Jurnal Destinasi Pariwisata p-ISSN: 2338-8811, e-ISSN: 2548-8937 Vol. 7 No 1, 2019 36 Strategi Pengembangan Candi Muaro Jambi Sebagai Wisata Religi Ophelia Firsty a, 1 , Ida Ayu Suryasih a, 2 1 opheliafirsty@gmail.com, 2 idaayusuryasih@unud.ac.id a Program Studi Sarjana Destinasi Pariwisata, Fakultas Pariwisata Universitas Udayana, Jl. Dr. R. Goris, Denpasar, Bali 80232 Indonesia Abstract Muaro Jambi temple a largest temple site in Sumatra island, with area of 3981 hectares wide. This temple is a legacy from Srivijaya and Melayu Empires, and a center of Buddhist teaching in 9th to 11th century. Considering history and significances of temple for Buddhists, effective development of religious tourism is required. This research investigate the development strategy in Muaro Jambi Temple as religious tourism. Using descriptive qualitative method, this research will describe the development of temple from various aspects of tourism development. The result of research analysis done by using descriptive qualitative analysis provide result through documentation supported narration. The research result show that tourism development is still in early stage and so problems in various aspects of development are found, with most of them caused by low synergy among the stakeholders. Thus, every stakeholder are expected to increase their synergy and cooperation for the sake of religious tourism growth in Muaro Jambi temple. Key Words : Religious Tourism, Tourism development, Buddhist Temple I. PENDAHULUAN Perjalanan religi bukan merupakan fenomena baru. Agama atau religi sendiri sudah lama menjadi motivasi untuk melakukan perjalanan wisata dan merupakan bentuk perjalanan tertua (Jackowski dan Smith, 1992) dalam Vukonic (2002). Jackowski (2000) Dalam Olsen dan Timothy (2006) memperkirakan bahwa 240 juta wisatawan per tahun melakukan perjalanan wisata religi, dengan mayoritas Kristiani, Muslim, dan Hindu. Perjalanan dengan motivasi agama dan spiritual telah menyebar luas dan menjadi popular di beberap dekade terakhir, dan menjadi segmen penting dalam pariwisata internasional, dengan pertumbuhan yang sangat pesat dalam jumlah secara proporsional. Dengan peningkatan yang terus-menerus, pariwisata religi memiliki potensi yang besar sebagai tren pariwisata kedepannya (Olsen and Timothy, 2006). Pengembangan pariwisata merupakan rangkaian upaya dalam menciptakan keterpaduan penggunaan sumber daya pariwisata dan upaya dalam mengintegrasikan aspek di luar pariwisata untuk mendukung upaya pengembangan pariwisata (Swarbrooke, 1999). Tanpa adanya upaya pengembangan pariwisata, penyelenggaraan pariwisata tidak dapat berjalan dengan semestinya. Oleh karena itu, pengembangan pariwisata dianggap menjadi aspek yang sangat krusial dalam kepariwisataan. Upaya pemerintah dalam mengoptimalkan pengembangan pariwisata ditunjukan dengan menjadi fasilitator kebijakan pariwisata, salah satunya ialah pembentukan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional sebagai bentuk upaya pengembangan pariwisata di kawasan yang dianggap potensial dan layak untuk dikembangkan. Salah satu dari Kawasan Strategis Pariwisata Nasional dengan corak wisata religi tersebut ialah Komplek Percandian Muaro Jambi. Komplek percandian ini merupakan kompleks terluas di Pulau Sumatera dengan luas 3981 Hektar. Merupakan peninggalan dari 2 kerajaan yaitu kerajaan sriwijaya dan melayu kuno, terdiri dari 126 situs percandian dan pemukiman penduduk.. Bagaimanapun juga, pariwisata religi belum dikembangkan secara optimal dikarenakan masih dianggap isu sensitif dan kurangnya data empiris untuk menjadi dasar pengembangannya. Oleh karena itu penting dilakukan penelitian terkait strategi pengembangan candi muaro jambi sebagai wisata religi demi keberlangsungan pariwisata yang menjaga keaslian dan kesucian