Analisis Efektivitas Biaya antara Penggunaan Meropenem dengan ... (Lukman Prayitno, Selma Siahaan, dan Rini Sasanti Handayani ) 125 Analisis Efektivitas Biaya antara Penggunaan Meropenem dengan dan tanpa Hasil Uji Sensitivitas Antibiotik pada Pasien Gagal Ginjal Kronik di Rumah Sakit COST EFFECTIVENESS ANALYSIS BETWEEN THE USE OF MEROPENEM WITH AND WITHOUT ANTIBIOTIC SENSITIVITY TEST RESULTS IN PATIENTS WITH CHRONICKIDNEY FAILURE AT THE HOSPITAL Lukman Prayitno* 1 , Selma Siahaan 1 , Rini Sasanti Handayani 2 1 Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Jl. Percetakan Negara No.29, Jakarta 10560, Indonesia 2 Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya dan Pelayanan Kesehatan, Kemenkes RI Jl. Percetakan Negara No.29 Jakarta Pusat 10560 *Email:yohaneslukman@gmail.com Submitted : 27-05-2019, Revised : 19-04-2019, Revised : 24-05-2019, Accepted : 29-05-2019 Abstract The prevalence of chronic kidney disease (CKD) is quite high. The use of meropenem needs attention as meropenem is an expensive third generation antibiotic. It increases the cost of treatment if it is used irrationally. There is also a danger of resistance that impact to the diffculty of treatment. Therefore, a study was conducted in two hospitals in Manado and Semarang. The data was secondary data from patients’ medical records and medical expenses in 2016. Cases of CKD were 29 from Hospital X, 11 cases with sensitivity and 18 cases without sensitivity testing. In Hospital Y there were 20 cases, 17 cases with sensitivity test and 3 cases without sensitivity test. At Hospital X, the value of the Average Cost Effectiveness Ratio (ACER) with a sensitivity test was 94,242,994 rupiahs and the ACER value without sensitivity testing was 142,793,491 rupiahs. In the Y Hospital it is not comparable because 85% data were sensitivity test. It means that Hospital Y complied with Minister of Health Decree No. 523 of 2015. Based on the ACER value it could be concluded that meropenem therapy in cases of CKD in Hospital X was more effective if carried out with sensitivity test. Key words: Meropenem, Sensitivity Test, Hospital, Chronic Kidney Disease Abstrak Prevalensi penyakit ginjal kronik (PGK) cukup tinggi. Penggunaan meropenem pada pasien PGK perlu mendapat perhatian karena meropenem adalah antibiotik generasi ke tiga yang harganya mahal dan apabila penggunaannya tidak rasional maka menambah biaya pengobatan. Disamping itu ada bahaya resistensi yang berdampak sulitnya pengobatan. Penelitian dilakukan di dua Rumah Sakit di Kota Manado dan Kota Semarang untuk menganalisis efektivitas biaya penggunaan meropenem. Data yang digunakan berasal dari data sekunder rekam medis pasien dan biaya pengobatan tahun 2016.. kasus gagal ginjal kronis yang memenuhi kriteria sebanyak 29 dari RS X yaitu 11 kasus dilakukan uji sensitivitas dan 18 kasus tidak dilakukan uji sensitivitas. Di RS Y didapatkan 20 kasus yaitu 17 kasus dilakukan uji sensitivitas dan 3 kasus tidak dilakukan uji sensitivitas. Di RS X, nilai Average Cost Effectiveness Ratio (ACER) terapi meropenem dengan uji sensitivitas adalah 94.242.994 dan nilai ACER terapi meropenem tanpa uji sensitivitas adalah 142.793.491. Di RS Y tidak bisa dibandingkan antara terapi meropenem dengan dan tanpa uji sensitivitas karena 85% dilakukan uji sensitivitas. Hal ini berarti penggunaan meropenem di RS Y sesuai Kepmenkes No 523 Tahun 2015. Berdasarkan nilai ACER disimpulkan bahwa terapi dengan meropenem pada kasus PGK di RS X lebih efektif jika dilakukan dengan uji sensitivitas. Kata kunci: Meropenem, Uji Sensitivitas, Rumah Sakit, Gagal Ginjal Kronik https://doi.org/10.22435/bpk.v47i2.1211