Krik Terhadap Kehidupan Spektakuler: Sebuah Tanggapan Mengenai Pagelaran Seni Bandung oleh Tida Wilson From the playground to the wasteground hope ends at seventeen Guarantees and lie-filled speeches, but nothings what it seems Qualified and patronised and with everything to lose. — The Style Council, “With Everything to Lose” Diskusi terkini tentang dunia seni, sedaknya dalam kurun waktu ga sampai lima tahun belakangan, terpusat pada pertanyaan-pertanyaan tentang hubungan antara seni dan akvisme—yaitu, pada kemampuan seni yang berfungsi sebagai arena dan medium untuk berdemonstrasi dan menjalankan misi-misi sosial. Fenomena ini sangat penng bagi zaman yang kita hidupi sekarang, karena fenomena ini masih terbilang baru—berbeda dengan fenomena “seni kris” yang cukup populer dalam beberapa dekade terakhir. Perbedaan ini kentara tak hanya melalui perbedaan praksis, tetapi juga teores. Seorang seniman cum akvis kini tak lagi hanya berperan sebagai krik: mengkrik sebuah sistem seni atau kondisi polik dan sosial yang melatarbelakangi sistem tersebut. Sebaliknya, mereka justru ingin mengubah kondisi tersebut dengan menggunakan seni—bukan sekedar mengubah sistem seni dari dalam, tapi juga situasi di luarnya, dalam ruang lingkup realitas itu sendiri. Para seniman cum akvis bergiat melakukan berbagai macam proyek-proyek sosial dengan menginterupsi ruang-ruang publik, mengubah kondisi hidup di daerah-daerah miskin, meningkatkan kesadaran ekologis penduduknya, menawarkan akses terhadap budaya dan pendidikan, memperbaiki kondisi kerja di instusi seni, dan seterusnya. Dengan kata lain, akvisme dalam seni merupakan reaksi atas bangkrutnya negara modern yang dianggap tak lagi kompeten dalam memenuhi peran-peran sosialnya (civil dues). Dari premis inilah, ikad serta pembenaran-pembenaran seniman dan budayawan yang tergabung dalam pagelaran Seni Bandung berakar.