339 Rosliani, R et al. : Pengaruh Benzilaminopurin dan Boron ... J. Hort. 23(4):339-349, 2013 Pengaruh Benzilaminopurin dan Boron Terhadap Pembungaan, Viabilitas Serbuk Sari, Produksi, dan Mutu Benih Bawang Merah di Dataran Rendah (The Effect of Benzylaminopurine and Boron Application On Flowering, Pollen Viability, Production, and Quality of True Shallots Seed in the Lowland Area) Rosliani, R 1) , Palupi, ER 2) , dan Hilman, Y 3) 1) Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Jl. Tangkuban Parahu 517, Lembang, Bandung Barat 40791 2) Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Jl. Meranti Kampus IPB Dramaga, Bogor 16680 3) Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Jl. Raya Ragunan 29A, Pasarminggu, Jakarta 12540 E-mail : rinirosliany@gmail.com Naskah diterima tanggal 30 Juli 2013 dan disetujui untuk diterbitkan tanggal 1 November 2013 ABSTRAK. Biji botani atau TSS (true shallots seed) merupakan salah satu sumber benih bawang merah yang potensial untuk dikembangkan sebagai bahan perbanyakan. Selama ini produksi TSS dilakukan di dataran tinggi. Dataran rendah dengan suhu yang tinggi tidak sesuai untuk menghasilkan pembungaan, namun ada indikasi bahwa dataran rendah menghasilkan pembentukan dan mutu benih TSS yang lebih baik dibandingkan dataran tinggi. Penelitian dilakukan untuk memproduksi benih bawang merah (TSS) di dataran rendah melalui peningkatan pembungaan dan viabilitas serbuk sari menggunakan BAP dan boron. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Wera, Subang, Jawa Barat (ketinggian 100 m dpl.), dari Bulan Maret sampai dengan Juni 2012. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu acak kelompok faktorial dengan tiga ulangan. Perlakuan terdiri atas dua faktor, yaitu aplikasi benzilaminopurin atau BAP (0, 50, 100, 150, dan 200 ppm) dan boron (0, 1, 2, 3, dan 4 kg/ha). Aplikasi BAP diberikan tiga kali pada umur 1, 3, dan 5 minggu setelah tanam (MST), dan boron pada umur 3, 5, dan 7 MST. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian BAP dapat meningkatkan pembungaan dan viabilitas serbuk sari bawang merah, tetapi tidak meningkatkan produksi dan mutu benih TSS di dataran rendah Subang. Aplikasi BAP konsentrasi 50 ppm yang diaplikasikan pada umur 1, 3, dan 5 MST cukup memadai untuk meningkatkan pembungaan bawang merah di dataran rendah Subang. Sementara boron tidak memperbaiki tingkat pembungaan maupun produksi dan mutu benih TSS. Boron 4 kg/ha hanya dapat memperbaiki viabilitas serbuk sari bawang merah. Hasil penelitian ini memberikan informasi bahwa ada peluang untuk memperbaiki tingkat pembungaan yang lebih tinggi di dataran rendah, sedangkan tantangannya ialah peningkatan pembentukan kapsul/buah dan biji TSS. Katakunci: Allium cepa var. ascalonicum; Benzilaminopurin; Boron; True shallots seed; Bobot benih; Daya berkecambah; Induksi pembungaan ABSTRACT. True shallots seed (TSS) was another source of seed potential to be developed as propagation material. TSS production generally was yielded in the highland. The lowland with high temperature was not suitable to produce fower, but there were indications that the lowland in the formation and quality of TSS was better than the TSS in the highland. The aimed of research was to produce TSS in the lowland through increased fowering and pollen viability by using benzylaminopurine (BAP) and boron. The study was conducted at the experimental feld Wera in Subang, West Java (altitude 100 m asl.), from March to June 2012. The factorial experiment was arranged in a randomized block design with three replications. The treatment consists of two factors, namely the application of BAP (0, 50, 100, 150, and 200 ppm) and boron (0, 1, 2, 3, and 4 kg/ha). BAP application was given three times at 1, 3, and 5 weeks after planting (WAP), and boron at 3, 5, and 7 WAP. The results showed that application of BAP and boron could improve fowering and pollen viability, but not to increase production and quality of TSS in lowland Subang. BAP concentration of 50 ppm was applied at the age of 1, 3, and 5 WAP was suffcient to increase fowering shallots in lowland Subang. While boron did not improve fowering, production and quality of TSS. Boron 4 kg/ha can improve the viability of onion pollen only. The results provide information that there was an opportunity to improve the level of fowering higher in the lowlands, while the challenge was to increase fruit set and seed set. Keywords: Allium cepa var ascalonicum; Benzylaminopurine; Boron; True shallots seed; Seed weight; Germination percentage; Flowering induction Bawang merah (Allium cepa var. ascalonicum L.) termasuk tanaman sayuran yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Pada umumnya bahan perbanyakan bawang merah menggunakan umbi sebagai benih. Penggunaan biji botani (true shallots seed = TSS) sebagai benih untuk bahan perbanyakan tanaman bawang merah merupakan salah satu alternatif yang perlu dikembangkan. Penggunaan biji botani (TSS) dalam produksi bawang merah lebih menguntungkan daripada penggunaan umbi karena TSS dapat meningkatkan produktivitas tanaman sampai 100% dibandingkan dengan penggunaan umbi (Basuki 2009).