43 PENGARUH FILTRAT BAKTERI ENDOFIT TERHADAP MORTALITAS, PENETASAN TELUR DAN POPULASI NEMATODA PELUKA AKAR Pratylenchus brachyurus PADA NILAM RITA HARNI 1 , SUPRAMANA 2 , MEITY S. SINAGA 2 , GIYANTO 2 dan SUPRIADI 3 1 Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka Industri, Pakuan Sukabumi 2 Departemen Proteksi Tanaman FAPERTA, Institut Pertanian Bogor 3 Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, Bogor (Terima Tgl. 24 – 2 - 2010 - Disetujui Tgl. 15 – 3 – 2010) ABSTRAK Pratylenchus brachyurus merupakan salah satu patogen utama pada tanaman nilam di Indonesia. Pengendalian yang banyak dilakukan petani saat ini adalah menggunakan pestisida sintetik. Penggunaan pestisida sintetik yang terus menerus merupakan ancaman terhadap lingkungan, dan kesehatan manusia. Bakteri endofit mungkin dapat dimanfaatkan sebagai salah satu teknik pengendalian nematoda yang ramah lingkungan karena bakteri endofit dapat menghasilkan racun yang toksik terhadap nematoda. Tujuan penelitian adalah melihat pengaruh kultur filtrat bakteri endofit terhadap mortalitas nematoda, penetasan telur dan perkembangan nematoda di dalam akar nilam. Penelitian dilakukan di Laboratorium dan Rumah kaca Hama dan Penyakit Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik Bogor, dari bulan Januari sampai April 2008 menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Filtrat bakteri dibuat dengan cara menumbuhkan bakteri endofit pada media TSB selama 48 jam, kemudian disentrifugasi dengan kecepatan 7.000 rpm selama 15 menit. Filtrat disaring dengan milipore berdiameter 0,22 µm, selanjutnya filtrat diuji pada nematoda in vitro dan rumah kaca. Hasil penelitian menunjukkan bahwa filtrat dapat membunuh nematoda dalam waktu 24 jam dengan nilai LC50 sebesar 7,709%. Bakteri endofit isolat TT2 dan EH11 memperlihatkan daya bunuh paling tinggi yaitu 91-100%. Di samping itu filtrat bakteri endofit juga dapat menekan penetasan telur nematoda 48,5- 74,6% dibanding dengan kontrol. Namun hanya filtrat bakteri endofit isolat EH11 yang nyata dapat menekan populasi nematoda di dalam akar nilam dengan tingkat penekanan sebesar 81,3%. Kata kunci : Pratylenchus brachyurus, bakteri endofit, kultur filtrat, Pogostemon cablin ABSTRACT Effect of culture filtrates endophytic bacteria on the mortality, hatching eggs and population of root lesion nematodes Pratylenchus brachyurus on patchouli Root lesion nematode (Pratylenchus brachyurus) is an important pathogen of patchouli in Indonesia and causes significant losses. Control system that are done today is using synthetic pesticides. The use of synthetic pesticides is a continuing threat to the environment and human health. However, endophytic bacterial culture filtrates may be used as one of the nematode control that is environmentally friendly. Effect of culture filtrates endophytic bacteria on the mortality, hatching eggs and population root lesion nematodes Pratylenchus brachyurus on patchouli has been done in vitro and greenhouse. The results showed that the culture filtrate of endophytic bacteria produced metabolite toxic to nematodes and were able to kill P. brachyurus 100% within 24 hours with LC50 7.709%. TT2 and EH11 isolates showed high killing power of 91-100%. The culture filtrates also inhibited hatching of P. brachyurus eggs compared with controls. Not all culture filtrates can suppress the nematode population in the roots of patchouli. EH11 isolates filtrate really pressing nematode populations compared to other isolates. Key words: Pratylenchus brachyurus, culture filtrate, endophytic bacteria, Pogostemon cablin PENDAHULUAN Nematoda peluka akar Pratylenchus brachyurus merupakan salah satu patogen utama yang menyebabkan kerugian pada tanaman nilam, serangan nematoda ini dapat mempengaruhi proses fotosintesis dan transpirasi serta status hara tanaman sehingga pertumbuhan tanaman terhambat, warna daun menjadi kuning klorosis dan akhirnya tanaman mati. Serangan nematoda juga menye- babkan tanaman lebih mudah terserang patogen atau organisme pengganggu tumbuhan (OPT) lain seperti jamur, bakteri, dan virus. Serangan nematoda ini menurunkan produktivitas dan kualitas nilam. Pengendalian biologi nematoda menggunakan bakteri endofit telah dilaporkan pada beberapa komoditas seperti kentang, pisang, kapas, padi dan beberapa tanaman hortikultura untuk mengendalikan nematoda puru akar (Meloidogyne incognita), nematoda ginjal (Rotylenchulus reniformis), nematoda kista (Globodera pallida), nematoda pelubang akar (Radopholus similis) dan nematoda peluka akar (Pratylenchus brachyurus) pada skala laboratorium, rumah kaca dan lapang (HALLMANN et al., 1997; SIKORA dan POCASANGRE, 2006; SIKORA 2007; HARNI et al., 2007). Mekanisme bakteri endofit melindungi tanaman dari infeksi nematoda melalui beberapa cara di antaranya menghasilkan senyawa toksik yang bersifat nematisidal. Senyawa hasil metabolit sekunder yang dihasilkan bakteri endofit yang dapat membunuh nematoda diantaranya adalah antibiotik, HCN, dan siderofor. LI et al. (2002) melaporkan bahwa produksi senyawa toksik dalam kultur filtrat dari bakteri endofit Bulkholderia ambifaria berasal dari akar tanaman jagung dapat menghambat penetasan telur dan mobilitas dari larva stadia kedua M. incognita. Sedangkan senyawa toksik lain yang dihasilkan bakteri Pseudomonas aeruginosa dan yang dihasilkan oleh bakteri endofit Pseudomonas fluorescens adalah 2,4 diacetyl- Jurnal Littri 16(1), Maret 2010. Hlm. 43 – 47 ISSN 0853-8212