JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 8, No. 1 (2019), 2337-3520 (2301-928X Print) Perancangan Kartu Tarot Astadewa Berdasarkan Cerita dan Karakter Perwayangan Mahabharata Andya Dewakinnara dan R. Eka Rizkiantono Departemen Desain Produk, Fakultas Arsitektur, Desain, dan Perancangan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) e-mail: ekaindian007@gmail.com Abstrak—Tarot Wayang yang diciptakan oleh Ibu Ani Setyaningsih, adalah Kartu Tarot pertama yang pernah di publikasikan di Indonesia. Tetapi, keberada-an kartu ini semakin sedikit, karena Gramedia memutuskan untuk tidak mencetak kembali kartu Tarot Wayang ini. Dikarenakan itulah, Penulis me-mutuskan untuk meneruskan kembali jejak Ibu Ani dan terus melestarikan budaya Wayang yang dipenuhi oleh simbolisme. Dengan melakukan beberapa metode penelitian, wawancara, observasi, studi literatur hingga Focus Group Discussion, Penulis mengumpulkan banyak data untuk melakukan perancangan sebuah dek tarot yang berbeda dari Standar Universal Waite Rider. Dek tersebut lebih mengarah kepada simbolisme per-wayangan Jawa dan menggunakan ilustrasi yang lebih detail daripada Tarot Wayang Ibu Ani. Wujud akhir dari perancangan tersebut adalah terciptanya sebuah Tarot bernama Astadewa dengan media ilustrasi digital yang dapat mempresentasikan budaya perwayangan Jawa, menggunakan simbol-simbol cerita dan karakter Mahabarata. Diharapkan, kartu ini dapat menjadi media pelestarian wayang, yang dapat digunakan oleh orang dalam negeri maupun luar negeri. Kata Kunci—Tarot, Simbolisme, Wayang, Ilustrasi, Mahabharata, Kartu. I. PENDAHULUAN AYANG memiliki persamaan dalam simbolisme seperti Tarot. Keduanya memiliki arti-arti tersembunyi. Wayang dalam boneka dan propertinya, dan tarot dipresentasikan melalui gambar. Dalam makna, wayang dan tarot memiliki kesamaan cerita yang ingin disampaikan, yaitu perjalanan manusia dalam pencarian dan pengembangan jati diri. Perbedaannya wayang yang memiliki pakem tetap, sedangkan menurut interview dengan Barbara Moore seorang pakar Tarot sejak 1990 dari Inggris pada tanggal 3 Maret 2016, bahwa tarot adalah salah satu elemen budaya yang fleksibel. Tarot juga telah ada sejak abad ke-15 dan telah berubah sesuai zaman, sesuai era, sesuai keadaan geografis dan kebudayaan, merefleksikan keyakinan manusia. Sehingga, Tarot menjadi salah satu elemen fleksibel, sehingga mudah dirasuki budaya, adat, dan simbolisme yang berbeda sesuai dengan perjalanan sang pencipta jenis tarot. Penggunaan Tarot sebagai media peles-tarian juga dapat memiliki pengaruh terhadap pengenalan Wayang ke masyarakat asing. W Lalu melalui wawancara dengan Guruh Nusantara, sebagai wakil ketua Komunitas Fullmoon, pada tanggal 5 Desember 2014, bahwa adanya keterkaitan dibalik cerita dasyhat Mahabarata dan simbol-simbol di dalam Tarot. Telah dijelaskan bahwa Mahabarata mencakup segala aspek dalam kehidupan manusia, dan Tarot adalah miniatur dari kehidupan itu sendiri. Sehingga penulis menjadikan Mahabharata sebagai tema dari Tarot Astadewa ini. Pengaplikasian elemen wayang ke dalam kartu Tarot telah dilakukan sebelumnya oleh Ibu Ani Sekarningsih yang diterbitkan oleh Gramedia beberapa tahun lalu. Kedua kartu Tarot ini telah terkenal dikalangan para pemain tarot Indonesia dan beberapa dari pemain luar negeri. Tarot Wayang milik Ibu Ani menjualnya hanya dapat ditemui melalui internet karena buku dan kartunya sudah tidak diproduksi kembali di toko buku. Sehingga Tarot ini sudah semakin sulit di temukan dan akan habis pada akhirnya. A. Identifikasi Masalah 1) Tarot Astadewa membutuhkan ilustrasi Tarot berbasis wayang yang dapat mempresentasikan budaya perwayangan Indonesia. 2) Tidak banyaknya media wawasan tentang sim-bolisme Perwayangan Jawa. 3) Diperlukannya Tarot berbasis Wayang yang berbeda dari milik Ibu Ani Setyaningsih, yang kali ini memiliki visual yang dapat menampung sim-bolisme Perwayangan Jawa. Hal ini juga untuk meneruskan Tarot Wayang yang sudah tidak di-produksi kembali. B. Rumusan Masalah Bagaimana cara mengaplikasikan simbolisme antara Perwayangan Jawa dan Tarot Waite Rider ke dalam Kartu Tarot Astadewa sehingga dapat mempresen-tasian budaya Perwayangan di dalam-nya? C. Batasan Masalah 1) Ilustrasi meliputi 78 Kartu Tarot, 22 Arkana Mayor dan 56 Arkana Minor. Tetapi pembahasan tentang perubahan visual di dalam laporan ini hanya terbatasi 22 Arkana Mayor saja. Hal ini dikarenakan ketidak-sanggupan penulis untuk menuliskan kompleksnya Arcana Minor dan keterbatasan waktu yang dimiliki penulis. 2) Kartu Tarot Astadewa akan menggunakan Tarot Rider Waite acuan membuat Kartu. Karena Tarot Rider Waite adalah acuan paling populer yang digunakan hampir di seluruh Tarot. Mudah dimengerti dan dipelajari. F18