P- ISSN 0854-3461, E-ISSN 2541-0407 MUDRA Jurnal Seni Budaya Volume 34, Nomor 1, Februari 2019 p 127 - 135 127 Proses Review : 7 - 25 Januari 2019, Dinyatakan Lolos: 29 Januari 2019 Tradisi Versus Modern: Diskursus Pemahaman Istilah Tradisi dan Modern di Indonesia I Wayan Sudirana Program Studi Musik, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar sudirana.isi@gmail.com Masyarakat menerapkan tradisi secara sistematis seperti perekat. Ketika yang asli tidak lagi seperti dulu, nostalgia mengasumsikan makna keseluruhannya. Budaya biasanya diproyeksikan ke masa lampau, dan yang lampu tersebut menjadi budaya. Pemahaman seperti ini kontradiktif dengan pemahaman arti dari tradisi itu sendiri. Tradisi tidak seharusnya diartikan sebagai sesuatu yang bulat atau sirkuler atau tidak bergerak, me- lainkan sesuatu yang berproses seiring dengan waktu. Paper ini akan membahas bagaimana istilah tradisi dan modern dipahami dalam konteks masyarakat seniman Bali akademis (dan non-akademis), dan sejauh mana memengaruhi pola pikir penciptaan karya mereka. Pembahasan akan dititikberatkan pada diskursus yang ter- jadi dalam menyikapi fenomena berkesenian di Indonesia. Dimensi kesejarahan diulas sebagai analisa praktis perbedaan pola pikir dengan segala tantangannya. Pemahaman istilah tradisi dan modern menjadi penting dalam memahami perkembangan proses penciptaan musik dalam menelitik masa depan musik gamelan Bali, sekarang. Kata kunci: tradisi, modern, kontemporer, terkini, dimensi kesejarahan Tradisi vs Modern: Discourses in Understanding the Terms Tradisi and Moderen in Indonesia People apply their tradition systematically like adhesive. When the original is no longer applied as it used to be, nostalgia assumes its overall meaning. Culture is usually projected into the past, and the past becomes culture. This understanding is contradictory to accepting the meaning of the tradition itself. Tradition should not be interpreted as something ‘round’ or ‘circular’ or ‘immovable,’ but something that proceeds over time. This paper will discuss how the terms tradisi and modern are understood in the context of academic (and non-academic) Balinese artists, and to what extent infuences the mindset of their work. The discussion will focus on the discourse that occurs in addressing the phenomenon of art in Indonesia. The historical dimension is reviewed as a practical analysis of differences in mindset with all its challenges. Understanding the terms tradisi and modern is important in understanding the developmental processes of creating music especially when studying the future of Balinese gamelan music. Keywords: tradition, modern, contemporary, up-to-date, historical dimension