Jurnal Ekonomi & Pendidikan, Volume 3 Nomor 1, April 2006 42 PENDI DI KAN FORMAL DI LI NGKUNGAN PESANTREN SEBAGAI UPAYA MENI NGKATKAN KUALI TAS SUMBER DAYA MANUSI A Oleh: Kiromim Baroroh (Staf Pengajar FI SE Universitas Negeri Yogyakarta) Abstrak Pendidikan diyakini dapat menebarkan ilmu pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai yang dapat meningkatkan taraf hidup manusia. Saat ini pendidikan di pesantren tidak hanya focus pada pendidikan keagamaan, namun sebagian pesantren juga menyelenggarakan pendidikan formal (sekolah). Sekolah diharapkan dapat berjalan secara efektif sehingga dapat meningkatkan sumber daya manusia. Kata Kunci: Pendidikan Formal, Pesantren, SDM A. Pendahuluan Pesantren sebagai salah satu model pendidikan merupakan salah satu lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Perkembangan pesantren mulai tampak pada awal abad 20 yang ditandai oleh pembukaan sistem madrasah dengan dukungan para ulama yang baru kembali dari Mekah. Belanda melihat perkembangan itu sebagai suatu ancaman, sehingga diterbitkanlah Staatblaad 1925 Nomor 219 (Berlaku untuk seluruh wilayah Hindia Belanda) sebagai pengganti atas Ordonansi Guru tahun 1905 (berlaku hanya untuk wilayah Jawa dan Madura). Di lain pihak, meskipun kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda begitu ketat dan sangat merugikan pertumbuhan pesantren, namun pesantren ternyata mampu bertahan. Bahkan sekitar tahun 1930-an bperkembangan pesantren cukup pesat. Bila pada tahun 1920-an pesantren besar hanya memiliki santri sekitar 200-an, pada tahun 1930-an santri pesantren besar dapat mencapai lebih daari 1500 orang. Kemerosotan pesantren justru terjadi akhir-akhir ini, setelah Indonesia merdeka, ketika pemerintah membuka dan mengembangkan sekolah-sekolah umum dan memberikan fasilitas utama bagi para alumni pendidikan umum untuk menduduki jabatan dalam struktur pemerintahan. Sejak itu asumsi masayarakat tentang pendididikan dan sekolah mulai dikaitkan dengan penyediaan lapangan kerja (Idoochi Anwar, 2004: 104). Selama ini masih ada anggapan meskipun Islam tidak membeda-bedakan antara ilmu agama dan dunia, namun dalam prakteknya ilmu yang lebih banyak digeluti umat Islam adalah ilmu agama, sementara ilmu non agama termarjinalkan (Salamah Noorhayati, 2001). Berdasarkan kenyataan tersebut, dunia pesantren saat ini dihadapkan kepada tarikan dua aspirasi. Di satu sisi, pesantren harus konsisten tradisi-populisnya sebagai lembaga pendidikan yang menyebarkan ajaran Islam, alat kontrol sosial,