PRISMA FISIKA, Vol. 7, No. 3 (2019), Hal. 275 - 281 ISSN : 2337-8204 275 Pengaruh Penambahan Karbon Aktif Biji Salak (Salacca edulis) pada Sistem Filtrasi Air Gambut Dyah Ayu Pujiasih a , Nurhasanah a , Mega Nurhanisa a* a Program Studi Fisika, FMIPA Universitas Tanjungpura *Email : meganurhanisa@physics.untan.ac.id Abstrak Telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan karbon aktif biji salak pada sistem filtrasi air gambut. Pembuatan karbon aktif terdiri dari dua tahap, yaitu tahap karbonisasi dan aktivasi kimia. Proses karbonisasi biji salak dilakukan pada suhu 350°C selama dua jam. Sedangkan tahap aktivasi kimia dilakukan dengan merendam biji salak ke dalam larutan KOH konsentrasi 25% selama 24 jam, dengan perbandingan antara karbon biji salak dan aktivator sebesar 2:1. Karbon aktif yang dihasilkan kemudian diaplikasikan ke dalam sistem filtrasi dengan variasi ketebalan 5 cm dan 10 cm. Hasil uji menunjukkan sistem filtrasi dengan penambahan karbon aktif biji salak ketebalan 10 cm dapat menurunkan kadar warna air gambut dari 1260 Pt.Co menjadi 49 Pt.Co, kadar kekeruhan dari 9,77 NTU menjadi 8,51 NTU, dan kandungan zat besi (Fe) dari 2,63 mg/l menjadi 0,01 mg/l. Hasil pengujian menunjukkan nilai efektivitas adsorpsi terbaik terjadi pada parameter besi yaitu sebesar 95,82%. Kata Kunci : biji salak, karbon aktif, filtrasi, air gambut 1. Latar Belakang Salak merupakan salah satu komoditi tanaman buah-buahan yang dibudidayakan di Kabupaten Sambas Kalimantan Barat untuk menunjang perekonomian daerah. Menurut Badan Pusat Statistik Kalimantan Barat, Kabupaten Sambas memiliki 32.082 rumpun/pohon salak yang menghasilkan 7.391 kwintal buah salak di tahun 2017[1]. Hasil panen buah salak yang melimpah tersebut juga akan berpengaruh pada banyaknya limbah biji salak yang dihasilkan. Sebagian besar limbah biji salak hanya dibuang dan tidak termanfaatkan dengan baik. Kalimantan Barat merupakan daerah yang sebagian besar wilayahnya terdiri atas lahan gambut. Luas lahan gambut di Provinsi Kalimantan Barat diperkirakan mencapai 1,677 juta Ha atau sekitar 30% dari luas total lahan gambut di Pulau Kalimantan[2]. Hal tersebut mengakibatkan air gambut menjadi sumber air baku bagi masyarakat KalBar. Air gambut banyak mengandung zat-zat organik dan memiliki intensitas warna yang tinggi, yaitu berwarna merah kecoklatan dan memiliki pH rendah antara 2-5[3]. Air yang memiliki kualitas baik ialah air yang telah memenuhi standar baku mutu kesehatan lingkungan dan persyaratan kesehatan air untuk keperluan higiene sanitasi seperti mandi dan sikat gigi, serta untuk keperluan cuci bahan pangan, peralatan makan, dan pakaian. Tabel standar parameter fisik dan kimia berdasarkan standar baku mutu air kesehatan lingkungan untuk keperluan higiene sanitasi ditunjukkan pada tabel 1. Tabel 1. Standar Parameter Fisik dan Kimia Air berdasarkan Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan untuk Keperluan Higiene Sanitasi No Parameter Wajib Satuan Standar Baku Mutu (Kadar Maks.) 1. Kekeruhan NTU 25 2. Warna TCU 50 3. Zat padat terlarut (TDS) mg/l 1000 4. pH 6,5-7,5 5. Besi (Fe) mg/l 1 Sumber: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia[4] Salah satu metode yang dapat digunakan dalam pengolahan air gambut adalah metode filtrasi[5]. Metode filtrasi adalah metode penjernihan air menggunakan filter (penyaring) untuk memisahkan antara koloid (padatan) dengan cairan. Salah satu bahan yang biasa digunakan dalam sistem filtrasi ialah karbon aktif. Bahan ini berfungsi sebagai adsorben untuk menyerap zat-zat organik maupun anorganik serta desinfeksi[6]. Biji salak mengandung serat selulosa sebesar 39,67%, sehingga banyak dimanfaatkan untuk menurunkan kandungan logam dalam air atau limbah[7,8]. Telah dilakukan penelitian mengenai pemanfaatan biji salak sebagai adsorben ion logam kadmium (Cd) dan adsorban kromium[8,9]. Sedangkan penelitian lain memanfaatkan biji salak sebagai adsorben untuk menjernihkan minyak goreng bekas[10]. Dari penelitian ini, diharapkan karbon aktif biji