28 LEKSEM GOLEK ‘MENCARI’ DALAM BAHASA JAWA Alfelia Nugky Permatasari 1 Program Studi Diploma Bahasa Inggris, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada 1 alfelia.nugky.p@ugm.ac.id ABSTRAK Setiap bahasa di dunia merupakan alat primer bagi penuturnya dalam berkomunikasi satu sama lain. Masing-masing bahasa memiliki keunikannya tersendiri hingga tidak ada bahasa yang lebih spesial dibandingkan bahasa lainnya. Salah satu keunikan bahasa yang menarik untuk ditilik adalah banyaknya leksem yang dimiliki suatu bahasa, saat bahasa lain hanya memiliki sedikit kosakata untuk menjelaskan suatu konsep tertentu. Penelitian ini berfokus pada leksem golek dalam bahasa Jawa yang memiliki arti inti ‘mencari’. Banyaknya leksem yang secara umum diwakilkan oleh kata golek diantaranya: njala , ngarit , mancing , dan lain-lain. Penelitian ini mencoba untuk memperlihatkan perbedaan di antara mereka dengan melihat komponen-komponen makna yang dimiliki oleh leksem- leksem tersebut. Leksem yang menjadi data diperoleh dengan metode introspeksi yang kemudian dipastikan maknanya dengan bantuan kamus dan wawancara dengan penutur asli bahasa Jawa lain. Teori analisis semantik struktural oleh Nida (1975) digunakan untuk menganalisis makna leksem- leksem yang menjadi data dalam penelitian, yang kemudian dilihat penggunaannya dalam kalimat untuk memperlihatkan perbedaan antar leksem, khususnya leksem-leksem dengan komponen makna yang sama.Dalam sekurang-kurangnya lima belas leksem bermakna ‘mencari’ yang ditemukan dalam bahasa Jawa, terdapat enam dimensi makna yang membedakan mereka. Keenam dimensi makna tersebut antara lain, SUMBER TENAGA, OBJEK, KEPEMILIKAN, KEPENTINGAN, TEMPAT, dan PELAKU. Meskipun beberapa di antara leksem-leksem tersebut memiliki kesamaan komponen makna pada beberapa dimensi makna, tetap ditemukan perbedaan-perbedaan komponen makna di antara leksem-leksem tersebut. Hal ini memperkuat pendapat bahwa tidak ada dua kata yang bersinonim mutlak atau persis sama maknanya. Kata kunci: bahasa Jawa, leksem, makna, semantik PENDAHULUAN Tidak ada bahasa yang lebih baik daripada bahasa yang lain. Setiap bahasa memiliki keunikan masing-masing, baik dalam tataran mikro, seperti morfologi, fonologi, sintaksis, dan semantik, juga pada tataran makro layaknya pragmatik dan sosiolinguistik. Semua bahasa di dunia memiliki fungsi yang tak kalah pentingnya bagi para penuturnya, yaitu sebagai alat primer untuk saling berkomunikasi satu sama lain. Terkait dengan hal ini, Leech (1981) memaparkan peranan bahasa sebagai sistem komunikasi konseptual, yaitu sebagai sarana menyampaikan konfigurasi ide, baik dalam bentuk wacana lisan maupun wacana tulis. Tanpanya, tentu proses komunikasi antar insan di dunia belum tentu dapat berjalan lancar. Salah satu keunikan bahasa yang menarik untuk dilihat adalah bayaknya leksem-leksem yang dimiliki suatu bahasa, ketika bahasa lain hanya memiliki sedikit kosakata untuk menerangkan suatu hal tertentu. Kridalaksana (2008) mengartikan leksem sebagai satuan leksikal dasar yang abstrak yang mendasari pelbagai bentuk inflektif suatu kata. Bahasa Jawa misalnya, memiliki sekumpulan leksem yang memiliki arti inti yang sama, yaitu ‘mencari’. Leksem-leksem yang secara umum diwakilkan oleh kata golek diantaranya: njala, ngarit, mancing, dan lain-lain. Perbedaan leksem-leksem yang digunakan untuk mengungkapkan makna ‘mencari’ atau golek tentu memiliki maksud tertentu, misalnya menunjukkan kespesifikan kegiatan ‘mencari’ atau golek yang sedang dilakukan. Pengetahuan akan perbedaan makna yang dimiliki leksem-leksem ini tentu sangat dibutuhkan khususnya bagi para pembelajar bahasa Jawa dalam menggunakan bahasa tersebut sesuai konteksnya. Keunikan dan kebutuhan inilah yang melatarbelakangi