Jurnal Cakrawala Promkes Vol. 1, No. 2, Agustus 2019, pp.48-56 P-ISSN: 2654-9980, E-ISSN: 2656-0534 HUBUNGAN INTENSITAS NYERI DISMENORE DENGAN AKTIVITAS BELAJAR PADA REMAJA PUTRI USIA 15-18 TAHUN DI SMAN 1 BANGUNTAPAN YOGYAKARTA Septi Della Sanday, Viantika Kusumasari, Dian Nur Adkhana Sari Fakultas Ilmu Keperawatan STIKes Surya Global Yogyakarta *Correspondence: dellasanday.sds@gmail.com Dikirim 23 Juli 2019; Diterima 27 Juli 2019; Publikasi Agustus 2019 Abstract Dysmenorrhea is one of the menstrual problems experienced by teenage girls. According to WHO, the incidence of dysmenorrhea throughout the world estimated prevalence of 16.8% -81%. Dysmenorrhea pain felt by teenage girl during menstruation can affect the daily activities, including in learning activities at school. The purpose of this study was to determine the relationship of dysmenorrhea with learning activities in teenage girl aged 15-18 years at SMAN 1 Banguntapan, Yogyakarta. This study used a cross sectional design. The population was teenage girl class X-XI at SMAN 1 Banguntapan, Yogyakarta, totaling 133 people. Samples amounted to 80 people. The sampling technique was purposive sampling. The research instrument used was NRS and learning activity questionnaire. Data analysis by Kendall tau. The results of this study showed that 42.5% of respondents experienced mild dysmenorrhea, and 57.5% experienced severe dysmenorrhea. Learning activities felt disturbed when dysmenorrhea was 88.8% of respondents, quite disturbed by 7.5%, and 3.8% felt undisturbed. The results of the Kendall analysis or the results show ρ = 0,000 (ρ <0.05). There is a relationship between dysmenorrhea with learning activities in teenage girl aged 15-18 years at SMAN 1 Banguntapan, Yogyakarta. Keywords: Dysmenorrhea, Pain intensity, Learning activities, Teenager 1. PENDAHULUAN Masa remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa. Istilah ini merujuk pada masa awal pubertas sampai mencapai masa kematangan yang biasanya dimulai dari usia 12 tahun sampai 14 tahun yang ditandai dengan menstruasi pertama kali atau yang disebut menarche (1). Salah satu masalah menstruasi yang paling umum adalah dismenore. Dismenore merupakan nyeri pada perut bagian bawah pada saat menstruasi, yang terjadi 1-2 hari disebabkan karena pelepasan prostaglandin(2). Dismenore terbagi atas dua jenis, yaitu dismenore primer dan sekunder. Dismenore yang paling sering dirasakan oleh remaja adalah dismenore primer. Dismenore primer biasanya mulai terasa 6 bulan sampai 12 bulan setelah menstruasi pertama(3). Kejadian dismenore cukup tinggi diseluruh dunia. Menurut data WHO rata- rata insiden kejadian dismenore pada wanita muda adalah 16,8%-81%. Prevalensi tertinggi sering ditemui pada remaja, yang diperkirakan antara 20%-90%(4). Menurut penelitian Parker pada tahun 2010 didapatkan rentan usia remaja putri yang paling sering dismenore adalah usia 14-19 tahun(4). Sejalan dengan penelitian Sanctis pada tahun 2015 yang menemukan bahwa remaja yang paling banyak dismenore usia rata-ratanyanya adalah 17 tahun(4). Berdasarkan penelitian di Amerika Serikat, nyeri haid atau dismenore adalah kasus yang sering terjadi pada wanita usia produktif yaitu 45%-90%, serta 60%-70% pada wanita dewasa yang belum menikah(5). Rata-rata di negara-negara Eropa dismenore terjadi pada 45%- 97% wanita, dengan prevalensi terendah adalah Bulgaria yaitu 8.8% dan tertinggi Finlandia yaitu 94%(5). Di Asia Timur ditemukan prevalensi dismenore sebanyak 46.8% di Jepang(6). Sebuah penelitian di Indonesia melaporkan angka kejadian dismenore sebesar 64.22% yang terdiri dari 54.89% dismenore primer dan 9.36% dismenore sekunder(7). Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Surakarta, dilaporkan bahwa