Jurnal ILMU DASAR, Vol. 10 No. 2, Juli 2009 : 219-224 219 Efek Kondisi Hiperglikemik terhadap Struktur Ovarium dan Siklus Estrus Mencit (Mus musculus L) Effect of Hyperglikemic Conditions on Ovarian Structure and Estrous Cycle of Mice (Mus musculus L) Eva Tyas Utami, Rizka Fitrianti, Mahriani, Susantin Fajariyah Jurusan Biologi FMIPA Universitas Jember ABSTRACT Streptozotocin cause hyperglycemic condition in mice. The objective of this study was to determine whether the hyperglycemic conditioned by streptozotocin (STZ) has an impact at folicullar atretic and estrous cycle prolonged. Mice were injected by STZ until hyperglycemic condition was reached. The vaginal smear was recorded daily for twice estrous cycle. Mice were sacrificed soon after the last vaginal smear observation. The ovary was removed, prepared by parafin method and stained by hematoxylin-eosin.The result showed that hyperglycemic causes increasing the number of atretic follicles, decreasing the number of corpus luteum and prolonged of estrous cycle. Keywords : Hyperglycemic, ovarian, estrous cycle PENDAHULUAN Gula darah adalah istilah yang mengacu pada kadar glukosa di dalam darah. Glukosa yang dialirkan melalui darah adalah sumber energi utama untuk sel-sel tubuh. Kadar gula darah diatur melalui umpan balik negatif untuk mempertahankan keseimbangan di dalam tubuh. Pankreas terperan dalam pengaturan kadar glukosa dalam darah. Apabila konsentrasi glukosa menurun, maka pankreas melepaskan glukagon yang akan mengubah glikogen menjadi glukosa, proses ini disebut glikogenolisis. Glukosa dilepaskan ke dalam aliran darah, sehingga kadar gula darah meningkat. Apabila kadar gula darah meningkat, maka hormon insulin dilepaskan dari sel beta pankreas. Hormon ini menyebabkan hati mengubah lebih banyak glukosa menjadi glikogen (Wikipedia 2005). Gula di dalam darah tidak dapat masuk dalam sel-sel jaringan tubuh lainnya seperti otot dan jaringan lemak apabila tidak terdapat insulin. Penurunan hormon insulin mengakibatkan seluruh gula (glukosa) yang dikonsumsi tubuh tidak dapat di proses secara sempurna, sehingga kadar glukosa di dalam tubuh akan meningkat (Utami 2003). Apabila kadar glukosa darah seseorang meningkat tajam dalam waktu relatif singkat, kondisi ini disebut dengan hiperglikemik (Ranakusuma 1997, Soeharto 2001, Utami 2003). Pada mencit kadar glukosa dalam darah normal adalah 62-175 mg/dl (Malole & Pramono 1989), apabila kadar glukosa dalam darah melebihi angka tersebut maka mencit dapat dipastikan dalam keadaan hiperglikemik. Hiperglikemik dapat menyebabkan gangguan metabolisme karbohidrat, protein, dan lipid. Akibat gangguan metabolisme tersebut dapat menyebabkan kegagalan pada berbagai organ, terutama mata, ginjal, saraf, jantung, dan pembuluh darah (Kurniawan 2005, Lumbantobing 2003), serta pada organ reproduksi. Menurut Garris et al. (1984) kondisi hiperglikemik pada hamster china (Cricetus griseus) dapat menyebabkan kerusakan struktur endometrium sehingga mengakibatkan meluasnya sel epitel pada lumen dan degenerasi membran stroma, terjadinya atropi sel-sel uterus dan akumulasi lipid. Berdasarkan penelitian Garris & Garris (2003), pada tikus hiperglikemik terjadi atropi folikel akibat adanya akumulasi lipid. Hal ini ditandai dengan adanya degenerasi jaringan sehingga terjadi depresi fungsi ovarium. Kondisi hiperglikemik pada sistem reproduksi betina dapat berpengaruh terhadap fungsi folikel ovarium. Keadaan hiperglikemik mempengaruhi transport glukosa dalam ovarium dan produksi estrogen yang dihasilkan oleh folikel ovarium sehingga kadar estrogen dalam tubuh menjadi rendah (Cox et al. 1994).