TIN: Terapan Informatika Nusantara Vol 2, No 3, Agustus 2021, Hal 159-164 ISSN 2722-7987 (Media Online) Website https://ejurnal.seminar-id.com/index.php/tin Fitriana Harahap, TIN |Page 159 Deteksi Foto Manipulasi Dengan Tools Forensicallybeta dan Imageforensic.org Dengan Metode Error Level Analysis (ELA) Fitriana Harahap Prodi Informatika, Universitas Potensi Utama, Medan, Indonesia Email: fitrianaharahap1@gmail.com AbstrakPerkembangan era digital saat ini, menjadikan sebuah foto dapat dimanipulasi dengan mudah sehingga dapat merubah informasi yang disampaikan menjadi berbeda dan membuatnya rawan digunakan untuk tindak kejahatan. Forensik citra digital merupakan salah satu cara ilmiah untuk membuktikan keaslian foto. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis sebuah digital image yang telah dimanipulasi atau direkayasa dengan menggunakan software atau program tertentu. Sedangkan alat analisisnya menggunakan metode Error Level Analysis (ELA) yang diperkenalkan oleh Krawetz. Tools yang digunakan adalah Imageforensics (http:// http://imageforensic.org//) dan ForensicallyBeta (https://29a.ch/photo-forensics/#forensicmagnifier) berbasis web. Hasil yang didapat dari penelitian ini adalah terdeteksinya perbedaan kontras noise antara foto asli dan foto manipulasi yang menunjukkan terjadinya perubahan pada foto tersebut. Foto manipulasi dengan cara image splicing pada umumnya menghasilkan bintik bintik yang lebih gelap, sedangkan foto yang asli menghasilkan bintik bintik yang lebih terang. Kata Kunci: Forensik Citra Digital; Error Level Analysis; Forensicallybeta AbstractThe development of the current digital era, makes a photo easily manipulated so that it can change the information conveyed to be different and make it vulnerable to being used for crime. Digital image forensics is one of the scientific ways to prove the authenticity of photos. The purpose of this research is to analyze a digital image that has been manipulated or engineered using certain software or programs. While the analysis tool uses the Error Level Analysis (ELA) method introduced by Krawetz. The tools used are web-based Imageforensics (http://imageforensic.org//) and ForensicallyBeta (https://29a.ch/photo- forensics/#forensicmagnifier). The results obtained from this study are the detection of differences in noise contrast between the original photo and the manipulated photo, which indicates a change in the photo. Photo manipulation by means of image splicing generally produces darker spots, while the original photo produces lighter spots. Keywords: Digital Image Forensics; Error Level Analysis; Forensicallybeta 1. PENDAHULUAN Pemalsuan citra sering tak dapat dikenali secara kasat mata karena citra hasil modifikasi sulit ditentukan keasliannya. Kasus modifikasi citra yang terjadi misalnya adalah kasus beredarnya foto-foto yang melibatkan pejabat, artis atau publik figur yang memuat konten-konten yang sensitif sehingga menimbulkan kehebohan di masyarakat[1]. Kemunculan citra-citra digital yang dimodifikasi akan menimbulkan permasalahan-permasalahan dalam kehidupan sosial seperti penyebaran informasi-informasi yang tidak benar, sehingga sangat mudah terjadi kesalah pahaman. JPEG “Joint Photographic Experts Group” merupakan salah satu format citra yang paling sering digunakan, dimana JPEG adalah sebuah format citra yang memiliki format lossy (dimana metode untuk mengkompresi data dengan hasil perbedaan data yang tidak terlalu jauh dari data sebelum kompresi), tetapi banyaknya error yang tesimpan tidak sama dengan citra sebelum proses kompresi[2]. Metode Error level analysis (ELA) adalah sebuah teknik untuk mendekteksi manipulasi citra dengan menyimpan ulang citra pada level kualitas tertentu, dan kemudian menkomputasi perbedaan antara citra kompresi dan citra sebelumnya. Jika citra tidak diubah, grid 8x8 piksel seharusnya memiliki potensi error yang sama. Tetapi, jika citra diubah, sebagian dari citra yang telah dimanipulasi akan memiliki potensi error yang lebih tinggi dari bagian citra lainnya. ELA bekerja dengan menyimpan ulang citra untuk mengetahui rata-rata nilai error [3]. Citra digital adalah salah satu jenis digital evidence yang memiliki risiko perubahan hingga menyebabkan adanya kerusakan dan kehilangan informasi yang sangat tinggi.Citra digital adalah sebuah representasi objek yang diolah di dalam perangkat komputer yang diperoleh dari beragam peranglkat digital. Data pada citra digital berisi beragam informasi sehingga di dalam persidangan dan ranah digital forensik, citra digital digunakan sebagai barang bukti [4]. Forensik citra digital merupakan salah satu metode ilmiah pada bidang penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan fakta-fakta pembuktian dalam menentukan keaslian image [5][6]. Berbagai kasus kriminal dan pornografi yang melibatkan file gambar masih kerap terjadi, oleh karena itu forensic digital terhadap gambar sebagai barang bukti menjadi kunci penting untuk membantu pengadilan dalam mengambil keputusan [7]. Penelitian ini akan dilakukan dengan menggunakan 2 tools berbasis web yaitu Imageforensics dan ForensicallyBeta dengan metode Error Level Analysis. Kedua tools ini merupakan aplikasi yang dapat digunakan untuk menganalisis gambar/foto untuk membuktikan apakah gambar tersebut telah dimanipulasi atau tidak [8]. Penelitian yang dilakukan oleh Yuli Sulistyo [9], dengan hasil yang diperoleh teknik ELA (Error Level Analysis) pada Forensicallybeta dapat digunakan untuk mendeteksi keaslian suatu citra. Analisis 2 foto yang sudah dilakukan terdapat perbedaan pada hasil akhirnya sehingga dapat mengetahui citra asli maupun yang sudah diedit. Penelitian yang dilakukan oleh penulis Mahardika [10] dengan hasil yang diperoleh bahwa fotoforensics.com dapat digunakan sebagai deteksi keaslian citra atau gambar yang tepat. Fasilitas yang disediakan dari fotoforensics.com bisa digunakan dan sangat efisien pada teknik ELA (Error Level Analysis) dan teknik JPEG %. Tingkat akurasi yang