dibandingkan dengan negara lain. Permasalahan lainnya adalah proses pembelajaran masih berpusat pada guru, sehingga kemampuan-kemampuan yang ada dalam diri siswa belum bisa digali secara optimal, termasuk pemecahan masalah dan kreativitas. Noer (2009) mengatakan bahwa kreativitas siswa masih kurang mendapat perhatian guru dalam pembelajaran matematika dan guru hanya memberikan soal- soal rutin saja. Hal tersebut