JIUBJ Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi, 21(1), Februari 2021, 249-252 Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat universitas Batanghari Jambi ISSN 1411-8939 (Online), ISSN 2549-4236 (Print) DOI 10.33087/jiubj.v21i1.1203 249 Pengaruh Debt To Asset Ratio, Inventory dan Earning Per Share terhadap Harga Saham pada Industri Subsektor Farmasi yang Terdaftar di BEI Umar Hamdan Nst * , Syamsurizal, Cut Zahri Universitas Dharmawangsa Medan Jl. KL. Yos Susarso No.224, Medan, Indonesia * Correspondence email: Umarhamdan@dharmawangsa.ac.id Abstrak. Riset ini bermaksud untuk memahami dampak Debt to Assets Ratio, Inventory Turnover dan Earning Per Share terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Subsektor farmasi yang listing di BEI Periode 2015 2019. Populasi riset yang dipakai sebesar 9 emiten dan jumlah sampel sebanyak 45 sampel. Metode riset memakai statistik kuantitatif. Metode analisis data memakai tes asumsi klasik. Tes hipotesis dengan tes regresi, t-test, dan f-test. Berdasarkan hasil tes parsial (t), DAR dan ITO tidak berpengaruh terhadap harga saham namun EPS memiliki pengaruh terhadap harga saham. Sedangkan hasil tes simultan (f) DAR, ITO dan EPS tidak berdampak terhadap harga saham. Perolehan test hipotesis Adjusted R Square (R2) sebanyak 21%, maka dapat dikatakan variabel Debt to Assets Ratio (X1), Inventory Turnover (X2) dan Earning Per Share (X3), berpengaruh terhadap Harga Saham sebesar 21% dan selebihnya sebesar 79% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak terdapat dalam riset ini. Kata kunci: Debt to Assets Ratio; Earning Per Share; Harga Saham; Inventory Turnover Abstract. This research understands the impact of Debt to Assets Ratio, Inventory Turnover and Earning Per Share on Share Prices in pharmaceutical subsector companies listed on the Indonesia Stock Exchange for the 2015-2019 period. The research population used was 9 issuers and a total sample size of 45 samples. Statistical research methods use quantitative. The assumption data analysis method is the classical assumption test. Hypothesis test with regression test, t-test, and f-test. Based on the results of the partial test (t), DAR and ITO have no effect on stock prices but EPS has an effect on stock prices. Meanwhile, the simultaneous test results (f) of DAR, ITO and EPS have no impact on stock prices. The result of the Adjusted R Square (R2) hypothesis test is 21%, it can be said that the Debt to Assets Ratio (X1), Inventory Turnover (X2) and Earning Per Share (X3) variables have an effect on stock prices by 21% and the rest is 79%. audits by other variables not included in this research Keywords: Debt to Assets Ratio; Earning Per Share; Inventory Turnover; Stock Prices PENDAHULUAN Setiap perusahaan yang ingin mengembangkan usahanya pasti membutuhkan modal. Upaya yang dipakai eaten adalah dengan menawarkan sahamnya kepada masyarakat atau disebut dengan go public. Go Public yaitu upaya yang dilaksanakan emiten dalam memperoleh dana ekstra demi peningkatan dana yang dihasilkan oleh emiten go public. Emiten yang go public bisa menawarkan sahamnya di Bursa Efek sesuai dengan harga yang telah ditentukan atau disebut dengan harga saham. Harga saham adalah parameter keinginan calon investor untuk membeli saham emiten, bila harga saham emiten meningkat, maka investor atau calon investor menilai bahwa emiten mencapai keberhasilannya dalam menjalankan usahanya. Dalam riset ini, sampel yang dipilih adalah perusahaan subsektor farmasi yang terdaftar di BEI. Hal ini disebabkan, industri farmasi saat ini sedang mengalami peningkatan yang cukup signifikan dimana dimasa pandemi covid-19 omzet penjualan obat-obatan melambung tinggi. Berdasarkan data yang diperoleh dari BEI, dalam sepekan terakhir Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,84% kendati di Jumat (6/3) ditutup minus hingga 2,5% di level 5.498,54. Data BEI mencatat, saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) mencatatkan kenaikan 1,23% (week on week/wow). Saham PT Kimia Farma (persero) Tbk (KAEF) malah menguat tajam. Terhitung sepekan harga saham KAEF melesat 52,6%.Sementara itu saham emiten jamu yakni PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) juga naik tapi lebih rendah dibanding IHSG dengan penguatan sebesar 0,81% (www.cnbcindonesia.com). Untuk memilih saham yang akan dibeli, para investor umumnya melihat laporan keuangan yang di susun oleh perusahaan. Laporan Keuangan adalah informasi yang lazim dipakai oleh calon investor atau calon kreditur untuk mengambil sebuah keputusan. Informasi yang dihasilkan oleh laporan keuangan biasanya mengakibatkan adanya respon pasar. Respon pasar ini diperlihatkan dengan terdapatnya perubahan harga saham. Alat analisis yang biasa digunakan adalah analisis rasio. Analisis rasio adalah upaya yang dilakukan untuk memahami isi laporan keuangan perusahaan, untuk dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan perusahaan. Analsis rasio yang biasa dipakai yaitu Debt to Assets Ratio (DAR), Inventory Turn Over (ITO) dan Earning Per Share (EPS). Darsono (2005) menyebutkan Debt to Assets Ratio (DAR) menyediakan informasi tentang kemampuan perusahaan dalam mengadaptasi kondisi pengurangan aktiva akibat kerugian tanpa mengurangi pembayaran bunga pada kreditor. Sedangkan Inventory