Agrimor 1 (4) 84-87 Jurnal Agribisnis Lahan Kering - 2016 International Standard of Serial Number 2502-1710 M. Falo et al. / Agrimor 1 (4) 8487 84 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi dan Strategi Pengembangan Usahatani Bawang Putih di Kecamatan Miomaffo Barat Kabupaten Timor Tengah Utara Marsianus Falo a , Simon Juan Kune b , Adeline Norawati Hutapea c , Origenes Kapitan d a Fakultas Pertanian, Universitas Timor, Kefamenanu, Indonesia. b Fakultas Pertanian, Universitas Timor, Kefamenanu, Indonesia.. c Fakultas Pertanian, Universitas Timor, Kefamenanu, Indonesia.. d Fakultas Pertanian, Universitas Timor, Kefamenanu, Indonesia.. Article Info Abstrak Article history: Received 14 Oktober 2016 Received in revised form 19 Oktober 2016 Accepted 22 Oktober 2016 Penelitian ini bertujuan untuk 1) mendeskripsikan keragaan usahatani bawang putih; 2) menganalisis kandungan unsur metabolid sekunder; 3) menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap produksi usahatani bawang putih; 4) menganalisis pendapatan yang dipeoleh petani dari usahatani bawang putih, dan; 5) mengetahui startegi pengembangan usahatani bawang putih. Metode yang dugunakan adalah survei dan eksperimen laboratorium. Analisa data menggunakan analisis FTIR dan GC-MS, Analisis Cobb Douglass, analisis pendapatan dan Analisis SWOT. Hasilnya keragaan usahatani meliputi pengolahan lahan, persiapan bibit, penanaman, pemeliharaan, panen, pasca panen dan pemasaran. Unsur metabolid sekunder yang terdapat dalam bawang putih adalah adsiri, faktor-faktor yang berpengaruh terhadap produksi antara lain lahan, benih, tenaga kerja, pengalaman, dan pendidikan. Pendapatan yang diperoleh sebesar 534.429.503/musim tanam. Strategi pengembangannya adalah 1) strategi SO : kekuatan yang dimiliki adalah letak lahan yang strategis, kerjasama dalam kelompok, iklim yang mendukung dan pengalaman dan peluangnya dukungan dari PEMDA, permintaan pasar yang selalu ada, eban merupakan sentral/pusat produksi bawang putih di wilayah TTU; 2) strategi WO : meningkatkan modal berusahatani bawang putih, kurang promosi, sistim pemasaran dan penguasaan teknik budidaya yang masih rendah; 3) Strategi ST : kekuatan yang ada adalah letak lahan memiliki sendiri, kerja sama dalam kelompok, iklim yang mendukung dan pengalaman yang telah dimiliki; 4) Strategi WT : meningkatkan modal yang di miliki petani untuk dapat bersaing deengan usahatani bawang putih sejenis lainnya dari luar daerah Eban dan meningkatkan promosi untuk jangkauan pemasaran yang lebih luas lagi. ©2016 dipublikasikan oleh Agrimor. Keywords: Faktor Produksi Strategi Pengembangan Usahatani Bawang Putih Miomaffo Barat 1. Pendahuluan Bawang putih merupakan tanaman hortikultura yang banyak dibutuhkan terutama dalam peranannya sebagai penambah citarasa makanan dan sebagai bumbu masak berbagai macam makanan, selain itu bawang putih juga sering digunakan sebagai obat obatan untuk penyakit tertentu seperti tekanan darah tinggi, sakit kepala dan menurunkan kadar kolesterol. Oleh karena itu komoditi ini hendaknya terus dikembangkan, baik dari luasan areal tanam, kuantitas maupun kualitas. Bawang putih mengandung minyak atsiri yang bermanfaat sebagai anti bakteri dan anti septik, bawang putih juga mengandung allicin dan aliin yang bermanfaat sebagai daya anti kolesterol untuk, mencegah penyakit jantung koroner, tekanan darah tinggi dll. Selain itu Pada umbi bawang putih mengandung senyawa kimia yang cukup banyak, diantaranya : 1. Kalsium yang memiliki sifat menenangkan sehingga cocok sebagai pencegah hipertensi, 2. Saltivine yang bermanfaat sebagai mempercepat pertumbuhan sel dan jaringan serta merangsang susunan sel syaraf, 3. Diallysulfide, alilpropil-disulfida : anti cacing, 4. Belerang, 5. Protein, 6. Lemak, 7. Fosfor, 8. Besi dan 9. Vitamin A, B1 dan C. (Rasyid, 2004). Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara terus mengupayakan daerah- daerah yang berpontensi untuk pengembangan bawang putih. Salah satu daerah yang berpotensi adalah kecamatan Miomaffo Barat, cocok untuk pertumbuhan tanaman bawang putih (ketinggian 700 1100 M dpl ( diatas permukaan laut) dengan suhu rata-rata 20 0 25 0 C dan memiliki curah hujan rata-rata 1200 2400 mm per tahun serta menghendaki tekstur tanah yang gembur dan subur) dan juga bagi masyarakatnya usahatani bawang putih telah dilakukan secara turun- temurun. Produksi bawang putih di kecamatan Miomafo Barat produksinya sangat berfluktuasi disetiap tahunnya, data 5 tahun terakhir (BPS TTU, 2015) hal ini penyebabnya antara lain keadaan iklim khususnya curah hujan yang tidak menentu, luasan areal tanam dan luas panen yang berdampak pada jumlah