Jurnal ILMU DASAR Vol. 17 No. 1, Januari 2016 : 35 – 38 35 Potensi Limbah Ulat Sutera sebagai Bahan Baku Biodegradable Surfaktan Potential of Waste As Raw Silk Worm Biodegradable Surfactant Ery Fatarina P* ) , Mega Kasmiyatun, MF. Sri Mulyaningsih, T.Da Silva Jurusan Teknik Kimia Universitas 17 Agustus 1945, Semarang *) Email: ery_fatarina@yahoo.co.id ABSTRACT Silkworm pupa is byproducts of silkworm farms are not fully utilized. This study aims to assess the potential silkworm waste as a raw material surfactant "biodegradable". Silk pupa oil has 43.70% triglyceride. The characterisation by the spectra FTIR showed the degradation results in wavelength 1050-1300 cm -1 and 1690-1760 cm -1 indicated the consecutive C‒O and C=O group of alcohol/ether/carboxylic acids/esters, and the wave number 2500-2700 cm -1 indicated the presence of O‒H groups of the carboxylic acid with hydrogen bonds. GC-MS analysis showed the components of palmitic acid β-monogliseride, α-monopalmitin, palmitic chloride acid, oleic acid, linoleic acid chloride. FTIR spectra degradation products Mono-diglyceride provide distinctive peaks that appear at wavelength 1041.56 cm -1 and 3659.61 cm -1 that showed group C-OH and OH, respectively. The performance test results of surfactant to the benzene-water system showed no effect of surfactant that is as an emulsifier. Silk pupa oil contains components that can be converted into a surfactant "biodegradable". Keywords : silkworm pupa, surfactant, glycerolysis, monoglyceride. PENDAHULUAN Data Kementerian Kehutanan menunjukkan, saat ini limbah pupa ulat sutra mencapai 300.000 kilogram per tahun terbuang sia-sia (Anonim,2013 ). Pupa ulat sutera (Bombyx mori) merupakan salah satu produk sampingan dalam peternakan ulat sutera .Pupa adalah bagian isi dari kokon yang merupakan produk sampingan serikultur. Pupa berbentuk oval, bersegmen-segmen, bewarna coklat keemasan, dan bertekstur lembek dan kenyal.(Yang X, et al., 2004). Monogliserida / monoasilgliserol merupakan senyawa kimia penting dari turunan komeresial yang digunakan dalam industri makanan, kosmetik, farmasi, pelumas. Monogliserida digunakan dalam banyak aplikasi sebagai surfaktan, terutama sebagai emulsifier dalam proses produksi bahan pangan berlemak seperti margarine, mentega kacang, roti, biskuit dan es krim.Secara keseluruhan, kelompok surfaktan ini sangat penting digunakan dalam industri makanan, dimana 75% dari total produksi pengemulsi (Tirto, 2007). Kebutuhan monogliserida sebanyak 132.000 ton/tahun masih dipenuhi dari impor, sehingga monogliserida mempunyai nilai ekonomi yang baik. Di Indonesia, monogliserida dibuat dari senyawa gliserida yang banyak terdapat di minyak atau lemak dengan gliserol dan sebagai bahan dasarnya adalah minyak sawit. Sumber minyak atau lemak dapat diperoleh dari nabati seperti kelapa sawit, kacang- kacangan dan tumbuhan lain. Sumber minyak atau lemak dari hewan diperoleh dari hewan mamalia dan hewan laut (Ketaren, 1986), hewan jenis serangga seperti ulat sutera masih belum banyak kajian akan kemanfaatannya. Limbah dari pengolahan Pusat Sutera Alam (PSA) Regaloh di Pati adalah pupa sutera yang sudah diambil kokonya untuk produksi benang sutera. Monogliserida dapat disintesis dari trigliserida melalui berbagai proses.Pada reaksi gliserolisis, trigliserida (TG) direaksikan dengan gliserol membentuk monodigliserida (MG) dan digliserida (DG). Secara umum reaksi gliserolisis TG adalah sebagai berikut : (Tirto, 2007).