115 Sari Pediatri, Vol. 20, No. 2, Agustus 2018 Hiperbilirubinemia pada Neonatus >35 Minggu di Indonesia: Pemeriksaan dan Tatalaksana Terkini Rinawati Rohsiswatmo,* Radhian Amandito ** *Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, **Unit Perawatan Intensif Neonatus Rumah Sakit Pondok Indah – Pondok Indah Pada bayi baru lahir terjadi kenaikan fsiologis kadar bilirubin dan 60% bayi >35 minggu akan terlihat ikterik. Namun, 3%-5% dari kejadian ikterik tersebut tidaklah fsiologis dan berisiko untuk terjadinya kerusakan neurologis bahkan kematian. Sebagai pencegahan hiperbilirubinemia berat yang dapat menyebabkan kerusakan neurologis, pemeriksaan bilirubin telah menjadi rekomendasi universal bayi baru lahir yang terlihat kuning. Semakin tinggi perhatian klinisi untuk pencegahan kernikterus, semakin rendah insidensinya. Indonesia menghadapi masalah overtreatment di perkotaan, dan undertreatment di daerah terpencil. Masalah overtreatment ini dapat menyebabkan kecemasan ibu, waktu menyusui anak ke ibu berkurang, serta tidak memungkiri peningkatan biaya yang harus ditanggung. American Academy of Pediatrics (AAP) telah menyusun algoritma dan kurva untuk menyesuaikan tata laksana bayi baru lahir dengan hiperbilirubinemia. Kurva ini mengarahkan klinisi untuk melakukan pengukuran kadar bilirubin dengan cara yang memungkinkan untuk masing-masing fasilitas kesehatan. Pada kenyataannya, masih ada fasilitas kesehatan yang belum memiliki sarana yang memadai untuk pemeriksaan kadar bilirubin maupun terapi sinar. Saat ini ditemukan beberapa penemuan baru, seperti Bilistick, sebagai alat pemeriksaan bilirubin yang kurang invasif dan penggunaan flter atau flm untuk menangani hiperbilirubinemia ringan dengan sinar matahari. Penemuan baru inilah yang diharapkan dapat membantu negara berkembang, seperti Indonesia dan lainnya, dalam tata laksana hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir. Sari Pediatri 2018;20(2):115-22 Kata kunci: bilistick, hiperbilirubinemia, neonatus, fototerapi, bilirubin transkutan Hyperbilirubinemia in Indonesian Neonates >35 Weeks Gestation: Current Updates in Examination and Treatment Rinawati Rohsiswatmo,* Radhian Amandito ** In newborns, there is a physiologic increase in bilirubin levels, and about 60% of >35 weeks babies will be seen jaundice. However, 3-5% of the jaundice is caused by physiologic etiology and are at risk for bilirubin-induced neurological dysfunction (BIND) and even death. To prevent severe hyperbilirubinemia that leads to BIND, bilirubin screening is a universal recommendation for all jaundice newborns. Te higher the clinician’s concern and attention towards the risk of kernicterus, the lower the incidence will be. Indonesia is facing overtreatment problems in major cities and under treatment problems in remote areas. Tis overtreatment problem, in addition to the efects of phototherapy, it also causes mothers to be concerned about their babies, reduces breastfeeding time, as well as pointlessly increasing the cost of treatment. American Academy of Pediatrics (AAP) has released an algorithm and standard deviation curve for the treatment of hyperbilirubinemia. Tis algorithm requires clinicians to measure the level of bilirubin by means of each health facilities’ capability. In reality, there are still health centers which lack the facility for bilirubin examination and phototherapy. In recent years, there are new developments for alternatives to mitigating this problem, including Bilistick for minimally invasive bilirubin measurement, and the use of flm or flter to utilize indirect sunlight as an alternative for mild hyperbilirubinemia. Tese breakthroughs will help Indonesia and other developing countries as a solution for current and future hyperbilirubinemia-related problems in newborns. Sari Pediatri 2018;20(2):115-22 Keywords: bilistick, hyperbilirubinemia, neonates, phototherapy, transcutaneous bilirubin Alamat korespondensi: Rinawati Rohsiswatmo. Departemen Kesehatan Anak, FKUI-RSCM. Jl. Pangeran Diponegoro No. 71, DKI Jakarta 10430. E-mail: rinarohsis@gmail.com.