125 PENGALAMAN KEPUTUSASAAN STROKE SURVIVOR DI KOTA SEMARANG (Hopelessness Experience among Stroke Survivor in Semarang) Sawab*, Moch. Bahrudin*, Novy Helena Catharina Daulima* *Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Semarang Jl. Tirto Agung Pedalangan, Banyumanik, Semarang E-mail: sawabfatih@yahoo.com ABSTRAK Pendahuluan: Keputusasaan merupakan penilaian negatif terhadap hasil yang akan dicapai dan ketidakberdayaan terhadap suatu harapan. Keputusasaan dapat terjadi pada stroke survivor karena adanya disabilitas akibat defisit neurologisnya serta waktu yang lama dalam penyembuhannya. Kondisi ini dapat berlanjut pada gangguan mental emosional maupun tindakan suicide. Oleh karena itu gambaran pengalaman keputusasaan stroke survivor dibahas dalam penelitian ini. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif fenomenologi terhadap 6 partisipan. Hasil: Hasil penelitian didapatkan tujuh tema utama yaitu (1) Perubahan fisik sebagai akibat respons keputusasaan, (2) Respons kehilangan sebagai stressor keputusasaan, (3) Disfungsi proses keluarga, (4) Kehilangan makna hidup, (5) Dukungan dan motivasi diri sebagai sumber koping menghadapi keputusasaan, (6) Hikmah spiritual dibalik keputusasaan stroke survivor, dan (7) dapat menjalani kehidupan dengan lebih baik. Diskusi: Penelitian ini menyarankan dikembangkannya standar asuhan keperawatan keputusasaan dan pemberian dukungan keluarga serta psikoedukasi keluarga bagi stroke survivor. Kata kunci: Stroke survivor , pengalaman keputusasaan, kualitatif ABSTRACT Introduction: Hopelessness was a negative feelings about goal achievement and powerlessness feeling against an expectation. Hopelessness in stroke survivors can occur due to prolonged disability and neurologic deficit. This condition can lead to emotional and mental disorders even a suicide action. Therefore, it was a need to explore hopelessness experience in stroke survivors. Method: This study was a qualitative descriptive phenomenology with 6 participants. Results: 7 themes were revealed in this study, (1) Physical changes as a response on hopelessness, (2) Loss response as a hopelessness stressor, (3) Dysfunction of the family process, (4) Loss of meaning of life, (5) Self support and motivation as a coping resource against hopelessness, (6) The spiritual meaning behind hopelessness, (7) Can go through a better life. Discussion: This study suggests to develop a nursing care standards in hopelessness, encourage a family support and family psychoeducation for stroke survivors. Keywords: Stroke survivor, hopelessness experiences, qualitative PENDAHULUAN Disabilitas klien paska stroke sebagai akibat defisit neurologis memerlukan waktu penyembuhan yang lama dan berdampak terhadap kondisi psikososial stroke survivor . Terjadinya perubahan psikososial, seperti perasaan harga diri yang rendah, perasaan tidak beruntung, perasaan ingin mendapatkan kembali kemampuan yang menurun, berduka, takut dan putus asa merupakan manifestasi dari keputusasaan bahkan tanda dari depresi. Menurut Abramson, Alloy dan Metalsky (1989) keputusasaan pada hakekatnya merupakan precursor dalam perjalanan depresi. Hasil riset di India 35,29% stroke survivor mengalami depresi. Stroke survivor mengalami sakit yang berlangsung lama, sehingga dapat mempengaruhi harga diri. Harga diri yang rendah akan dapat berlanjut ke kondisi keputusasaan, depresi bahkan tindakan suicide. Teasdale dan Eingberg (2001) menjelaskan stroke survivor berisiko mengalami tindakan suicide pada 5 tahun pertama sakitnya. Kondisi ini menyebabkan stroke survivor dengan keputusasaan sangat berisiko mengalami gangguan mental emosional. Di sisi lain stroke survivor dengan keputusasaan membutuhkan penanganan jangka panjang untuk mengembangkan mekanisme koping yang adaptif dan mencegah berkembangnya stressor disabilitas menjadi kondisi maladaptif.