Pemanfaatan Bale Banjar Sebagai Ruang Kreativitas Anak Muda Di Kota Denpasar Jurnal SPACE, Volume 1, Nomor 1, Januari 2019 26 PEMANFAATAN BALE BANJAR SEBAGAI RUANG KREATIVITAS ANAK MUDA DI KOTA DENPASAR Anak Agung Ngurah Anom Sanjaya, I Nyoman Harry Juliarthana Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Hindu Indonesia wahanomsanjaya@gmail.com harryjuliarthana@gmail.com Abstract Ruang publik merupakan salah satu ruang yang bisa dimanfaatkan sebagai wadah aktivitas kreatif warga kota. Landry, (1995) berpendapat bahwa ruang publik dapat menjadi salah satu tempat mengakomodasi kreativitas. Kota Denpasar dengan pemanfaatan ruang yang cukup beragam sejatinya banyak memiliki ruang-ruang publik yang belum terpikirkan dan dapat dimanfaatkan fungsinya sebagai wadah aktivitas kreatif warga kotannya. Bale banjar merupakan salah satu ruang publik yang dimiliki di Kota Denpasar selain ruang publik berupa ruang terbuka hijau yang dapat dimanfaatan sebagai wadah aktivitas kreatif warga Kota Denpasar khususnya anak-anak muda. Dilihat dari fenomena yang sudah dijabarkan sebelumnya, tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi lebih mendalam mengenai sejauh mana ruang di bale banjar bisa dimanfaatkan sebagai ruang kreativitas dan apa saja bentuk kreativitas yang dapat ditampung di bale banjar serta bagaimana arah pengembangan pemanfaatan ruang di bale banjar sebagai ruang kreatif anak-anak muda di Kota Denpasar, dan nantinya dapat dilihat juga sejauh mana peranan Banjar sebagai ruang kreativitas dalam menunjang Kota Kreatif di Kota Denpasar. Cakupan amatan penelitian ini nantinya akan difokuskan di beberapa titik- titik kawasaan yang mencakupi beberapa bale banjar yang mengalami fenomena pemanfaatan fungsi ruang banjar sebagai ruang kreativitas sesuai dengan spasial tata guna lahan di Kota Denpasar. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan metode delphi, dengan mengambil beberapa titik-titik bale banjar yang mencakupi beberapa kawasan berdsarkan spasial tata guna lahan di Kota Denpasar. Teknik analisis deskriptif kualitatif dan analisis metode delphi dimana pada prinsipnya metode delphi merupakan teknik peramalan intuitif yang digunakan untuk mencapai suatu konsesus dari suatu kelompok ahli (expert). Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa (1), Dari 9 (sembilan) titik bale banjar yang diteliti menunjukan bahwa keberagaman aktivitas /kegiatan kreatif anak muda sangat beragam hal ini dikarenekan oleh pemanfaatan lahan dan pengaruh aktivitas dilingkungan sekitar kawasan bale banjar, seperti ; Bale banjar di kawasan permukiman, Bale banjar di Kawasan Pariwisata, Bale banjar di Kawasan Perdagangan Jasa dan Pemerintahan /Perkantoran. (2), Wantilan dan natah merupakan ruang-ruang yang lebih sering dimanfaatkan sebagai wadah kreativitas anak-anak muda. (3), Bale banjar sangat berperan sebagai wadah aktivitas kreatif anak-anak muda di Kota Denpasar. Dilihat dari banyaknya aktivitas dan proses kreatifitas yang dapat ditampung didalam ruang bale banjar berupa aktivitas-aktivitas kreatif menunjukkan bahwa bale banjar mewadahi dan menyedikan ruang-ruang aktivitas kreatif anak-anak muda di Kota Denpasar KATA KUNCI : Bale banjar, ruang kreativitas dan anak-anak muda Pendahuluan Pada umumnya ruang publik merupakan suatu wadah/tempat yang dapat diakses oleh masyarakat dan digunakan untuk berkegiatan, berkumpul serta berinteraksi antar masyarakat. Caar (1992) dalam Sawitri, 2017 menjelaskan bahwa ruang publik merupakan ruang atau lahan umum tempat masyarakat dapat melakukan kegiatan fungsional maupun kegiatan sampingan lainnya yang dapat mengikat komunitas, baik kegiatan sehari-hari maupun berkala. Hal ini menunjukkan bahwa ketersediaan ruang berupa ruang publik sebagai wadah aktivitas kreatif warga kotanya merupakan hal yang sangat penting. Berbicara mengenai ruang publik di sebuah kota khususnya Kota Denpasar sejatinya masih banyak memiliki ruang-ruang publik yang belum terpikirkan dan dapat dimanfaatkan fungsinya sebagai wadah aktivitas kreatif warga kotannya. Seperti median jalan, pedestrian, sempadan sungai, bale banjar, kampus, dan masih banyak ruang- ruang lainnya. Dimana ruang-ruang tersebut sejatinya bisa dimanfaatkan fungsinya sebagai ruang-ruang aktivitas kreatif warga kota. Kota Denpasar memiliki potensi ruang lainnya yang dapat dioptimalkan pemanfaatannya sebagai ruang publik untuk mewadhi aktivitas kreatif warga kota, berupa Bale Banjar. Bale Banjar merupakan salah satu ruang publik, selain ruang publik dalam bentuk ruang terbuka yang dimiliki Bali khususnya Kota Denpasar. Bale Banjar merupakan wadah yang digunakan oleh warga banjarnya untuk melaksanakan kegiatan- kegiatan/aktivitas sehari-sehari yang biasa kerama banjar (warga banjar) lakukan di dalamnya. Bale banjar merupakan sebuah bangunan komunal tempat berkumpul dengan jangkauan kawasan yang tersebar di setiap Desa Pakraman/Adat di Bali. Dari total luas daratan yang mencapi 12.778 Ha, Kota Denpasar memiliki 357 (tiga ratus lima puluh tujuh) titik bale banjar yang tersebar di seluruh wilayah Kota Denpasar (Peraturan Daerah No. 27 Tahun 2011). Pemanfaatan bangunan banjar berupa Bale banjar sebagai wadah untuk beraktivitas terlihat