89 KETAHANAN DELAPAN KULTIVAR TEMBAKAU LOKAL BONDOWOSO TERHADAP TIGA PATOGEN PENTING (Ralstonia solanacearum, Pectobacterium carotovorum, DAN Phytophthora nicotianae) Resistance of Eight Bondowoso Tobacco Cultivars to Three Major Pathogens (Ralstonia solanacearum, Pectobacterium carotovorum, and Phytophthora nicotianae) TITIEK YULIANTI, NURUL HIDAYAH, dan SRI YULAIKAH Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat Jalan Raya Karangploso Km 4, Kotak Pos 199, Malang 65152 e-mail: tyuliant@gmail.com; nurul_hidayah2003@yahoo.com; ballitas@litbang.deptan.go.id (Diterima Tgl. 13-3-2012 - Disetujui Tgl. 9-8-2012) ABSTRAK Tembakau bondowoso merupakan tembakau lokal rajangan yang berkembang di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Saat ini ada delapan kultivar dengan karakter produksi, mutu, dan ketahanannya terhadap penyakit yang berbeda. Layu bakteri (Ralstonia solanacearum), busuk batang berlubang (Pectobacterium carotovorum), dan lanas (Phytophthora nicotianae) merupakan penyakit yang sering menyebabkan turunnya produksi tembakau bondowoso. Evaluasi ketahanan delapan kultivar tembakau bondowoso (Samporis, Serumpung, Marakot, Samporis Lokal, Samporis AH, Samporis CH, Samporis B. Disbun, dan Deli) terhadap ketiga patogen tersebut dilaksanakan di laboratorium dan rumah kasa Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) mulai bulan April sampai dengan Oktober 2011. Penelitian terhadap ketiga patogen tersebut dilakukan secara terpisah. Masing-masing kultivar ditanam sebanyak 10 tanaman, 1 tanaman/polibag. Setiap perlakuan (kultivar) diulang 3 kali dan disusun dalam rancangan acak kelompok (RAK). Inokulasi R. solanacearum dan P. carotovorum dilakukan secara terpisah 24 jam sebelum transplanting. Inokulasi P. nicotianae dilakukan dengan dua cara, yaitu melalui akar dan pangkal batang. Inokulasi akar sama dengan cara inokulasi bakteri. Inokulasi pangkal batang dilakukan pada tanaman berumur 2 minggu setelah transplanting. Pengamatan intensitas penyakit dilakukan setiap minggu selama 11 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kultivar Samporis CH, Samporis, dan Deli tahan terhadap P. carotovorum, R. solanacearum, dan P. nicotianae. Kultivar Samporis CH., Samporis, dan Deli ketahanannya lebih tinggi terhadap ketiga patogen, dengan intensitas penyakit berkisar antara 3,3%-6,7%. Kultivar Marakot sangat rentan terhadap ketiga patogen tersebut dengan tingkat keparahan ≥ 50%. Demikian pula kultivar Samporis AH yang rentan terhadap R. solanacearum, P. nicotianae dan P. carotovorum dengan intensitas penyakit 23,3-53,3%. Oleh karena itu, kultivar Samporis CH, Samporis, dan Deli cocok dikembangkan pada lahan endemik penyakit tular tanah di Kabupaten Bondowoso. Kata kunci: tembakau bondowoso, Pectobacterium carotovorum Phytophthora nicotianae, Ralstonia solanacearum, ketahanan ABSTRACT Bondowoso tobacco is a local type of sliced tobacco which is restrictedly cultivated in Bondowoso Regency, East Java. There are eight cultivars known, ie. Samporis, Serumpung, Marakot, Samporis Lokal, Samporis AH, Samporis CH, Samporis B. Disbun, and Deli with their own distinctive characters on their production, quality, and resistance to diseases. Bacterial wilt (Ralstonia solanacearum), hollow stalk rot (Pectobacterium carotovorum), and blackshank (Phytophthora nicotianae are the main cause of bondowoso tobacco production loss. Evaluation on the resistance level of the cultivars to the three pathogens above has been conducted at a laboratory and screen house scale in Indonesian Sweetener and Fibre Crops Research Institute from April to October 2011. The evaluation of each pathogen was conducted separately. Each evaluation of the pathogen per cultivar used 10 plants planted individually in a polybag. The experiment was arranged in a randomized block design with 3 replicates. R. solanacearum and P. carotovorum were separately inoculated on the test plants 24 h before transplanting. The inoculation of P. nicotianae was done twice via the root and stem. Disease intensity was observed weekly for 11 weeks. The results showed that Samporis CH, Samporis, and Deli cultivars were resistant to P. carotovorum, R. solanacearum and P. nicotianae, whereas Samporis and Deli cultivars were more resistant to the pathogens (disease intensity ranged 3.3-6.7%). Marakot cultivar was very susceptible to all of the three pathogens (disease intensity ≥ 50%). Similarly, Samporis AH cultivar was also susceptible to the pathogens with disease intensity ranged 23.3-53.3%. The study indicated that Samporis CH, Samporis, and Deli cultivars are suitable to be cultivated in the endemic soil born pathogen areas of Bondowoso Regency. Key words: bondowoso tobacco, Pectobacterium carotovorum, Phytophthora nicotianae, Ralstonia solanacearum, resistance PENDAHULUAN Tembakau bondowoso merupakan tembakau lokal rajangan yang berkembang hanya di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Tembakau bondowoso berasal dari Kecamatan Maesan, Kabupaten Bondowoso. Luas areal penanaman tembakau bondowoso sekitar 7.000-9.000 ha, total produksi 6.000-8.000 ton per tahun, dan merupakan sumber utama (84%) pendapatan petani Bondowoso (YULAIKAH et al., 2011). Tembakau bondowoso digunakan sebagai salah satu bahan campuran rokok kretek oleh beberapa pabrik rokok lokal seperti PT Sadhana, PT Gagak Hitam, dan PT Trubus Alami. Pada tahun 1960-an, di samping kultivar lokal, juga berkembang dua kultivar lainnya yaitu Sompor dan Moris. Akibat terjadinya persilangan alami di antara kultivar-kultivar yang Jurnal Littri 18(3), September 2012. Hlm. 89-94 ISSN 0853-5212