produksi yang diperoleh. Situasi ini kemudian berakibat pada produksi bawang putih lokal belum mampu memenuhi permintaan bawang putih masyarakat di kabupaten ini sehinggaharus diimport dari luar (survei awal). Persoalan diatas diperparah lagi dengan kualitas dari bawang putih lokal itu sendiri, karena berdasarkan observasi yang dilakukan untuk mengetahui preferensi masyarakat terhadap bawang putih di pasar baru dan pasar lama Kefamenanu antara bawang lokal dan bawang import ; ternyata minat masyarakat terhadap bawang putih lokal dan bawang putih import itu sama, dimana bawang putih lokal memiliki aroma dan rasa yang lebih unik dibanding bawang putih impor, namun memiliki ukuran umbi yang jauh lebih kecil dari bawang putih impor, dengan demikian akan menyulitkan disaat proses pengupasan. Hal diatas menunjukan bahwa Pendapatan petani dapat meningkat jika dilakukan pengembangan usahatani bawang putih yang bersifat komersial dengan memperhatikan starategi-strategi pengembangan mulai dari proses pembudidayaan hingga proses pemasaran guna meningkatkan pendapatan petani. Dalam penentuan strategi tentunya petani dituntut untuk memperhatikan faktor external dan internal yang terkait. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) mengetahui keragaan usahatani bawang putih di Kecamatan Miomaffo Barat Kabupaten TTU; 2) mengetahui kandungan unsur metabolid sekunder dalam tanaman bawang putih; 3) mengetahui faktor- faktor yang berpengaruh terhadap produksi usahatani bawang putih; 4) mengetahui pendapatan yang dipeoleh petani dari usahatani bawang putih, dan; 5) mengetahui startegi pengembangan usahatani bawang putih. 2. Metode Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Miomaffo Barat Kabupaten Timor Tengah Utara pada bulan Mei hingga Oktober 2016. Penentuan responden yang dilakukan secara acak sederhana yaitu dengan mengambil 25% dari setiap desa dimana untuk Desa Fatuneno yang menjadi responden adalah 25% dari 460 KK yaitu 115 KK, dan Desa Noepesu 25% dari 423 KK yaitu 105. Total responden yang diambil yaitu 220 KK. Penelitian ini menggunakan metode survei. Data yang dikumpulkan terdiri atas dua macam yaitu data primer dan data sekunder. Data yang diperoleh dikumpulkan kemudian ditabulasi dan dianalisis berdasarkan tujuan penelitian yaitu : 1. Untuk menjawab tujuan pertama, dianalisis dengan pendekatan deskriptif kualitatif, yang dilakukan untuk memperoleh informasi tentang usahatani bawang putih. 2. Untuk menjawab tujuan ke dua akan dilakukan uji laboratorium terhadap kandungan bawang putih yang berasal dari petani bawang di Miomafo Barat, 3. Untuk menjawab tujuan ke tiga akan dilakukan analisis statistik dengan menggunkan program SPSS. Secara matematis dapat ditulis ; Ln Y = lnb 0 + b 1 lnX 1 + b 2 lnX 2 + b 3 lnX 3 + b 4 lnX 4 + b 5 lnX 5 + b 6 lnX 6 +b 7 lnX 7 + e 4. Untuk menjawab tujuan ke empat dilakukan perhitungan pendapatan usahatani bawang putih dengan rumus : Soekartawi (1995) yaitu : Pd = R - TC Dimana : Pd = Pendapatan TR = Total Penerimaan TC = Total Biaya. 5. Untuk menjawab tujuan ke empat, dianalisis dengan alat analisis SWOT yaitu suatu analisis mengenai faktor Internal usaha berupa kekuatan (Strengths), kelemahan (Weaknesses), dan faktor eksternal usaha berupa peluang (Opportunities) dan tantangan (Threats) (Rangkuti. 2003). 3. Hasil dan Pembahasan 3.1 Keragaan Usahatani Bawang Putih di Kecamatan Miomaffo Barat Kegiatan usahatani bawang putih di Desa Fatuneno dan Desa Noepesu dilakukan dengan beberapa proses yakni: Pengolahan Lahan, persiapan bibit, Penanaman, Pemeliharaan, panen, Pasca Panen dan pemasaran. a. Pengolahan Lahan Proses pengolahan ini diawali dengan pembersihan, Dalam pengolahan lahan, masyarakat di Desa Fatuneno dan Desa Noepesu masih menggunakan sistim tradisional, alat pertanian yang digunakan dalam proses pengolahan lahan antara lain parang, pacul, linggis, tajak, karung dan sabit. b. Persiapan bibit Bibit yang digunakan oleh petani diperoleh dari hasil panen musim tanam sebelumnya dengan cara memilih umbi yang berkulitas. c. Penanaman Penanaman bawang putih pada awal bulan Mei dengan tujuan agar bawang putih yang telah ditanam tidak digenangi air hujan dan terhindar dari kabut yang berlebihan karena jika curah hujan tinggi maka bawang putih akan terserang penyakit yang mengakibatkan bercak-bercak putih dan akhirnya mati. d. Pemeliharaan Pemliharaan yang dilakukan oleh petani di Desa Fatuneneo dan Desa Noepesu dapat dilihat sebagai berikut: Penyiangan Sekitar 2 minggu, maka selanjutnya petani melakukan pemeliharaan dengan cara, membersihkan tumbuhan pengganggu berupa rerumputan dan tunas baru pada pohon-pohon yang ditebang sebelumnya.