94 J. Hort. Vol. 24 No. 2, 2014 J. Hort. 24(2):94-101, 2014 Morfogenesis Eksplan Keping Biji dari Tiga Klon Manggis (Garcinia mangostana L.) Pada Tiga Jenis Media Dasar [Morphogenesis of Seed Slice Explants of Three Different Clones of Mangosteen (Garcinia mangostana L.) On Three Basal Media] Joni, YZ 1) , Efendi, D 2) , dan Roostika, I 3) 1) Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Jl. Raya Solok - Aripan KM. 8, Solok 27301 2) Departemen Agronomi dan Hortikultura Institut Pertanian Bogor (IPB) 3) Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Jl. Tentara Pelajar 3A, Bogor 16111 E-mail: zendrajoni@gmail.com Naskah diterima tanggal 27 Desember 2014 dan disetujui untuk diterbitkan tanggal 22 Mei 2014 ABSTRAK. Sistem regenerasi manggis secara in vitro merupakan metode alternatif yang mendukung upaya produksi benih secara masal dan pemuliaan tanaman manggis secara bioteknologi. Dalam kultur in vitro, jenis klon dan media dasar sangat menentukan pertumbuhan biakan manggis. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari respons in vitro (morfogenesis) tiga klon manggis yang dikulturkan pada tiga jenis media dasar. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB Biogen) dari bulan Januari sampai Agustus 2013. Percobaan disusun secara faktorial dalam lingkungan rancangan acak lengkap. Faktor pertama yaitu eksplan yang berasal dari tiga klon manggis (Leuwiliang, Wanayasa, dan Puspahiang). Faktor kedua adalah tiga jenis media dasar (MS, WPM, dan B5). Setiap media diperkaya dengan gula 30 g/l, phytagel 2,5 g/l, glutamin 300 mg/l, dan 6-benzyldenine (BA) 5 mg/l. Setiap perlakuan terdiri atas 25 ulangan (botol). Dalam setiap botol terdapat tiga irisan melintang biji manggis yang berasal dari satu biji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi antara jenis klon dengan jenis media dasar untuk peubah jumlah tunas, tinggi tanaman, jumlah daun/ tunas, dan jumlah daun total. Terdapat interaksi antara jenis klon dengan jenis media dasar, yaitu untuk peubah jumlah nodul. Menariknya, penggunaan media MS menyebabkan jumlah tunas, jumlah daun total, dan jumlah nodul yang terbanyak. Tinggi tunas tertinggi diperoleh dari penggunaan media WPM dan B5. Selain itu, morfogenesis klon Wanayasa dan Puspahiang lebih baik daripada klon Leuwiliang. Katakunci: Garcinia mangostana L.; Morfogenesis; Media dasar; Klon ABSTRACT. Regeneration system of mangosteen through in vitro culture is an alternative method to support mass seed production and biotechnological breeding of mangosteen. On in vitro culture, clones and basal media mostly affect the growth of cultures. This research aimed to study the in vitro response (morphogenesis) of three different clones of mangosteen that cultured on three different basal media. The experiment was conducted at Tissue Culture Laboratory, Indonesian Center for Agricultural Biotechnology and Genetic Resources Research and Development (ICABIOGRAD) from January until August 2013. The experiment was arranged as factorial design in completely randomized design. The first factor was the origin of explants source from Leuwiliang, Wanayasa, and Puspahiang. The second factor was the basal media (MS, WPM, and B5). Each media was enriched with 30 g/l sugar, 2,5 g/l phytagel, 300 mg/l glutamine, and 5 mg/l BA. Each treatment consisted of 25 replicates (bottles). Each bottle contained of three explants (three sections of one-third seed). The results showed that there was no interaction between the origin of clones with basal media for number of shoots, plant height, number of leaves/shoots, and total number of leaves. There was interaction between clones with basal media only for number of nodules. Interestingly, the MS medium provided highest the number of shoots, total number of leave, and number of nodules. The using WPM and B5 media caused the highest number of plant height. Furthermore, morphogenetic responses of the clones of Wanayasa and Puspahiang were better than the clone of Leuwiliang. Keywords: Garcinia mangostana L.; Morphogenesis; Basal media; Clones Manggis (Garcinia mangostana L.) dikenal sebagai Queen of the tropical fruits karena rasa buahnya yang enak. Umumnya, buah manggis dikonsumsi dalam bentuk segar, diolah menjadi jus, dan juga dimanfaatkan sebagai suplemen minuman kesehatan. Saat ini, buah manggis sangat populer, terutama di bidang industri kesehatan. Kulit buah manggis menghasilkan metabolit sekunder dari jenis xanthone yang bermanfaat sebagai anti oksidan, anti tumor, anti alergi, anti peradangan, anti bakteri, dan anti virus (Chomnawang et al. 2007, Pedraza-Chaverri et al. 2008). Artinya, pada masa mendatang manggis mempunyai prospek yang sangat cerah untuk dikembangkan dan dapat menjadi buah unggulan sebagai komoditas ekspor Indonesia. Salah satu sentra produksi manggis di Indonesia adalah Provinsi Jawa Barat (Rukmana 1994), dengan penyebarannya antara lain di Leuwiliang, Purwakarta, dan Tasikmalaya. Manggis dari daerah Leuwiliang yang telah dilepas adalah varietas Raya. Keunggulan varietas ini adalah bentuk buah bulat, rasa manis, dan biji kecil (Kementerian Pertanian 2010). Manggis dari daerah Purwakarta yang telah dilepas adalah varietas Wanayasa. Keunggulan varietas ini adalah ukuran buah yang memenuhi standar nasional untuk ekspor, bentuk buah bulat, warna merah keunguan, daging putih dengan rasa manis segar, daya simpan lama, kelopak kuat, dan beradaptasi dengan baik di dataran tinggi (Kementerian Pertanian 2006).