Original Article
415
Volume 4, Number 3, February, (2021), pp. 415-428
ISSN 2580-2046 (Print) | ISSN 2580-2054 (Electronic)
Pusat Kajian Penelitian dan Pengembangan Bimbingan dan Konseling
DOI: 10.26539/teraputik-43543
Open Access | Url: https://journal.unindra.ac.id/index.php/teraputik/index
Guru BK perempuan Jawa-Melayu dan laki-laki Batak
lebih mempengaruhi self-disclosure konseli
Nelyahardi Gutji
1*)
, Hera Wahyuni
2
Universitas Jambi
12
*) Alamat korespondensi: Jl. Muara Bulian No.Km. 15, Muaro Jambi, 36122, Indonesia; E-mail:
nelyahardi.fkip@unja.ac.id
Article History:
Received: 22/01/2021;
Revised: 11/02/2021;
Accepted: 17/02/2021;
Published: 28/02/2021.
How to cite:
Gutji, N. & Wahyuni, H. (2021).
Guru BK perempuan Jawa-
Melayu dan laki-laki Batak lebih
mempengaruhi self-disclosure
konseli. Teraputik: Jurnal
Bimbingan dan Konseling, 4(3),
pp. 415–428. DOI:
10.26539/teraputik-43543
This is an open
access article
distributed under the Creative
Commons 4.0 Attribution
License, which permits
unrestricted use, distribution,
and reproduction in any medium,
provided the original work is
properly cited. © 2021,
Nelyahardi Gutji & Hera
Wahyuni(s).
Abstrak: Guru BK hendaknya memahami perbedaan budaya antara dirinya dan konseli untuk
memudahkan proses self-disclosure dalam konseling individu. Penelitian ini bertujuan
memaparkan hasil uji empirik mengenai perbedaan self-disclosure konseli dalam konseling
individu ditinjau dari jenis kelamin & budaya guru BK/Konselor. Jenis penelitian yaitu kuantitatif
dengan desain komparatif. Populasi sebanyak 765 siswa, penarikan sampel menggunakan
purposive sampling dengan jumlah 224 siswa yang pernah mengikuti konseling individu.
Pengumpulan data menggunakan instrumen Self-Disclosure dalam Konseling Individu (SSKI).
Analisis data meliputi uji persyaratan analisis, dan uji hipotesis menggunakan Anova dua jalur.
Penelitian menghasilkan perbedaan nilai rata-rata budaya Melayu perempuan 82,075 laki-laki
75,800; budaya Batak perempuan 82,067 laki-laki 86,500; dan pada budaya Jawa perempuan
87,487 laki-laki 83,086. Kesimpulannya, konseli cenderung lebih terbuka pada guru BK berjenis
kelamin perempuan dengan budaya Jawa dan Melayu Jambi. Berbeda dengan Batak, konseli
cenderung lebih terbuka pada guru BK laki-laki.
Kata Kunci: Self-Disclosure, Konseling, Budaya, Gender
Abstract: Guidance & counseling teachers should understand the cultural differences between
himself and the counselee to facilitate the self-disclosure process in the individual counseling.
This study aims to present the results of empirical tests regarding the differences in counselee
self-disclosure in individual counseling in terms of gender and culture of the counseling. This type
of research is quantitative with a comparative design. A population of 765 students, sampling
using purposive sampling with a total of 224 students who have attended individual counseling.
Data collection used the Self-Disclosure in Individual Counseling (SSKI) instrument. The data
analysis includes the analysis requirements test, and hypothesis testing using two-way Anova.
The research resulted in differences in the mean value of female Malay culture 82,075 men
75,800; Batak culture for women 82,067 men 86,500; and in Javanese culture, women were
87.487 men 83.086. In conclusion, counselees tend to be more open to female counseling
teachers with Javanese and Jambi Malay cultures. Unlike the Batak, counselees tend to be more
open to male counseling teachers.
Keywords: Self-Disclosure, Counseling, Culture, Gender
Pendahuluan
Tantangan yang terjadi pada masa remaja begitu kompleks dan banyak perubahan yang
terjadi pada dirinya, baik psikis, maupun fisik (Zulamri, 2019). Adanya ketidakmampuan remaja
mengadapi dan menyelesaikan perubahan-perubahannya dapat menimbulkan gejolak pada diri
individu yang terjadi berbagai macam konsekuensi pada psikologis dan emosional yang berefek
hingga stres yang akan merugikan dirinya apabila tidak mampu untuk mengendalikannya.
Dengan peran konselor melakukan layanan konseling individu, diharapkan remaja terbantu untuk
menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi. Konselor diharapkan membantu remaja
untuk beradaptasi dengan lingkungan dalam berbagai proses perkembangan diri yang harus
dilaluinya.
Konseling individu merupakan layanan dalam bimbingan & konseling yang bertujuan
membantu konseli dalam mengentaskan permasalahan yang dihadapi individu (Sukarman, 2020;
Widiarni, 2020). Milne (dalam Yusuf, 2016) mengemukakan melalui konseling individu, konseli