Vol. 4. No. 4 October–December 2013 UPDATE MANAGEMENT DENGUE SHOCK SYNDROME IN PEDIATRIC CASES soegeng soegijanto 1,2 , Eva chilvia 2 1 Dengue Team of Institute Tropical Disease Indonesia 2 Collaboration Research Center - Emerging Re-emerging Infections Disease, Institute of Tropical Disease, Universitas Airlangga - Kobe University Japan 3 Doctor in charge at RSAB Soerya Hospital Sidoarjo Indonesia abstract Background: Since 1968 Dengue Virus Infection has been found in Indonesia, especially at Surabaya and Jakarta city. Firstly management of dengue virus infection very difficult to improve, therefore the higher mortality nearly 41,4 % had been found but on the following years in five decades the mortality rates was becoming to decrease until 1,27 % on 2011. Aim: To find the new management of Dengue Shock Syndrome to reach the lower fatality rate below 1%. Method: Until now to manage Dengue Shock Syndrome is very difficult, some cases can be improved but the other lost due to the late coming in the hospital and not involved in criteria diagnosis base on WHO 1997. To solve this problem WHO 2009 had made new criteria diagnosis Dengue Virus Infection focusing on early detection of severe Dengue Virus Infection especially Dengue Shock Syndrome. Result: On 2011 WHO had made an integrated criteria diagnosis base on WHO 2009 and WHO 1997. These criteria was focusing in Update Management of Dengue Shock Syndrome in Pediatric Cases. Based on this action, this paper will improve clinical management to reach the lower mortality of Dengue Shock Syndrome in Community until CFR < 1%. Conclusion: By using integrated criteria of WHO 2009 and 1997, update management of Dengue Shock Syndrome in Pediatric cases, can improve clinical management to reach the lower mortality in community until CFR < 1%. Key words: Dengue Virus Infection; Criteria diagnosis WHO; Update Management, Shock, Pediatric cases abstraK Latar belakang: Sejak tahun 1968, virus infeksi demam berdarah telah ditemukan di Indonesia, khususnya di kota Surabaya dan Jakarta. Pada awalnya, manajemen virus infeksi demam berdarah ini sangat sulit untuk dikembangkan, maka dari itu, ditemukan tingkat kematian hampir sebesar 41,4%; namun dalam beberapa tahun di 5 abad terakhir, tingkat kematian telah menurun sampai 1,27% di tahun 2011. Tujuan: Untuk menemukan manajemen baru dari sindrom shock demam berdarah untuk mencapai tingkat kematian yang lebih rendah yaitu dibawah 1%. Metode: Sampai saat ini pengendalian sindrom shock demam berdarah masih sangat sulit untuk dilakukan, beberapa kasus dapat dikembangankan namun lainnya tidak tertata akibat keterlambatan penanganan di rumah sakit dan tidak masuk dalam kriteria diagnosis berdasarkan pada WHO 1997. Untuk memecahkan masalah ini, WHO 2009 teolag membuat kriteria diagnosis infeksi virus demam berdarah baru yang berfokus pada deteksi awal pada beberapa infeksi virus demam berdarah khususnya sindrom shock karena demam berdarah. Hasil: Pada tahun 2011, WHO telah membuat kriteria diagnosis yang terintegrasi berdasarkan pada WHO 2009 dan WHO 1997; Kriteria ini berfokus pada manajemen terbaru di sindrom shock karena demam berdarah pada ilmu kedokteran anak. Berdasarkan pada tindakan tersebut, penelitian ini akan memotivasi kita untuk mencapai tingkat kematian untuk menurunkan kurs dari 1% menjadi 0%. Kesimpulan: Dengan menggunakan kriteria dari WHO 2009 yang telah terintegrasi, pembaharuan manajemen dari sindrom shock akibat demam berdarah diharapkan dapat memotivasi kita untuk mencapai tingkat kematian di masyarakat lebih rendah kurang dari 1%. Kata kunci: Infeksi virus demam berdarah, kriteria diagnosis WHO, pembaharuan manajemen, syok, kasus anak-anak Research Report