206 ProTVF, Volume 4, No. 2, 2020, hlm. 206-222 Submitted: November 2019, Accepted:September 2020, Published: September 2020 ISSN: 2548-687X (printed), ISSN: 2549-0087 (online). Website: http://jurnal.unpad.ac.id/protvf Korespondensi: Hanifa Yusliha Rohmah, S.I.Kom. Universitas Padjadjaran. Jl. Raya bandung-Sumedang KM. 21 Sumedang 45363. Email: hanifayusliha@gmail.com Representasi preman dalam sinetron Preman Pensiun Hanifa Yusliha Rohmah 1 , Dian Wardiana Sjuchro 2 , Aceng Abdullah 3 1,2,3 Universitas Padjadjaran, Sumedang, Indonesia ABSTRAK Latar belakang penelitian ini adalah di dalam sinetron Preman Pensiun makna preman dibangun secara berbeda. Preman dikenal sebagai sosok yang kriminal dan kejam, namun sinetron Preman Pensiun mengkonstruksikan preman dari sisi dan karakter yang lain. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana preman direpresentasikan dalam tiga level yaitu level realitas, level representasi, dan level ideologi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan semiotika yang memusatkan pehatian terhadap tanda. Hasil dari penelitian ini yaitu, dalam level realitas penampilan, beberapa preman direpresentasikan dengan pakaian yang urakan, sedangkan Kang Bahar justru terlihat rapih dan casual. Segi lingkungan dan cara berbicara, kalimat-kalimat ancaman dari seorang preman, digambarkan dalam sinetron ini. Namun, sosok aparat penegak hukum tidak muncul sama sekali di dalam sinetron Preman Pensiun. Lalu kelompok lainnya, ada suatu gesture yang disepakati oleh kelompok Preman dalam sinetron Preman Pensiun. Yang kedua dalam level representasi, alasan seorang preman yang ingin pensiun ditampilkan melalui dialog yang Bahar sampaikan kepada Muslihat. Dalam kode kamera, Pengambilan gambar sebatas sampai medium close up. Dilihat dari segi sound, ciri khas angklung dan suling dalam sinetron ini sangat memorable, dan juga cerita serta pengkarakteran setiap tokoh yang kuat dan bermakna. Sedangkan dalam level ideologi, ada dua ideologi yang diangkat dalam sinetron ini, yaitu ideologi premanisme dan ideologi feminisme. Kata-kata Kunci: Preman; semiotika; representasi; premanisme; sinetron Representation of Thugs in ‘Preman Pensiun’ Soap Opera ABSTRACT The background of this research shows the meaning of ‘Thugs’ in “Preman Pensiun” soap opera is constructed diferently. Thugs are known as criminals and cruel fgures, however, “Preman Pensiun” constructs thugs in other sides and characters. The purpose of this study is to determine how thugs are represented in three levels, namely the level of reality, the level of representation, and the level of ideology. This study uses a qualitative method with a semiotic approach that focuses on signs. According to Fiske, semiotics is a study of signs which explains how meaning is constructed in the “text” of the media. The results of this study are, at the level of reality of the appearance, some thugs are represented with messy clothes, while Kang Bahar actually looks neat and casual. From an environmental perspective, the thug basecamp looks shabby, because the most important thing for them is just the availability of chairs to sit on. From the way of speaking, threatening sentences from a thug is depicted in this soap opera. Then, just like the other groups, there were gestures agreed upon by the thug group in “Preman Pensiun”. The second is at the level of representation, the reason for a thug wanting to retire is displayed through dialogue Bahar shares with Muslihat. In the camera code, shooting is limited to medium close up. In terms of sound, the characteristic of angklung and fute in “Preman Pensiun” are very memorable, and also the story and characteristic of each character are strong and meaningful. At the level of ideology, there are two ideologies raised in this soap opera, namely the ideology of thuggery and the ideology of feminism. Keywords: Thugs; semiotics; representation; thuggery; soap opera