168 Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan 3 (4) 2014
© Indonesian Food Technologists
Artikel Penelitian
Pembuatan Velva Fruit Pisang dengan Bahan Dasar Tepung Pisang dan
Carboxy Methyl Cellulose sebagai Bahan Penstabil
Desi Sakawulan
*
, Faleh Setia Budi, Elvira Syamsir
Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor, Bogor
*
Korespondensi dengan penulis (desi.sakawulan@gmail.com)
Artikel ini dikirim pada tanggal 18 Juli 2014 dan dinyatakan diterima tanggal 1 Oktober 2014. Artikel ini juga dipublikasi secara online melalui
www.journal.ift.or.id
Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang diperbanyak untuk tujuan komersial.
Diproduksi oleh Indonesian Food Technologists® ©2014 (www.ift.or.id)
Abstrak
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh teknik pengeringan tray dan drum terhadap
karakteristik tepung pisang dan mengetahui formulasi velva dari tepung pisang dan CMC sebagai bahan penstabil.
Velva dibuat dengan perlakuan jumlah CMC dan jenis pengeringan pada tepung pisang. Kadar air tepung pisang
pengering tray dan pengering drum adalah 8,36% dan 7,3% (b/b), sedangkan kadar abu adalah 2,35% dan 3,40%
(bk). Warna tepung pisang pengering tray lebih cerah dibanding tepung pisang pengering drum. Formula velva
terbaik adalah velva yang terbuat dari tepung pisang pengering tray dengan CMC 0,1%. Formula ini memiliki
overrun 15,84%, daya leleh 7,17 menit per 5 g, kadar air 51,55%, kadar abu 0,97%, kadar lemak 0,94%, kadar
protein 0,84%, kadar karbohidrat 45,70%, kadar serat kasar 0,04%, 11,57 mg vitamin C, dan total asam tertitrasi
1,46%.
Kata kunci: karboksi metil selulosa, pisang Ambon, pengeringan, tepung pisang, velva
Pendahuluan
Produksi buah pisang di Indonesia sangat
berlimpah, namun belum dibarengi dengan
penggunaannya yang maksimal. Banyak hal yang
mempengaruhi penggunaan buah pisang, diantaranya
adalah mudah rusaknya buah pisang selama
penyimpanan dan distribusi. Menurut Tribess et al,
(2009), satu per lima dari pisang yang dipanen akan
dibuang karena tidak sesuai permintaan. Salah satu
usaha untuk mengurangi masalah tersebut adalah
dengan pembuatan tepung pisang. Tepung pisang
adalah bahan baku yang relatif murah untuk industri
dan dapat menjadi alternatif sebagai usaha mengurangi
pisang yang dibuang (Zhang et al., 2005).
Buah pisang berpotensi untuk diolah menjadi
produk beku seperti velva. Velva dikenal juga dengan
nama sorbet. Menurut penelitian Khomsan et al. (2006),
umumnya masyarakat Indonesia terutama masyarakat
yang ada di dataran tingi dan pantai masih kurang
dalam mengkonsumsi buah. oleh sebab itu kreasi
olahan produk berbasis buah harus ditingkatkan lagi.
Melalui penelitian ini dibuatlah velva dari tepung pisang.
Menurut Kilara (2007), velva memiliki standar
keasaman paling sedikit 0,35% dan tidak menggunakan
susu atau bahan dari telur. Pisang yang digunakan
dalam pembuatan velva adalah pisang ambon. Pisang
ambon termasuk ke dalam jenis pisang meja yang
memiliki rasa yang manis dan aroma pisang yang enak
dan dapat langsung dikonsumsi.
Kelebihan velva dari es krim adalah kandungan
lemaknya yang rendah karena tidak menggunakan
lemak tambahan, mengandung vitamin C dan serat
yang berasal dari buah. Perbedaan bahan baku juga
akan berpengaruh terhadap produk akhir, dimana velva
memiliki teksur yang kurang lembut dibanding dengan
es krim.
Bahan penstabil diperlukan untuk memperbaiki
mutu velva. Selama pencampuran, bahan penstabil
akan mempengaruhi viskositas dan homogenitas yaitu
lebih kental dan lebih stabil. Selama pembekuan bahan
penstabil dapat mengontrol air yang tidak membeku.
Hal ini berarti bahan penstabil dapat membuat velva
lebih lembut dan memperlambat pembentukan kristal
es selama penyimpanan dan distribusi produk. Carboxy
Methyl Cellulose (CMC) adalah bahan penstabil yang
banyak digunakan dalam produk pangan (Tan et al.,
2008), terutama produk beku.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mendapatkan metode pengeringan yang tepat dalam
pembuatan tepung pisang dan untuk mengetahui
formulasi yang tepat dalam pembuatan velva berbahan
dasar tepung pisang dan CMC sebagai bahan
penstabil. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah
mendukung diversifikasi pangan berbasis buah lokal
melalui pembuatan tepung pisang yang
pemanfaatannya dapat bervariasi. Pembuatan velva
tepung pisang dengan CMC sebagai bahan penstabil
juga dapat menjadi alternatif produk beku yang rendah
lemak dengan berbagai manfaat dari buah pisang.
Materi dan Metode
Materi
Bahan untuk pembuatan tepung pisang terdiri
atas pisang ambon (Musa paradisiaca) berumur ± 90
hari dimana sudah memasuki fase ¾ matang penuh.
Selain itu, digunakan juga air, dan asam askorbat.
Bahan pembuatan velva yaitu tepung pisang, pisang
segar, CMC, asam askorbat, asam sitrat, gula pasir,
dan air mineral. Bahan untuk analisis adalah bahan-
bahan kimia.
Peralatan yang digunakan dalam penelitian
adalah pisau, baskom besar, blender, gelas ukur
plastik, Pengering drum, pengering tray, timbangan
analitik, ayakan 80 mesh, slicer, grinder, mixer, baskom
kecil, toples, votator, oven suhu 105
0
C, alat-alat gelas
untuk analisis, piring kecil, sendok kecil, dan label.