Seminar Nasional FMIPA UNDIKSHA III Tahun 2013 261 SUPLEMENTASI JAMU TERNAK PADA AYAM KAMPUNG DI PETERNAKAN UNGGAS SEKTOR 4 Tuty Maria Wardiny 1* , T. Eduard Azwar Sinar 2 PS. Agribisnis-FMIPA, Universitas Terbuka, Tangerang, Indonesia tuty@ut.ac.id Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan tumbuhan obat (herbal) Indonesia bagi ternak unggas khususnya ayam kampung, agar dapat diaplikasikan oleh peternak dalam meningkatkan performan ternak dan mempertahankan kesehatan. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL). Seratus delapan puluh ekor anak ayam kampung umur satu hari dibagi menjadi 3 (tiga) perlakuan dan 4 (empat) ulangan, dan masing-masing ulangan terdiri dari 15 ekor anak ayam. Ransum perlakuan adalah ransum kontrol (R0), jamu ternak di dalam air minum (R1) dan jamu ternak di dalam ransum (R2). Parameter yang diukur adalah konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, konversi ransum, mortalitas dan Income Over Feed Chick and Cost (IOFCC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, dan konversi ransum ayam kampung nyata (P<0,05) dipengaruhi oleh ransum perlakuan. Pemberian jamu ternak dalam air minum dan ransum ayam kampung memberikan hasil yang lebih baik terhadap performan, mortalitas dan Income Over Feed Chick and Cost (IOFCC) dibandingkan dengan ransum kontrol. Kata-kata kunci: Ayam kampung, Income Over Feed Chick and Cost (IOFCC), jamu ternak 1. Pendahuluan Serangkaian studi tentang tanamanan obat (herbal) yang dilakukan oleh Balai Penelitian Ternak Bogor membuktikan bahwa Indonesia berpotensi besar menjadi negara penghasil obat flu burung berkualitas di dunia. Indonesia dikenal sebagai negara dengan memiliki kekayaan hayati tumbuhan yang tinggi dan warisan budaya dalam pemanfaatan tanaman obat untuk mengatasi berbagai penyakit termasuk flu burung. Sejak krisis moneter yang terjadi di Indonesia sampai saat ini harga obat buatan pabrik luar negeri (impor) sangat mahal. Sehingga tidak terjangkau para peternak khususnya peternak skala menengah kebawah. Oleh karena itu peternak mencari alternatif lain dengan memanfaatkan berbagai tanaman obat lokal sebagai obat tradisional yang disebut jamu ternak. Ramuan herbal jamu ternak tersebut dapat diberikan dalam bentuk larutan melalui air minum atau dalam bentuk tepung yang dicampur kedalam ransum sebagai makanan tambahan (feed suplement). Disamping itu jamu ternak dapat dibuat sendiri oleh peternak sehingga harganya lebih murah bila dibandingkan dengan harga obat pabrik, khasiatnya cukup ampuh untuk mencegahan maupun mengobati penyakit ternak unggas. Sebelum ada wabah flu burung beberapa peternak unggas skala kecil secara rutin telah menggunakan ramuan obat tradisional untuk ternak-ternaknya, baik melalui air minum atau dicampur dalam ransum, dan ternyata ternak mereka terhindar dari serangan penyakit flu burung (Zainuddin, 2006). Di Balai Penelitian Ternak Bogor, telah dilakukan uji pemberian jamu ternak yang terdiri dari kombinasi beberapa tanaman obat yang mengandung zat aktif, yang berfungsi sebagai anti viral, antibiotik, dan antibakteri. Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat respon positif terhadap peningkatan imunitas terhada penyakit ND dan flu burung. Hal ini dibuktikan dari hasil titer darah ayam uji (Zainuddin, 2007; Zainuddin, dkk., 2008; Januwati,dkk., 2008). Berdasarkan penelitian/ pengujian jamu ternak pada skala laboratorium, diperoleh bahwa ternak unggas yang diberi jamu ternak ternyata memiliki angka mortalitasnya yang rendah (dibawah 10%), ayamlebih sehat, dan ramah lingkungan (bau amonia dari kotoran berkurang), lemak abdominalnya lebih sedikit, dan penggunaan pakannya lebih efisien dan ekonomis (Zaiunuddin, 2007). Hasil eksperimen tingkat laboratorium seperti diuraikan tersebut di atas perlu ditindaklanjuti dengan melakukan penelitian dilapangan pada peternak skala usaha kecil. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji dan memanfaatkan tumbuhan obat (herbal) Indonesia untuk ternak unggas khususnya ayam kampung, agar dapat diaplikasikan oleh peternak skala kecil dalam