Jurnal Teknik Kimia, No. 2, Vol. 17, April 2010 55 MENCARI SUHU OPTIMAL PROSES KARBONISASI DAN PENGARUH CAMPURAN BATUBARA TERHADAP KUALITAS BRIKET ECENG GONDOK A. Rasyidi Fachry, Tuti Indah Sari, Arco Yudha Dipura, Jasril Najamudin Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya ABSTRAK Keterbatasan akan ketersediaan sumber energi tak terbaharukan khususnya bahan bakar minyak menjadi ancaman yang cukup serius bagi masyarakat karena penggunaannya yang sangat essensial. Untuk itu pemerintah menggalakkan penggunaan energi alternatif untuk tujuan penghematan. Pemanfaatan energi-energi alternatif, khususnya bagi energi yang dapat diperbaharui (renewable energy), satu diantaranya adalah biomassa. Penyebaran enceng gondok yang cepat menyebabkan sejumlah perairan menjadi tempat timbunan biomassa. Hal ini tentu saja menimbulkan dampak yang kurang baik bagi lingkungan. Melalui penelitian diketahui bahwa eceng gondok dapat diolah menjadi arang, yang apabila ditambahkan bahan pengikat dan diolah lebih lanjut dapat dibuat menjadi briket. Selain dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif pemanfaatan eceng gondok ini dapat memberikan dampak yang positif bagi lingkungan Dari penelitian yang dilakukan suhu optimal untuk proses karbonisasi eceng gondok adalah 400 o C karena suhu 400 o C memiliki nilai kalor yang lebih tinggi dibandingkan dengan suhu 300 o C, 400 o C, dan 600 o C, selain itu penambahan batubara dapat menaikkan nilai kalor dari briket. Dengan melakukan perbandingan hasil uji briket yang dihasilkan dengan standar kualitas briket batubara super PT. Tambang Batubara Bukit Asam (Persero), Tbk kondisi optimum pembuatan briket eceng gondok tercapai pada briket dengan suhu karbonisasi 400 o C dengan persentase jumlah campuran batubara 45 % karena berhasil memenuhi 3 parameter kualitas. Parameter standar kualitas optimum yang terpenuhi yaitu nilai kalor sebesar 5666 Cal/gr, kadar air dengan persentase sebesar 5,304 %, dan kadar karbon padat dengan persentase sebesar 50,618 %. Sedangkan, untuk parameter lain seperti kadar abu dan kadar zat terbang sudah mendekati standar kualitas dengan kadar abu sebesar 18,297 % dan kadar zat terbang sebesar 27,017 %. Kata kunci: eceng gondok, batubara, briket, bahan bakar alternatif. I. PENDAHULUAN Perkembangan ekonomi di era globalisasi menyebabkan pertambahan konsumsi energi di berbagai sektor kehidupan. Bukan hanya negara-negara maju, tapi hampir semua negara mengalami. Termasuk Indonesia, walaupun terkena dampak krisis ekonomi, tetap mengalami pertumbuhan konsumsi energi. Sementara itu cadangan energi nasional akan semakin menipis apabila tidak ditemukan cadangan energi baru. Oleh karena itu, perlu dilakukan berbagai terobosan untuk mencegah terjadinya krisis energi. Di sisi lain, permintaan bahan bakar minyak dalam negeri jumlahnya terus meningkat akibat adanya usaha-usaha perbaikan ekonomi dan pertambahan penduduk. Minyak tanah di Indonesia yang selama ini di subsidi, menjadi beban yang sangat berat bagi pemerintah Indonesia karena nilai subsidinya meningkat pesat menjadi lebih dari 49 triliun rupiah per tahun dengan penggunaan lebih kurang 10 juta kilo liter per tahun.