JURNAL TEKNIK ITS Vol. 5 No. 2 (2016) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) B-557 Studi Eksperimental Variasi Kuat Medan Magnet Induksi Pada Aliran Bahan Bakar Terhadap Unjuk Kerja Mesin SINJAI 650 CC (Studi Kasus: Mapping Sumber Tegangan Induksi Magnet) Mirza Hamdhani, Bambang Sudarmanta Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia e-mail: tpbb@me.its.ac.id, mirzacrizta@yahoo.co.id, sudarmanta@me.its.ac.id Abstrak—Pemberian induksi medan magnet pada aliran bahan bakar dapat memberikan efek de-clustering pada molekul CH dari kondisi semula molekul CH membentuk clustering. De-clustering molekul CH ini akan memudahkan oksigen untuk terikat lebih menyeluruh pada molekul CH pada saat proses pengoksidasian, sehingga tercapainya pembakaran yang lebih baik. Pengujian ini memvariasikan nilai resistansi induksi magnet yakni, B2=900 Ω, B1=700 Ω dan B0=460 Ω, serta memvariasikan besar tegangan yang diberikan pada masing-masing induksi medan magnet dari 20 VDC – 100 VDC dengan interval kenaikan 20 VDC. Pengujian dimmulai dengan mengukur besar kuat medan magnet induksi. Kemudian pengujian FTIR mengetahui gugus fungsional senyawa bahan bakar dan mempelajari reaksi yang terjadi melalui radiasi infra merah yang divisualkan sebagai fungsi frekuensi (atau panjang gelombang) radiasi, Melakukan pengujian unjuk kerja dengan full open throttle pembebanan putaran dengan waterbrake dynamometer pada putaran mesin 5000 rpm – 2000 rpm dengan interval 500 rpm. Pada pengujian FTIR bahan bakar setelah dipengaruhi induksi magnet menunjukkan perubahan intensitas transmittance pada panjang gelombang. Kenaikan maksimal pada pemberian 100 V, yaitu B2=20.155 %, B1=22.636 %, dan B0=25.679%. Pada unjuk kerja terhadap setiap variasi tegangan semua unjuk kerja terbaik pada B0 100 V, yakni menaikkan persentase torsi = 9.79%, daya = 9.202%, bmep = 9.79%, efficiency thermal = 19.89%, dan menurunkan bsfc = 16.66%. Hasil emisi menunjukkan perbaikan kualitas emisi, yaitu paling baik didapat pada B0 100V. Secara rata-rata menurunkan CO = 44.97%, HC =18.36% dan untuk CO2 menaikkan 18.22%. Kata Kunci—Medan Magnet, effisiensi pembakaran, FTIR, Internal Combustion Engine, Unjuk Kerja SINJAI 650 cc. I. PENDAHULUAN emberian medan magnet pada aliran bahan bakar dapat mempengaruhi kualitas bahan bakar khususnya premium. Kualitas bahan bakar disini dalam arti memperbaiki kualitas molekul penyusun utama premium yaitu hidrokarbon. Hidrokarbon dalam senyawa premium akan cenderung tarik menarik sastu sama lain, membentuk molekul-molekul yang bergerombol (clustering). Pemberian medan magnet pada aliran bahan bakar akan memberikan reaksi penolakan antara molekul hidrokarbon (declustering), sehingga pada saat pencampuran bahan bakar dengan oksigen pada intake manifold menjadi lebih baik [2]. Dengan demikian jumlah campuran BBM dan O 2 akan ideal sehingga pembakaran yang berlangsung lebih effisien dan bersih. Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Ali S. Faris [4], dengan mem-variasikan magnet permanen 2000, 4000, 6000, dan 9000 Gauss, pada pengujian variasi beban putaran 3500, 4500, 5000 menunjukkan perbaikan pada unjuk kerja dan emisi mesin. Pada penelitiannya diperoleh perbaikan unjuk kerja pada fuel consumption, yang dimana semakin besar medan magnet pada beban putaran yang sama semakin menurunkan konsumsi bahan bakarnya. Semakin tinggi beban putaran yang diberikan pada besar medan magnet yang sama, akan semakin baik juga unjuk kerja pada konsumsi bahan bakarnya. Hal itu terjadi pada besar medan magnet 9000 gauss dengan beban putaran 5000, 4500, 3500 rpm. Penelitian yang dilakukan Syarifudin [3] dengan penggunaan medan magnet induksi pada aliran bahan bakar terjadi perbaikan unjuk kerja dimana semakin tinggi besar kuat medan magnet yang digunakan, semakin baik pula perbaikannya jika dibandingkan kondisi standart (tanpa magnetisasi). Pada pengujiannya dilakukan variasi medan magnet induksi sebesar 100, 200, 300 Gauss dengan sumber tegangan yang konstan dari baterai 12 V. Perbaikan unjuk kerja yang paling baik terjadi pada magnet sebesar 300 Gauss disetiap kenaikan beban putaran dibandingkan kondisi standar, pada parameter unjuk kerja yaitu, torsi, daya, specific fuel consumption, effisiensi thermal, dan emisi gas buang. Hal tersebut menandakan bahwa semakin tinggi beban putaran pada mesin maka semakin tinggi pula kebutuhan medan magnet pada aliran bahan bakar. Kondisi molekul bahan bakar yang di alirkan melewati medan magnet induksi dapat ditinjau menggunakan pengujian Fourier Transformed Infra Red (FTIR). Pengujian dengan FTIR ini akan menganalisa spectrum dari molekul penyusun bahan bakar, khususnya hidrokarbon. Metode ini digunakan juga oleh Syarifudin [3], sehingga beliau dapat mengetahui kondisi spectrum molekul hidrokarbon pada penelitiannya. P